Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Posts Tagged ‘internet

Sistematis

with 6 comments

Lama juga tidak menulis di blog … 🙂

Suatu masa saat masih belajar di kota Malang, suatu kawan pernah bercerita tentang proses reparasi televisi. Suatu yang teramat biasa bagi banyak pelajar STM (SMK), tapi sesuatu yang asing untuk mantan pelajar SMA seperti saya. Apalagi tidak ada kebutuhan kerja yang memaksa, jadilah saya sebagai awam.

Intinya kawan saya itu bercerita bahwa dalam praktiknya, biasanya, tukang reparasi seperti “hafal” penyakit dari masing-masing merek dan tipe. Ada beberapa komponen yang menjadi “tersangka utama”, diurutkan berdasarkan “lekelihood”. Dimulai dari komponen mana yang paling sering menjadi sumber masalah.

Cara seperti itu sering dipakai karena “paling efisien”. Mungkin dekat-dekat prinsip Pareto, 80/20. Menghasilkan uang paling cepat.

Dengan prinsip yang sama konon untuk zaman sekarang banyak tikang reparasi yang lebih memilih untuk mengganti “mesin tv”-nya sekalian (PCB dari TV). Hemat waktu dan mendatangkan banyak untung, karena toh bayak orang bekerja dengan cara itu. Apalagi konon sistemnya pun semakin kompleks, tidak seperti dulu.

Cara serupa ini saya anggap sama dengan “patching” pada software. Konon dulu web server Apache, diolok-olok sebagai a patchey, karena memang dibangun dari kumpulan patch untuk server. Dalam bahasa lain ini solusi tambal sulam. Efektif dan menguntungkan, sampai batas tertentu. Lalu mencelakakan untuk proses tertentu.

Kalau seadainya saya yang mengerjakan perbaikan TV zaman itu, saya mungkin akan mengikuti ajaran para dosen. Dimulai dulu dari kabel listrik, ada gangguan atau tidak. Lalu bagian suplai daya di dalam TV. Begitu seterusnya, bagian-per-bagian. Ini cara yang sistematis. Dengan cara inilah iptek sesungguhnya dikembangkan.

Pertanyaannya kalau memang cara sistematis adalah cara yang lebih baik, mengapa bukan cara ini yang dipakai untuk melakukan reparasi? Jawabannya (bisa jadi) sederhana. Karena justru tidak menguntungkan. 😀

Ambil contoh pada para tukang reparasi tv. Jelas tidak masuk akal kalau mereka menghabiskan waktu dengan menggunakan cara yang sistematis, jika dengan cara patchy saja mereka sudah bisa menyelesaikan sebagian besar masalah. Perkecualiannya mungkin sangat sedikit dan itupun bisa jadi akan ditanggung oleh konsumen, entah bagaimana caranya :-D. Bisa juga “rugi sesaat” ditanggung tukang reparasi, tetapi dalam jangka panjang cara ini masih mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Nah kalau cara “tambal-sulam”, patchy, itu memang baik dan menguntungkan, buat apa mengerjakan dengan sistematis?
Mengapa sains dan teknologi (karenanya juga engineering) malah dikerjakan dengan sistematis?

Itu pertanyaan jutaan dolar :-D. Untuk singkatnya, jelas karena tidak semua proses bisa diselesaikan dengan tambal sulam. Apalagi kalau memang prosesnya perlu pembangunan dan pengembangan bertahap. Tidak semua proses adalah proses “makelaran”, dagang memindahkan barang, asal cepat uang dapat, selesai. Bahkan proses “perusahaan dagang”, makelar semacam Amazon (atau Tokopedia di Indonesia), malah prosesnya amat rumit. Itu sistem yang dibangun apik, diusahakan benar untuk tertata rapi. Sistematis, bukan sporadis.

Sains dibangun dengan sistematis, harus jelas dulu, adanya pengakuan hubungan sebab-akibat. Kalau alam semesta hanya bergantung pada mood para dewa, akan menjadi teramat sulit untuk dipelajari. Jauh lebih sulit dari tingkat kesulitan sekarang yang sudah sulit (nah lo). Untuk itu diasumsikan ada aturan dasar yang mengoperasikan alam semesta. Sebab kalau acak, sangat sedikit yang bisa dipelajari dan dirumuskan. Bayangkan misalnya, seringkali tiba-tiba tubuh manusia melayang tinggi di udara di jalan raya. Pesawat terbang sering secara acak tiba-tiba jatuh terhempas. Apa yang bisa dirumuskan? Bahkan nenek moyang saja dulu mencoba sangat keras untuk memahami pola. Ada musim melaut, musim tanam dan sebagainya.

Saat sudah mentok dan tidak punya penjelasan yang baik dan bisa teruji sebagai prediksi ke depan, mereka merasionalisasikan dengan dewa-dewa yang murka atau “penunggu” yang usil atau marah. Bagaimana pun mereka sadar akan adanya suatu pola. Jika tidak mengikuti pola, maka pasti ada penyebabnya.

PENDIDIKAN

Mengikuti sains, IMHO pendidikan juga begitu. Tidaklah benar kalau terus-menerus menggunakan tambal sulam. Ini berpotensi senang sesaat sengsara kemudian.

Salah satu kemudahan semua yang mau belajar saat ini adalah tersedianya sumber informasi (bahkan data mentah) secara (relatif) berlimpah. Misalnya banyak contoh program (kode bahkan dengan diagram alir) banyak tersedia di berbagai situs di Internet.
 
Di satu sisi ini adalah “fasilitas” yang mempermudah dan memperkuat proses belajar. Mengingat sedari bayi, proses alamiah belajar adalah dengan adanya fase meniru dan mencontoh. 

Tapi di sisi lain, seperti obat yang sebenarnya merupakan racun, maka tersedianya banyak sumber belajar ini malah bisa merusak proses belajar itu sendiri. Tentu yang dimaksud adalah belajar dengan benar.

Di Swedia konon ada namanya Missionary Church of Kopimism. Agama yang diakui resmi oleh negara, yang isinya adalah pengakuan dan penguagungan terhadap copy-paste. :-D. Tidaklah jelek pada sendirinya, hanya dosisnya yang perlu diperhatikan.

Copy-paste adalah salah satu bentuk dari proses meniru/mencontoh. Alamiah dan tentu bagus. Belajar pengenalan pola dapat dilakukan dengan lebih efisien dengan mempelajari kode orang lain, lalu mengutak-atiknya untuk mempelajari hubungan sebab dan akibat. Syaratnya…pertama ada dasar pemahaman yang cukup dan kedua tidak berhenti sampai di situ saja.

Yang pertama yang paling debatable, ada yang sederhananya memilih untuk menyuruh “nyemplung dulu” untuk belajar berenang. Di ekstrim sisi ini adalah swim-or-sink, berenang atau mati tenggelam. Ada juga yang memilih untuk memberikan bekal cukup terlebih dahulu baru kemudian diajar untuk praktik.

Kalau saya, ini situasional. Tergantung pada beberapa faktor. Misalnya tergantung dari tingkat bahaya, bidang, waktu, tujuan jangka panjang dst. Walaupun berdasarkan bidang dan bahkan efisiensi, saya biasanya lebih cenderung cara yang kedua. Sistematis dengan diselang-seling beberapa “fase dilepas untuk bingung” yang berguna untuk merangsang aktifitas berpikir dan inisiatif. Tapi tentu saja kebingungan itu harus punya “dosis yang terukur”, disengaja dan bukan karena berangkat dari pemikiran yang asal-asalan.

Yang benar celaka jika proses copy-paste terhenti hanya sebagai kegiatan mencontek sesaat. Sekedar untuk mengatasi masalah tugas. Ini jelas bukan proses pendidikan yang baik.

Tetapi memang keseluruhan proses ini hanya bisa baik kalau semua yang terlibat mau berproses dengan baik. Yang di satu sisi tidak memang berniat asal beri dan yang di sisi lain juga berniat asal terima. Dan penting untuk tidak melompat terlalu jauh.

Karena sy bukanlah orang yang sangat pandai, saya paham betapa sakitnya untuk terus menerus harus “melompat-lompat”. Karena itu saya biasa menyusun resep dengan sistematis, terukur dengan kemampuan siswa. Modalnya cuma kemauan untuk bekerja (belajar) dengan sangat keras.

Saya sadar benar, bahwa bagaimana siswa bisa belajar dengan sistematis jika fondasinya goyah. Tiang-tiangnya bergoyang terus menerus. Tidak akan efisien. IMHO, jika terpaksa, lebih baik memperkuat fondasi atau bahkan membongkarnya daripada membangun istana pasir.

Jadi prosos copy-paste kode program dan rangkaian yang menjadi ritual tanpa tindak lanjut upaya belajar memahami, menurut saya adalah contoh aktivitas berbahaya dari “seremoni” belajar. Kita akan menghasilkan tenaga-tenaga instan yang tidak pernah berupaya paham dasar operasi apalagi philosophy-nya.

Dan saya sangat percaya pola pikir ini tidak akan berhenti hanya pada pelajaran dan bahkan bidang ilmunya saja. Juga akan merembet ke aspek kehidupan lainnya. Jika dibiarkan terus, akan jadi kaum yang mengabaikan sebab-akibat alamiah. Mengandalkan penjelasan mood para dewa untuk segala sesuatu yang terjadi di alam.

BELANDA BELUM MATI
Salah satu ungkapan yang paling saya senangi adalah: “God created the earth, but the Dutch created the Netherlands.” Ungkapan yang konyol tetapi punya makna dan pelajaran yang baik.

Belanda itu negeri yang sebagian wilayahnya amat rendah, bahkan konon di bawah permukaan laut. Mungkin itu salah satu faktor pendorong londo kae, niat mencari daerah baru untuk profit lalu untuk dijajah. Mirip Jepang yang juga alamnya keras. Tapi keterbatasan itu disikapi dengan cara-cara yang sistematis. Tidak perlu sampai meminjam dewa-dewa tetangga seperti Odin atau Thor.

Dari kincir angin untuk mengeringkan lahan sampai bendungan dam pencegah banjir. Dengan kerja keras dan upaya yang sistematis, mereka sekarang menjadi salah satu yang paling ahili di dunia. Dari sekumpulan masalah besar, banjir dan ancaman tenggelam, menjadi keunggulan. Dengan kepala, tangan dan kaki mereka sendiri. Kesalahan berulang kali yang diperhatikan dan menjadi pelajaran kolektif

AFAIK, berawal dari kesediaan menerima sebab-akibat di alam semesta. Asumsi adanya aturan yang menjadi program dasar semesta. Keterbukaan pikiran, meminta bukti dan tidak mudah percaya. Senang mencoba, bereksperimen dan bersedia menerima akan ada terjadinya sejumlah besar kesalahan bahkan ketersesatan. Dari situ upaya sistematis bisa dilakukan.

Jika tidak, maka pola tambal-sulam, patchy, yang akan selalu menjadi andalan. Semata karena candu nikmat sesaat. Mungkin tidak adakan segera terasa, tapi kita akan semakin jauh tertinggal. Sampai suatu hari kita hanya bisa kaget dan kagum, bagimana mereka bisa melakukannya? Padahal seperti kita (kalau mau), mereka melakukannya sedikit-demi-sedikit, sistematis.

Saya merasakan benar sakitnya “hanya bisa kagum”, dan sengsaranya mengejar ketinggalan. Semoga generasi baru bisa mengambil pelajaran pentingnya berproses dengan sistematis. Jual cepat tidak selalu solusi. Dan memang kita perlu napas panjang untuk bisa begitu. Itulah salah satunya fungsi suatu admnistrasi di suatu daerah dan negara. Tapi kalau mereka terus memilih untuk memampukan yang salah…ya sudahlah. Selamatkan diri kalian masing-masing, persiapkan diri sebaik-baiknya selagi muda. Lalu pergilah ke tanah yang menjanjikan perjuangan amat keras yang memberi hasil sepadan. Kalau percaya bahwa hidup hanya satu kali.

Sistematis adalah segala usaha untuk meguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya [1]

Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistematis

v01

Advertisements

Written by sunupradana

December 4, 2014 at 1:02 pm

Digital Literacy, Part I (search engine)

leave a comment »

Written by sunupradana

September 26, 2014 at 6:33 pm

Kartu Smartfren 64K

leave a comment »

Ada pendapat yang menyatakan bahwa perbedaan antara kartu 32k dengan 64k hanyalah pada kapasitas memori, terutama seberapa nomor kontak bisa disimpan di dalamnya. Ada yang menyatakan bahwa tidak hanya berbeda di kapasitas nomor kontak saja tapi juga berpengaruh pada kecepatan akses. Jika hendak menelusuri masing-masing pendapat, silahkan langsung menuju bagian link dan menelusuri satu-satu :-).

Tanpa perlu perdebatan panjang, baik menurut sumber-sumber pembahasan teknis di Internet, pengalaman para pengguna maupun pengalaman saya sendiri setuju bahwa kecepatan akses dan transfet data Internet itu bergantung pada banyak hal, titik. Hanya karena jenis/fisik kartu diganti tidak berarti kecepatan transfer pasti akan berubah. Setidaknya transfer bergantung pada lokasi kita (cakupan jaringan), seberapa banyak orang/perangkat yang mengakses pada saat bersamaan, tipe paket data kita, kondisi perangkat & cuaca.

Secara kualitatif untuk rentang saat yang pendek, saya merasa bahwa kecepatan akses di dua modem saya mengalami perbaikan/peningkatan untuk jam akses yang sama setelah kartu Smartfren saya tukar dari 32k ke 64k. Kesimpulan ini tentu sementara sebab tanpa ratusan jam akses di banyak tempat di berbagai cuaca dengan berbagai perangkat maka kesimpulan ini prematur 🙂 Tentu saja bagi mereka yang ingin fokus meneliti, silahkan saja melakukannya. Saya sendiri akan mengupdate seiring waktu, so far so good.

Untuk menukar kartu Smartfren 32 k ke 64 k, cukup datang ke kantor pelayanan Smartfren. Di Jogja (Yogyakarta) saya datang ke Amplaz (Ambarukmo Plaza) untuk melakukan penukaran. Biaya penggantian sebesar lima ribu rupiah per kartu dan perlu membawa kartu identitas (misal KTP/SIM) untuk mereka foto copy. Kemudahan ini sangat membantu karena paket data Smartfren cenderung murah dan cukup lancar bila dibanding yang lain. Mungkin pengecualiannya adalah paket kenyang download dari 3 (Tri / Three). Jadi untuk skenario penggunaan, bisa jadi diperlukan paket data dan kartu/operator yang berbeda.

Silahkan klik pada gambar untuk memperbesar (dengan membuka tab/halaman baru).

ZTE AC2726Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Updates:

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

 

Links:

+Apa bedanya kartu smartfren 32k sma 64k

+http://semapoet.blogspot.com/2012/08/apa-bedanya-kartu-smartfren-32k-sma-64k.html

+Mengenal dan Memilih Jenis-jenis Kartu SP Smartfren

+https://twitter.com/smartfrenworld/statuses/228343072436670464

+https://twitter.com/smartfrenworld/statuses/201532261697466368

+http://hp-cdma.blogspot.com/2012/05/smartfren-e781a-unlock-guide.html

+http://www.ehow.com/info_12168797_64-k-sim-card-vs-128-k-sim.html

+http://www.indiabroadband.net/bsnl-3g/35875-3g-speed-depend-sim.html

+http://www.askmefast.com/…which_sim_is_better_for_accessing_3g…html

+http://www.thinkdigit.com/forum/broadband-dth/161229-my-old-sim-android-doesnt-go-3g…html

Written by sunupradana

June 29, 2013 at 2:56 am

Selamat tinggal Google Reader

leave a comment »

Konon tiada pesta yang tidak akan usai. Sebaik apapun suatu produk komersial dari segi teknis, jika tidak menghasilkan cukup keuntungan maka akan berpotensi untuk dihentikan keberlangsungannya. Mungkin itu yang akan dialami oleh Google Reader, suatu aplikasi pengumpulan berita yang berbasis RSS.

Dunia terus bergerak, terus berubah walaupun kadang bergerak dalam lingkaran :-). Berikut sekelumit kenangan dengan Google Reader.

 

Sebentar lagi “pesta” akan resmi berakhir.

 

Kumpul-kumpul dalam satu “keranjang” yang tertata rapi.

 

Karena jatah waktu harus dibagi-bagi untuk aktifitas yang lain.

 

Links:

http://www.google.com/reader/view/

http://en.wikipedia.org/wiki/Google_Reader

http://lifehacker.com/google-reader-is-shutting-down-here-are-the-best-alter-5990456

http://gizmodo.com/10-google-reader-alternatives-that-will-ease-your-rss-p-5990540

http://techcrunch.com/2013/06/24/there-is-no-google-reader-replacement-only-alternatives/

Written by sunupradana

June 26, 2013 at 11:51 pm

Mempermudah hidup dengan memanfaatkan GPS di telepon genggam, ini caranya

leave a comment »

Mungkin anda pernah merasakan bagaimana tantangan untuk memberi tahu suatu lokasi kepada orang yang belum pernah menelusuri kawasan yang anda beritahukan kepadanya. Sebaliknya mungkin juga anda pernah mengalami kesulitan untuk memahami petunjuk arah yang diberikan orang lain kepada anda. Dengan sains dan teknologi (juga mekanisme ekonomi) kesulitan semacam itu bisa sebagian dikurangi. Cara yang paling umum sekarang adalah dengan memanfaatkan GPS (Global Positioning System).

Lima tahun belakangan ini, konon, penetrasi pasar untuk telepon genggam begitu kuat. Bukan hanya hape (telepon genggam) dengan brand China atau lokal saja tapi juga kelas hape mahal semacam Blackberry dan iPhone. Dengan semakin banyaknya orang yang memiliki smartphone maka seharusnya banyak kegiatan dalam kehidupan yang sudah terbantu, termasuk soal “mencari alamat”. Sayang kan kalau punya smartphone/tablet/phablet mahal tapi hanya buat nelpon dan sms, sementara orang lain ngiler pengen punya :-). Perangkat berteknologi tinggi ini punya potensi jauh lebih besar daipada sekedar hanya dijadikan asesoris penampilan, layaknya baju atau sepatu 😀

Melalui artikel ini saya ingin berbagi cerita sedikit apa yang pernah saya alami tentang hal ihwal mencari alamat / lokasi. Saya menyampaikannya dalam bahasa yang saya pahami yaitu bahasa sederhana, semoga juga menjadi jelas bagi pembaca lainnya. Selalu ada saat pertama untuk segalannya.

 

A. Dengan laptop/notebook/laptop/PC

Mencari alamat/lokasi tidak selalu harus dimulai dengan komputer PC atau laptop dan sejenisnya, tapi saya kadang melakukannya. Alasannya sederhana komputer jenis ini umumnya lebih memiliki kemampuan prosesing dan memori yang lebih besar dari perangkat portabel lainnya, walau tentu tidak selalu. Dengan prosesor, memori, layar yang lebih besar dan koneksi Internet yang lumayan baik saya akan lebih mudah dan cepat untuk memperoleh alamat/lokasi yang saya inginkan.

Skenario paling umum adalah saya tidak memiliki informasi yang spesifik tentang tempat yang saya tuju. Misalnya saya ingin mencari toko-toko olahraga yang mungkin menjual barang yang saya perlukan. Skenario lain lagi misalnya saya hanya mengetahui nama sekolahnya, tapi tidak mengetahui info lainnya.

+Google.com, Bing.com
Keduanya adalah dua mesin pencari paling umum yang diduking oleh dua perusahaan besar, Google dan Microsoft. Mesin pencari seperti ini jarang saya gunakan kecuali informasi tentang tempat yang saya tuju sangat minim.

+Wikimapia.org

Kalau anda pernah menggunakan Google Maps, maka situs Wikimapia akan terasa sangat familiar. Sederhananya, Wikimapia adalah Google Maps dengan tags (dalam jumlah yang massive). Anda bahkan mungkin sekali menemukan tag yang serupa dengan “Rumah Bude Tini” :-). Karena itu jika tempat yang anda cari bisa dikatakan cukup dikenal, maka kemungkinan besar akan ada orang yang sudah men-tag di sana.

Link>> Wikimapia

Di situs Wikimapia kita bisa memilih beberapa overlay peta, semisal dari Google, dari Bing atau dari OpenStreetMap. Secara umum peta yang menggunakan foto satelit akan terasa lebih berat dan lama untuk loading.

Pada contoh ini dengan menggunakan kata kunci Muhammadiyah, saya memperoleh beberapa kemungkinan tempat. Selanjutnya saya menggunakan kantor DPP Muhammadiyah sebagai tempat yang akan dituju.

Keterangan lebih lengkap bisa didapat jika kita mengklik lokasi pada peta. Untuk contoh ini kita bisa memperoleh alamat jalan dan titik koordinat dari kantor DPP Muhammadiyah. Pada overlay peta kita juga bebas memilih (klik) lokasi-lokasi lain yang telah ditandai (biasanya berwarna kuning) untuk mendapatkan informasi mengenai tempat/lokasi itu.

 

Wikimapia bisa diakses di telepon genggam melalui browser (contohnya Dolphin). Jika anda izinkan Wikimapia dengan bantuan GPS akan memberitahukan posisi anda di peta.

 

+Foursquare.com
Tidak ada Yelp, tidak masalah. Lebih sering anda menemukan tempat yang anda cari, semisal warung & restoran vegetarian yang enak melalui Foursquare. Situs yang dilengkapi aplikasi ini (anda bisa mencarinya di Google Play) mengandalkan para mengguna sebagai agen mata-mata. Karena itu akan lebih banyak kemungkinan tempat yang anda cari sudah pernah ditag (ditandai) di situs ini. Link >> Foursquare

Contoh, mencari warung vegeratian di Jogja

+Google Map

Tidak banyak yang bisa diungkapkan lebih lanjut tentang situs ini. Google merevolusi penggunaan peta digital secara massive dan online melalui situs ini. Dengan manggunakan bantuan layer anda akan memperoleh informasi lebih banyak. Tapi paling tidak anda akan dengan mudah menemui lokasi hotel, rumah sakit dan tempat-tempat yang sudah terkenal (diketahui banyak orang selain anda, hehehe).

Link >> Google Maps

Google Maps Labs (silahkan mencari dengan Google untuk info lebih jauh)

 

Jika anda mengaktifkan Google Maps Labs, anda bisa mengaktifkan beberapa fasilitas seperti LatLng Tooltip dan LatLng Marker. Misalnya anda bisa mendapatkan data mengenai koordinat dengan Drop LatLng Marker.

 

Dalam contoh ini saya ingin mengetahui koordinat Tugu Jogja. Sebaliknya, jika kita memperoleh titik koordinat maka untuk mencari lokasi titik itu di peta kita bisa langsung memasukkannya ke search box (kotak masukkan untuk mencari) Google Maps seperti layaknya kita biasa mencari informasi melalui mesin pencari Google .

 

Pada contoh ini saya menggunakan pilihan fasilitas “What’s here?” dan karena saya mengaktifkan LatLng Tooltip pada Maps Labs, saya bisa memperoleh koordinat sebagai tooltip.

 

Klik pada panah hijau akan memberikan koordinat dalam dua format yang bebas dipilih untuk dipergunakan. Dari sini kita bisa memilih untuk menyimpan titik koordinat ini dengan memilih “Save to map”.

 

Jika kita memiliki beberapa peta, kita bisa memilih ke peta yang mana titik koordinat ini akan disimpan.

 

Titik koordinat sudah saya simpan di salah satu peta yang saya buat sebelumnya. Nama lokasi sudah saya ganti dari titik koordinat menjadi Tugu Jogja.

 

Tempat-tempat yang cukup dikenal biasanya sudah ada secara default di Google Maps

 

+Beberapa situs lain seperti http://www.openstreetmap.org/, http://www.trackpacking.com/, http://oust.me/

Sebagai catatan hampir semua situs di atas dapat diakses dari perangkat mobile, hanya saja harus dilengkapi dengan modal sabar 🙂

B. Aplikasi Android

Beberapa aplikasi GPS di Android

+Google Maps
Aplikasi ini sebetulnya memerlukan koneksi ke Internet untuk beroperasi dengan baik dan lancar, terutama jika anda bernavigasi untuk jarak yang jauh. Koneksi ke Intertnet diperlukan karena berbeda dengan app semacam OsmAnd, Google Maps mengunduh peta secara reguler, lagi pula tak semua wilayah bisa disimpan secara offline (silahkan coba). Hanya saja saya menemukan kadang untuk level zoom yang sama sisa peta sebelumnya yang dipergunakan (cached) masih bisa dipakai walau tak terkoneksi ke Internet.

Google Maps dari telepon genggam. Untuk contoh ini masih bisa dipergunakan walaupun tidak terhubung ke Internet. Barangkali karena masih ada data peta yang tersimpat (cached).

Masih bisa berfungsi, untuk contoh ini, walau sudah di-zoom dan tidak terkoneksi ke Internet.

 

+Waze
Ini aplikasi yang perusahaannya cukup membuat heboh setelah dibeli oleh Google. Jadi anda bisa yakin ini aplikasi GPS yang “serius”. Hal yang menarik dari Waze adalah karena filosofi Waze berbasis pada input dari komunitas penggunanya. Misalnya pengguna bisa melaporkan (memberi tanda pada peta) adanya kemacetan atau lakalantas. Hal paling sederhana yang saya sukai dari Waze adalah karena walapun handset dalam keadaan standby (layar gelap) tampaknya Waze tetap memelihara GPS locking sehingga posisi saat terakhir akan langsung diketahui. Berbeda dengan OsmAnd misalnya, yang perlu beberapa detik untuk kembali mengunci posisi terakhir jika handset sempat berada dalam keadaan standby.

Download dari Google Play: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.waze

Screenshot lokasi saya (real-time).

Aplikasi GPS Waze memungkinkan kita saling berbagi mengenai segala hal yang berkaitan dengan navigasi dan berkendara di jalan.

Ini contoh bagaimana saya bisa mengetahui bahwa seorang pengguna melaporkan adanya kemacetan lalu lintas yang berjarak sekitar 4.7 Km dari tempat saya saat itu berada.

Waze bisa digunakan secara offline (tanpa terkoneksi Internet), tetapi jika kita online kita bisa melaporkan berbagai hal mengenai navigasi, kondisi jalan dan peta.

Walau secara penuh bisa kita pergunakan dalam kondisi offline, kita perlu terhubung ke Internet (lewat 3G/GPRS/WiFi) jika ingin melaporkan sesuatu.

POI. Mencari berbagai tempat yang umum dan penting tidak lagi sulit 🙂

Kita bisa menandai dan menyimpan banyak lokasi sebagai favorites.

 

+OsmAnd
Aplikasi OsmAnd berbasis pada peta offline dari OpenStreetMap. Aplikasi OsmAnd adalah aplikasi yang paling gampang untuk mengetahui titik koordinat secara manual, terutama bia dibandingkan dengan aplikasi Waze. Untuk lebih lanjut tentang OsmAnd saya telah mencoba membuat artikel di sini: https://pikirsa.wordpress.com/2013/06/23/menggunakan-gps-dengan-osmand/

Tampilan muka

Untuk download app dari Google Play: https://play.google.com/store/apps/details?id=net.osmand

C. Lain-lain

Salah satu permasalahan dengan GPS adalah soal akurasinya. Kalau sedang beruntung dengan peralatan dan cuaca yang baik saya bisa mendapatkan akurasi sekitar 5~3 meter walaupun dengan telepon genggam yang relatif murah, kelas pemula. Tetapi sering juga akurasi hanya bisa antara 30 meter sampai 20 meter. Terutama jika menggunakan hape brand lokal yang segmen relatif murah meriah. Karena itu sebagai antisipasi, jika anda menerima koordinat dari orang lain ada baiknya meminta sedikit info tambahan. Misalnya nama gang, warna cat pagar atau tembok, dst.

Sesekali kita mungkin perlu melakukan konversi dari satu format koordinat ke format yang lain. Untuk mudahnya kita bisa memanfaatkan situs-situs yang bisa membantu kita melakukan  konversi secara online. Misalnya:

http://transition.fcc.gov/mb/audio/bickel/DDDMMSS-decimal.html

http://boulter.com/gps/

http://www.earthpoint.us/Convert.aspx

Demikianlah, sekarang ini dengan peralatan telepon genggam yang memadai kita bisa mengirim/menerima koordinat seperti layaknya kita bisa (biasa) mengirim kontak (nomor telepon seseorang) kepada orang/hape lain. Jadi alih-alih memberikan keterangan panjang lebar mengenai suatu tempat yang hendak dituju, kita bisa memberikan koordinat dan sedikit tambahan keterangan secukupnya. Koordinat bisa dikirim lewat sms atau email, dan jika yang mengirim dan yang menerima sama-sama memiliki aplikasi Waze/OsmAnd di peralatannya maka prosesnya akan lebih cepat. Penerima bisa langsung membuka link koordinat dengan aplikasi tersebut.

Tidak lagi ada alasan untuk tidak bisa memanfaatkan fasilitas GPS jika kita memang memilikinya di perangkat kita.  Teknologi itu satu hal, tapi kemauan untuk memperlajari bagaimana memanfaatkan teknologi itu satu hal yang lain. Memanfaatkan tentu perlu disesuaikan dengan keperluan kita.

Selamat bertukar koordinat, selamat menjelajah dan jangan lupa saling berbagi! 🙂

 

 

Links:

https://en.wikipedia.org/wiki/Global_Positioning_System

https://en.wikipedia.org/wiki/Satellite_navigation

https://en.wikipedia.org/wiki/Point_of_interest

http://www.waze.com/

http://osmand.net/

http://wiki.openstreetmap.org/wiki/OsmAnd

http://alternativeto.net/software/osmand/?platform=iphone

48% Pengguna Indonesia Buka Internet Lewat Ponsel

Cross Mobile Penetrasi Pasar Ponsel di KTI

Pabrik Foxconn Semakin Dekat

BlackBerry Z10 Dibanderol Rp 6,999 Juta

Penjualan Blackberry Z10 capai satu juta unit

Tantangan Berat Industri Seluler (di) Indonesia

Written by sunupradana

June 24, 2013 at 9:14 am

Terhubung dengan Tri tetapi gagal browsing [solved]

leave a comment »

Hukum Murphy berlaku lagi…

Beberapa hari yang lalu saya mencoba menggunakan kembali paket data dari operator Tri mengingat merasa sayang jika sisa kuota tidak dimanfaatkan. Pilihan ini saya ambil daripada memperbaharui paket data dari operator lain. Saat itu saya kaget karena koneksi Internet saya lewat operator Tri (three) yang biasanya relatif cukup lancar tiba-tiba tidak lagi bisa dipergunakan tepat saat saya perlu mengakses Internet. Padahal saya tidak mengubah sedikit pun konfigurasi koneksi.

Gejala yang saya alami pun cukup unik (kalau tidak bisa dianggap aneh dari sisi pengguna). Saya bisa terhubung dengan jaringan Tri, tetapi saya tidak bisa mengakses situs-situs yang biasa saya kunjungi, bahkan situs Google dan Yahoo. Saya sudah mencoba dengan beberapa alat lain (modem+tab) dengan hasil yang sama yaitu gagal. Lucunya jika saya mencoba menggunakan kartu Tri ini di telepon genggam, yang melakukan auto-detect untuk konfigurasi GPRS, saya bisa mengakses halaman web di Internet. Jadi koneksi dengan GPRS bisa, koneksi dengan paket 3data tidak bisa.

Screenshot/screen capture konfigurasi koneksi USB modem di GNU/Linux Ubuntu

Editing konfigurasi koneksi di GNU/Linux Ubuntu

Konfigurasi di GNU/Linux Ubuntu

Terhubung ke Tri tetapi tidak bisa browsing web pages 🙂

Ping. DNS-nya ngambek…paketnya all lost

Screenshot dari traceroute

Dari pengalaman ini ada beberapa skenario langkah yang menurut saya bisa dilakukan.

1. Kalau anda (bisa) menggunakan telepon genggam atau modem anda bisa untuk sms/USSD, anda bisa memeriksa status paket data anda dengan mengirim sms INFO DATA ke 234 atau melakukan panggilan USSD *111#. Ini juga sekaligus memeriksa apakah anda dapat terlayani oleh BTS Tri (jaringan ok).

2. Kalau anda memiliki kartu lain yang aktif (semisal Telkomsel, Mentari, Axis) bisa dicoba pada modem/tablet untuk memastikan alat anda tidak rusak.

3. Kalau anda memiliki modem/tablet/telepone-genggam lain maka kartu Tri anda itu bisa dicoba untuk memastikan nomor, paket data dan koneksi jaringan memang tidak sedang bermasalah.

Jika tiga langkah sederhana dan logis itu sudah dilakukan dan belum ditemukan solusi maka saatnya untuk melapor ke Tri. Pilihannya ada dua, melapor ke kantor layanan Tri terdekat atau melapor ke kantor pusat Tri via email atau telepon. Untuk saya sendiri (berdasarkan sekelumit pengalaman) saya akan memilih lapor ke kantor Tri jika saya duga masalahnya tidak terlalu rumit secara teknis, jarak tempuh ke kantor itu tidak terlalu jauh, dan saya duga permasalahan itu bisa diselesaikan secara lokal oleh CS/TA Tri. Saya menggunakan email ke kantor pusat Tri jika permasalahan saya pikir & rasa tidak bisa cepat teratasi. Sebab bisa jadi permasalahannya bukan pada alat/nomor/jaringan lokal, dengan email bisa jadi rantai estafet informasi ke TA yang berkepentingan jadi lebih pendek (ini masih spekulasi saya).

Saya tidak bisa memastikan apa saja alat yang tersedia untuk uji coba di kantor Tri di tiap kota tetapi saya punya sedikit pengetahuan apa yang tersedia di kantor 3store Yogyakarta. Saya menyaksikan sendiri bahwa di kantor 3Store Yogyakarta di Jalan Cornel Simajuntak No.1&3 mereka memiliki beberapa alat standar sederhana yang bisa dipergunakan untuk pelacakan gangguan pada pelanggan. Mereka memilki telepon genggam, tablet samsung (dengan slot kartu GSM), modem USB, dan netbook.  Jadi ini tinggal tergantung pada CS (Customer Service) untuk sejauh mana mau melakukan percobaan untuk menentukan mengapa nomor/kartu/paket-data anda bermasalah. Kadang anda (menurut saya) perlu membiarkan CS untuk melakukan percobaan walau tidak sistematis, selama tidak terlalu merugikan anda. Saya maklum karena sebagaimana troubleshooter lainnya, CS terlatih/dibentuk untuk memiliki dugaan-dugaan tertentu berdasarkan pengalaman akan jenis error yang paling umum mereka temui. Langkah-langkah troubleshooting yang ikut pakem itu biasanya hanya di lingkungan akademis, karene bisa jadi bertele-tele :-).

Dalam kasus saya, akhirnya saya mendapat solusi di tangan CS yang bernama mbak Ira. Yang saya senang dan hargai adalah mbak Ira betul-betul mau mencoba segala kemungkinan untuk mencari mengapa koneksi Internet saya bermasalah. Mbak Ira mau bongkar pasang kartu dengan berbagai alat dengan berbagai konfigurasi hubungan dalam upaya menemukan apa yang bermasalah. Jadi, mbak Ira sebagai CS tidak hanya mengandalkan/menggunakan alat-alat yang saya bawa. Ini dedikasi seorang CS yang patut diapresiasi. Barangkali sialnya adalah karena menurut mbak Ira, kasus seperti saya ini jarang terjadi. Bahkan untuknya ini yang pertama, begitu pengakuannya. Setelah dua kali kartu saya diganti dengan tetap menggunakan nomor yang sama, sekarang koneksi saya dengan Tri (three) lancar jaya. Saya tak begitu paham persoalan sebenarnya di mana. Karena kalau hanya kartu yang rusak maka kartu yang baru (tetap 32K) seharusnya sudah bisa lancar. Kartu terakhir yang saya dapat sebagai ganti berkapasitas 64K dan sepertinya IP DNS yang saya dapat tak lagi sama dengan saat koneksi saya masih trouble.

Demikian, semoga pengalaman ini bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk masalah serupa.

Kalau perlu ke 3Store, kantor Tri Jogja:

Jl. Cornel Simajuntak No. 1&3, Yogyakarta
Jam Operasional:
Senin – Minggu : 09.00 – 19.00
Libur nasional tetap buka

 

Koordinat GPS:

-7° 46′ 57.84″, +110° 22′ 19.70″  ATAU  -7.782734, 110.372139

Lokasi 3Store Jogja

Lokasi 3Store Jogja (klik untuk memperbesar gambar)

http://tri.co.id/3store.php

Written by sunupradana

June 23, 2013 at 11:04 am

Akses BimaTri dan internet.tri.co.id dari jaringan operator lain

with 12 comments

Mungkin anda pernah mendengar atau bahkan sudah menggunakan aplikasi yang bernama BimaTri. Aplikasi ini memudahkan pengguna Tri (Three) untuk memonitor status paket data miliknya dan membeli paket data dari Tri. Info lanjut bisa diperoleh di situs bima.tri.co.id.

Saya menggunakan aplikasi BimaTri di hape (telepon genggam) Android dengan jaringan Tri. Tentu saja aplikasi ini akan otomatis memberikan informasi paket data yang saya miliki di nomor Tri yang saya pergunakan. Jika pengguna jaringan Tri yang memiliki paket data mengakses situs internet.tri.co.id maka juga akan langsung diarahkan ke halaman yang menampilkan informasi yang kita miliki.

Pertanyaannya kemudian adalah bagiamana jika kita ingin memperoleh informasi mengenai paket data yang kita miliki jika kita tidak sedang menggunakan jaringan Tri? Saya pernah mengalami masalah, saya bisa terhubung dengan jaringan Tri tetapi tidak bisa terhubung dengan Internet. Saya diberi IP publik tapi saya tidak bisa mengskses situs web manapun. Untuk kasus seperti ini memang tampaknya mencari informasi sisa kuota paket data dengan mengirim sms INFO DATA ke 234 adalah satu-satunya cara selain dengan cara melakukan panggilan USSD *111#.

USSD *111#

USSD *111#

SMS info data ke 234

Saya mencoba menelusuri cara lain mengambil analogi dari sistem informasi pelanggan milik Smartfren. Para pelanggan Smartfren bisa mengakses informsi paket data Internet miliknya dari jaringan operator telkom manapun di Indonesia asalkan sudah mengatur dengan benar userid dan password yang diperlukan untuk login. Misalnya, situs data.smartfren.com dapat diakses dari modem berkartu Tri. Kalau Smartfren bisa apa iya Tri tidak bisa? 🙂

Percaya atau tidak saya pernah bertanya secara langsung dan jawabannya adalah bahwa baik BimaTri maupun halaman info paket data di internet.tri.co.id hanya bisa diakses dari jaringan Tri (dari nomor telepon Tri). Awalnya saya percaya karena beberapa kali mencoba dari jaringan lain hasilnya selalu gagal. Ternyata saya gagal karena setting saya saja yang belum benar untuk akun saya di internet.tri.co.id.

Melalui artikel ini saya ingin menampilkan bukti bahwa baik BimaTri maupun info akun kita di internet.tri.co.id dapat diakses walaupun tidak menggunakan nomor/jaringan operator Tri. Tentu saja dengan asumsi bahwa setting akun kita sudah benar. Untuk setting awal akun, akseslah situs internet.tri.co.id dari jaringan Tri dan mengisi dengan benar alamat email yang akan kita pergaunakan untuk login (via web, app BimaTri menggunakan nomor Tri) serta password.

Satu hal yang masih misterius buat saya adalah mengapa hanya berhasil login dengan akun email Yahoo dan selalu gagal jika menggunakan alamat email dari Gmail. Padahal pergantian antar email selalu dilaporkan sukses. 🙂

Pengubahan alamat email yang akan dipergunakan untuk login

Aktifasi email di sistem Android

Keterngan bahwa email sudah berhasil diaktifkan

Login diperlukan karena anda TIDAK MENGGUNAKAN jaringan Tri. Artinya masih bisa dengan jaringan lain asal bisa mengisi no Tri dan password untuk login. Hanya saja, jika menggunakan jaringan selain Tri tiap kali anda harus mengisi info login.

halaman internet.tri.co.id dengan web browser Dolphin

Lanjutan, info sisa kuota data Internet

BimaTri diakses dari jaringan/kartu Telkomsel

Bukti, melalui jaringan operator Smartfren (wifi) atau Telkomsel, bukan Tri

Perlu bantuan lebih lanjut silahkan hubungi … 🙂

UPDATE:

Saya mengirim email ke 3care untuk menanyakan bagaimana pernyataan pihak Tri (Three) sebenarnya mengenai login dari jaringan lain dan mengapa saya bisa login dengan akun email Yahoo tetapi gagal login jika saya mengubahnya menjadi akun Gmail. Berikut dua email jawabannya:

1.

Kepada Yth.

Bapak Sunu,

Menjawab pertanyaan yang Bapak Sunu sampaikan sebelumnya mengenai layanan Bima Tri, kami informasikan untuk bima Tri kami lebih menyarankan untuk menggunakan kartu TRI agar bisa langsung terhubung dengan web tersebut dan tidak dimintakan untuk log ini ke self care http://internet.tri.co.id. Mengenai log ini ke http://internet.tri.co.id dan apabila Bapak telah melakukan perubahan email namun tetap tidak bisa, kiranya dapat di informasikan alamat email yahoo.com dan gmail.com guna investigasi lebih lanjut.

Hormat kami,

[deleted name]

3Care

123 dari nomor Tri Anda

0896-44000-123 dari nomor lainnya

www.tri.co.id

2.

Kepada Yth.

Bapak Sunu,

Menjawab pertanyaan yang Bapak Sunu sampaikan sebelumnya mengenai penggantian user name (email) dapat kami informasikan selain dengan username email pertama kali terdaftar, Bapak juga dapat login menggunakan nomor Tri yang digunakan (berawalan 62) contoh : 6289612345xxx dan apabila Bapak Sunu  menggunakan nomor 3 yang telah aktif paket internet serta telah mendownload aplikasi BimaTri maka dapat langsung digunakan untuk pengecekan sisa kuota, masa aktif berlangganan serta pembelian paket internet. Pastikan tidak menggunakan signal Wi-Fi juga.

Apabila Bapak Sunu memerlukan informasi terkait dengan layanan kartu 3, silahkan menghubungi kami.

Hormat kami,

[deleted name]


UPDATE 25 Juli 2015:

Karena saya kembali mempergunakan kartu Tri, saya mencoba kembali cara mengakses informasi kartu Tri yang saya miliki dari jaringan lain, dalam hal ini saya menggunakan Speedy. Sekarang saya sudah tidak lagi (atau belum merasa perlu) mempergunakan Bima Tri. Cukup mengakses dengan browser yang tersedia ke http://my.tri.co.id/.

Akses seperti biasa, masukkan nomor/email dan password, juga isi captcha (dalam contoh gambar ini 0222). Kalau sudah pernah mendaftar tetapi lupa passwordnya, klik “Lupa password?”. Nanti akan dikirimi email ke alamat email yang dulu dipakai, klik link dari sana untuk melakukan reset password.

Ini screenshot bukti saya bisa mengakses informasi kartu Tri saya dengan browser Chrome di handset Android melalui jaringan Telkom Speedy.

Setelah selesai, jika diperlukan, bisa Logout.

Written by sunupradana

June 23, 2013 at 2:11 am