Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Posts Tagged ‘zen

The Zen of Python [by Chris Miller]

leave a comment »

 

 

    Beautiful is better than ugly.

    Explicit is better than implicit.

    Simple is better than complex.

    Complex is better than complicated.

    Flat is better than nested.

    Sparse is better than dense.

    Readability counts.

    Special cases aren’t special enough to break the rules.

    Although practicality beats purity.

    Errors should never pass silently.

    Unless explicitly silenced.

    In the face of ambiguity, refuse the temptation to guess.

    There should be one– and preferably only one –obvious way to do it.

    Although that way may not be obvious at first unless you’re Dutch.

    Now is better than never.

    Although never is often better than *right* now.

    If the implementation is hard to explain, it’s a bad idea.

    If the implementation is easy to explain, it may be a good idea.

    Namespaces are one honking great idea — let’s do more of those!

 

 

Podcast, part 1 [click to play]

Podcast, part 2 [click to play]

 

From Python Import Podcast web site

 

Written by sunupradana

September 9, 2011 at 1:46 pm

Posted in Komputer

Tagged with , ,

Blessing In Disguise (via Iseng nulis)

leave a comment »

Dalam sebuah e-mail dari teman pernah ada kisah sepasang suami-istri dan anaknya. Ceritanya kira-kira begini. Adalah sepasang suami-istri yang sudah lama tidak mempunyai anak. Suatu hari sang istri ternyata hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Semua tetangga mengatakan mereka adalah pasangan yang beruntung. Anaknya laki-laki lagi. Kalau nanti sudah dewasa, bukankah dia bisa bekerja keras dan merawat orang tuanya? Sungguh  beruntung merek … Read More

via Iseng nulis

Written by sunupradana

June 9, 2011 at 1:08 am

Posted in Life, Sisi ringan, Sosial

Tagged with , , , ,

Bapak, anak dan keledai

leave a comment »

Ada seorang bapak yang sedang berjalan bersama anak lelakinya, bersama mereka turut serta pula seekor keledai ketika mereka melewati sekelompok orang terdengar oleh mereka ada yang berkata, “sungguh bodoh bapak itu mempunyai keledai tapi tidak di tunggangi” mendengar komentar itu, sang bapak lantas menyuruh anaknya untuk menaiki keledai tersebut,sedangkan sang bapak berjalaan di sampingnya.

Mereka pun berjalan kembali,ketika tiba di tengah sekelompok orang mereka pun mendengar salah satu dari orang tersebut berkata ”anak tidak punya sopan santun,dia naik keledai sementara sang bapak berjalan” mendengar hal itu sang bapak meminta agar sang anak turun dari keledai,dan berkata pada anaknya “nak sekarang yang naik keledai bapak ya, kamu yang berjalan.”

Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan, hingga tiba di tengah sekelompok orang dan mendengar komentar yang di ucapkan oleh salah satu dari orang tersebut ”wah. … sungguh bapak tidak punya rasa kasihan dia menaiki keledai sementara sang anak di suruhnya berjalan”. Demi mendengar hal tersebut sang bapak turun, dan berunding dengan anaknya “ya sudah sekarang mari kita naiki saja keledai ini bersama-sama.”

Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dengan menaiki keledai tersebut bersama-sama, tentu saja keledai itu berjalan terseok-seok demi menahan beban yang demikian berat.

Sampailah mereka di sebuah pasar,mereka terkejut karena menyaksikan orang-orang di sana menatap dengan rasa heran pada mereka,terdengar oleh mereka ada yang berbisik “sungguh bapak dan anak yang tidak punya rasa belas kasihan keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang!” terkejut oleh komentar seperti itu mereka lalu memutuskan untuk memikul si keledai dan “ha…ha…ha. ..keledai masih hidup…dan sehat kok di pikul? seperti kurang kerjaan”, timpal orang yang lain.

Kisah masyhur ini sebenarnya inspirasi untuk latihan menulis saya yang akan datang, tapi baiklah diajukan sebagai pembuka blog yang baru ini :-). Kalau tulisan yang akan datang bisa terwujud, rencananya akan membahas tentang negative feedback, positive feedback dan noise. Tentang bagaimana umpan balik itu penting tetapi jika berisi sejumlah besar noise maka umumnya harus ditapis (filtered) terlebih dahulu.

Kisah orang dan keledai ini adalah contoh klasik dari umpan balik (feedback) yang tergolong derau (noise). 😀

Sumber kopi :
http://epphyarista.wordpress.com/2010/08/16/kisah-seekor-keledai-dan-pemiliknya/

Written by sunupradana

June 8, 2011 at 11:33 pm

Posted in Filsafat, Life, Sisi ringan, Sosial

Tagged with , ,