Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Posts Tagged ‘gnu linux

Solusi untuk beberapa masalah pada sistem komputasi untuk kuliah elektronika daya

leave a comment »

Di zaman yang sudah bergerak jauh meninggalkan zaman batu ini (dan tampaknya belum akan segera kembali), perangkat komputasi sudah menjadi bagian hidup dari banyak orang di perkotaan. Pun begitu di banyak sekolah-sekolah engineering, optimalisasi perangkat dan sistem justru menjadi tema dari banyak makalah dalam jurnal dan proceeding. Karena itu, mundur ke “belakang” menjadi pilihan yang aneh luar biasa. 😀

Meski begitu ada beberapa permasalahan yang nyata yang jelas menjadi tantangan. Misalnya faktor legalitas perangkat lunak yang dipergunakan. Membajak software itu, mungkin, kesannya remeh untuk skala pribadi. Tapi dari sisi pengguna saja ada risiko yang jelas di depan mata; soal ketergantungan. Ini terkesan remeh, tetapi orang yang sudah sangat tergantung dengan suatu software dari suatu vendor (locked in) sering sangat sulit menggantinya dengan alternatif yang lain. Meskipun sebenarnya alternatif itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kerjanya sehari-hari.

Obat alias solusi dari ketergantungan ini adalah upaya pembiasaan dari permulaan untuk mempergunakan perangkat alternatif yang secara legal bebas pakai alias gratis. Untuk aplikasi engineering, jika belum memungkinkan untuk menginstall GNU/Linux di komputer, misalnya bisa menggunakan CAELinux. Meski sudah agak lama, distro ini masih bisa dipergunakan. Untuk saya sendiri, jauh lebih cepat jika aplikasi yang dibutuhkan diinstall saja di laptop (komputer) secara penuh.

Masalah lainnya adalah masalah virus, malware dan sebangsanya. Sistem GNU/Linux, BSD dan Mac tidaklah kebal dari tantangan serupa ini, tetapi perlu diakui sistem Microsoft Windows masih terbukti paling rentan karena jumlah pengguna umumnya. Upaya solusi dari masalah ini yang bisa dengan mudah diterapkan untuk pelajar adalah dengan menginstall beberapa software untuk mengatasinya. Ini sebagai upaya pelengkat dari rangkaian usaha pengamanan lainnya yang sekalipun tidak mendekati sempurna masih cukup baik untuk mengurangi risiko. Beberapa link telah saya kumpulkan di sini, dan terus diperbaharui.

Langkah lain yang paling masuk akal untuk virus, malware dan sejenisnya adalah dengan menggunakan sistem operasi yang lain selain Microsoft Windows. Dua pilihan yang paling mungkin adalah dari garis keluarga BSD atau dari kernel Linux. Dua-duanya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tantangannya adalah bagaimana memulai dengan hambatan minimal. Pada salah satu post sebelum ini, saya telah menulis bagaimana caranya untuk mendapatkan bootable flash disk yang dibuat di sistem Windows. Kita bisa mempergunakan tool UNetbootin atau YUMI. Tetapi ada kalanya kita perlu membuat bootable GNU/Linux flash disk dari sistem GNU/Linux juga. Misalnya jika sistem Windows kita sudah “terlalu parah” atau kita ingin mencoba (atau memerlukan) file sistem lain semisal ext4 dengan pengaturan yang mudah. Untuk ini kita perlu terlebih dahulu memiliki sistem GNU/Linux yang sudah beroperasi. Bisa dari hard disk komputer atau dari flash disk lain yang sudah berisi bootable GNU/Linux. Proses bisa diawali dengan mempersiapkan partisi dalam flash disk itu. Pembahasannya sudah saya utarakan di sini. Setelah itu flash disk bisa diisi dengan satu atau lebih OS GNU/Linux dengan tool MultiBootUSB. Tool ini mudah ditemukan namanya di menu pada sistem GNU/Linux LXLE desktop. Uraiannya sudah saya sampaikan di sini.

Dengan selesainya ketiga artikel tentang pembuatan bootable flash disk yang berisi OS GNU/Linux di blog ini, saya anggap cukup untuk memulai. Kalau ada bagian yang belum jelas, di Internet ada banyak penjelasan yang lebih detail dan lebih teknis. Sesekali mungkin perlu untuk mempergunakan Google Translate. Dengan sejumlah keterangan dalam artikel yang bisa dijadikan kata kunci pencarian informasi lebih lanjut secara mandiri, mahasiswa bisa secara mandiri menyelesaikan permasalahan mengenai kelayakan penggunaan sistem bantu komputasi untuk kuliah power electronics ini.

Hasilnya nanti dengan dua upaya berdasar software ini, tidak ada lagi flash disk berisi virus, malware maupun bekas jejak-jejaknya yang beredar di hari-hari perkuliahan teori dan praktik elda.

Advertisements

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 8:42 pm

Membuat live GNU/Linux dengan live GNU/Linux lainnya

with 2 comments

Pada post yang lain (di sini) saya membagi dokumentasi penggunaan GParted secara sederhana untuk tujuan pembuatan partisi sebagai persiapan untuk membuat sebuah USB flash drive (flash disk) yang dapat diperhunakan seolah-olah sebagai pengganti hard disk. Sehingga kita tidak perlu menginstall OS GNU/Linux di hard disk komputer, tetapi cukup menggunakan flash disk itu saja dari booting sampai shutdown.

Pada post yang lainnya lagi saya juga telah menuliskan cara membuat flash disk seperti itu dari dalam OS Microsoft Windows [artikel di sini]. Cara itu sebenarnya paling mudah bagi calon pengguna yang sama sekali belum pernah menggunakan varian sistem operasi (OS) GNU/Linux sebelumnya seperti; Debian, Ubuntu, Fedora, Red Hat, SUSE. Tetapi kadang-kadang ada kalanya kita perlu menggunakan OS selain Windows yang kita sudah miliki, misalnya karena sudah terlalu banyak “penyakit” di dalamnya dan/atau karena kita ingin menggunakan format file system yang lain.

Berikut adalah cara membuat flash disk berisi GNU/Linux yang bootable dari flash disk GNU/Linux lainnya. Mungkin istilah non-formal yang cukup tepat adalah dengan cara beranak-pinak. Kebetulan flash disk yang akan menjadi bapak biang ini telah saya buat sebelumnya dari GNU/Linux yaitu distro Lubuntu dengan aplikasi YUMI. Di dalamnya saya isi beberapa varian (distro) GNU/Linux, salah satu di antaranya adalah LXLE desktop yang akan saya pakai untuk membuat flash-disk “turunan” yang baru.


Gambar 01. LXLE desktop memiliki banyak sediaan gambar latar yang indah, klik icon ketiga dari kiri untuk mengacak.


Gambar 02. LXLE desktop adalah salah satu varian (distro) dari GNU/Linux yang cukup ringan, bahkan untuk komputer lama.


Gambar 03. Jika mouse digerakkan ke bagian tepi kiri layar, akan ada menu pilihan cepat yang tampil.


Gambar 04. Salah satu trivia, tampilan browsernya juga menarik.


Gambar 05. Perintah lsblk pada ROXTerm.

Kita bisa menggunakan perintah lsblk pada terminal untuk mengetahui drive apa saja yang terpasang dan telah dikenali oleh sistem. Silahkan lihat ulang di sini.


Gambar 06. Perbedaan sebelum dan sesudah flash disk dipasang dan terdeteksi oleh sistem.


Gambar 07. Pertama kali MultiBootUSB tampil pilihan drive oleh sistem tidak selalu sesuai tepat.

Program (software) multibootusb dapat diakses di menu LXLE desktop, di atas program ROXTerm dan di bawah GParted. Saat MultiBootUSB pertama kali aktif, program tentu saja tidak dapat mengetahui dengan pasti apa kehendak dari pengguna. Karena itu tangggung jawab dari pengguna lah untuk memberi tahu sistem drive (flash disk) mana yang akan diisi dengan OS GNU/Linux. Pada Gambar 07 pilihan pertama sistem adalah partisi sde1, untuk contoh kasus ini perku diubah ke partisi flash disk yang memang hendak dipergunakan yaitu sdf1. Untuk tiap komputer, tiap flash disk bahkan untuk tiap kesempatan hal ini bisa saja berbeda-beda, karena itu untuk mengetahuinya bisa mempergunakan perintah lsblk pada terminal.


Gambar 08. Pilihan pada partisi /dev/sdf1


Gambar 09. Instalasi GNU/Linux yang kedua.

Dengan mempergunakan MultiBootUSB (atau bisa juga YUMI), di dalam satu flash disk kita bisa memiliki lebih dari satu sistem operasi (OS). Sekedar sebagai contoh di Gambar 09 bisa dilihat bahwa saya sudah memiliki OS GNU/LINUX LXLE desktop 32-bit. Saya kemudian hendak menambahkan OS GNU/LINUX yang kedua, kali ini adalah Linux MINT 32-bit seperti terlihat pada Gambar 10.


Gambar 10. Memilih file sumber ISO yang benar untuk instalasi Linux MINT xfce 32-bit.


Gambar 11. Error pada tampilan saat proses berlangsung.

Kadang-kadang saat proses sedang berlangsung, terdapat suatu anomali seperti yang terlihat pada Gambar 11. Ukuran antarmuka dari MultiBootUSB tiba-tiba berubah. Saat ini terjadi biasanya tampilan cursor dari mouse berubah menjadi segi empat dengan tanda silang di dalamnya. Tidak perlu panik, ini hanya gangguan tampilan saja. Untuk mengatasinya, silakan klik-kanan di mana saja di luar tampilan antarmuka MultiBootUSB. Proses akan berlangsung terus secara normal.


Gambar 12. Instalasi GNU/Linux kedua telah berhasil.

Pada Gambar 12 kita bisa lihat bahwa proses tetap berlangsung dan berhasil dengan baik walaupun sempat mengalami gangguan seperti yang terlihat pada Gambar 11. Dalam proses itu kebetulan yang dipilih adalah varian/distro LXLE dan Linux Mint xfce, kita bebas memilih varian GNU/Linux yang lain.

Sebagai catatan, walaupun keunggulan dari MultiBootUSB dalah kemampuannya untuk memberikan kita peluang untuk memiliki lebih dari satu OS di dalam drive (flash disk) seperti juga YUMI, tetapi kita bisa juga menggunakannya secara cepat untuk hanya membuat bootable flash disk dengan hanya satu OS. Mirip seperti UNetbootin, kita bisa memilih tab “ISO manager” yang terletak persis di sebelah kanan dari tab “MultiBootUSB ” di antar muka aplikasi itu.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 10:47 am

Posted in Komputer

Tagged with , , ,

GNU Linux sebagai solusi

with 3 comments

Musim lalu (kadang saya lebih senang menyebutnya semagai musim daripada semester) saya belum berhasil meyakinkan seorang pun mahasiswa untuk beralih ke GNU/Linux. Atau setidaknya sekedar mencoba-coba dengan lebih intensif. Mungkin karena cara dan gaya saya terlalu “solo”. Musim lalu itu saya tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mencoba salah satu varian Linux. Saya hanya memperkenalkan salah satu varian yang cocok untuk dipergunakan di bidang engineering, CAELinux. Harapannya siapa tahu ada yang proaktif dan mengkaji kembali penggunaan perangkat lunak berdasarkan kebutuhan dirinya yang sebenarnya.

Musim ini tampaknya akan ada sedikit perbedaan. Akhir musim lalu ada beberapa mahasiswa yang mengaku komputernya (sistem operasi komputernya) terkena virus komputer untuk sistem Microsoft Windows. Ini jelas berbahaya, beberapa bahkan sampai merasa perlu untuk menginstall ulang keseluruhan sistemnya. Sedangkan awal musim ini sudah ada beberapa pengakuan yang mengindikasikan terjadinya penyebaran virus melalui USB drive (USB flash disk). Ini jelas tantangan dan masalah yang perlu solusi.

Transfer file via email atau layanan cloud seperti Google Drive memang bisa dilakukan. Tetapi untuk file berukuran relatif besar pilihan ini jelas akan memperlambat proses transfer di kelas. Pilihan lain adalah dengan menggunakan file server sendiri dalam jaringan, seperti yang pernah dilakukan di musim lalu. Sekalipun pilihan ini baik, ada potensi pendidikan yang hilang yang bisa diperoleh jika cara ini satu-satunya cara yang diambil.

Cara lain yang bisa menjadi solusi, dan memang sudah lama (lamaaaaa) sekali dilakukan oleh banyak orang di banyak tempat adalah dengan menggunakan OS GNU/Linux. Banyak yang tidak mau mencoba karena merasa awam, asing. Padahal dahulu sewaktu belajar mempergunakan komputer dengan OS Microsoft Windows, juga sama dalam posisi sebagai awam.

Setelah rationale di atas, dan menetapkan bahwa penggunaan GNU/Linux di musim ini patut untuk lebih serius dilakukan pertanyaannya kemudian adalah cara apa yang akan ditempuh. Pilihan pertama adalah dengan mengganti total sistem operasi (OS) yang telah ada dengan GNU/Linux, terutama jika OS lama itu berstatus bajakan :-D. Sekalipun ini bagus sekali “di atas kertas” tapi pilihan ini akan menyakitkan buat kebanyakan mahasiswa. Beberapa program aplikasi dari sistem MS Windows belum bisa berjalan baik di GNU/Linux, sekalipun dengan bantuan Wine terbaru. Pilihan kedua adalah dengan melakukan dual boot. Jadi dalam satu komputer (misalnya laptop) ada dua sistem operasi, satu Windows dan satu lagi GNU/Linux. Cara inilah yang dulu saya lakukan untuk belajar dengan lebih intensif. Tetapi cara ini juga memiliki kekurangan jika dilakukan di musim berjalan seperti sekarang ini. Paling tidak mahasiswa harus menyediakan ruang yang memadai di hard disk komputernya. Untuk yang memiliki banyak data berharga, perlu membuat salinan untuk meminimalkan risiko saat menggeser partisi dan menginstall OS baru. Hal-hal seperti ini menjadi penghalang untuk orang (mahasiswa) merasa ringan memulai perubahan.

Alternatif ketiga yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi sejak beberapa waktu lalu adalah dengan tanpa mengganggu hard disk di komputer sama sekali. GNU/Linux dapat sepenuhnya dijalankan di CD / DVD / USB drive. Ya, GNU/Lunix seperti Ubuntu itu bisa dijalankan hanya dari flash disk (USB drive) tanpa perlu diinstall di komputer.

Khusus untuk flash disk terdapat keunggulan tambahan bagi GNU/Linux yang merupakan salah satu varian dari UBUNTU (Ubuntu/Lubuntu/Kubuntu/Lubuntu) dan turunannya, yaitu konfigurasi yang diatur selama pengoperasian tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan tersimpan. Sehingga dengan demikian lain kali kita mempergunakannya kita tidak harus mulai lagi dari pengaturan awal.

Ada dua jenis pilihan instalasi GNU/Linux, AFAIK (As Fas As I Know). Yang pertama adalah untuk instalasi tunggal, artinya hanya ada satu sistem operasi nantinya di dalam flash disk. Yang kedua adalah multiboot, artinya kita bisa mengatur agar sebuah USB drive (flash disk) bisa berisi beberapa sistem operasi. Bisa delapan atau bahkan lebih, bergantung pada kapasitas ruang penyimpanannya.

Cara pertama dan kedua dapat dilakukan dari dalam sistem operasi (OS) Windows maupun GNU/Linux seperti Ubuntu atau Fedora. Untuk artikel ini akan dipilih pembuatan dari dalam sistem Windows. Asumsinya adalah sebagian calon pengguna belum pernah melakukan pengaturan dari dalam sistem berbasis GNU/Linux. Tentu saja mereka inilah yang lebih memerlukan artikel semacam ini ketimbang yang memang sudah bisa atau bahkan biasa menggunakan sistem GNU/Linux.

UNetbootin

Jika yang dikehendaki hanyalah satu OS di USB drive (flash disk) maka salah satu aplikasi yang menurut saya cukup mudah dipergunakan adalah UNetbootin. Software ini ada di platform Microsoft Windows dan juga di GNU/Linux.


Gambar 01. Tampilan awal UNetbootin

Gambar di atas ini adalah tampilan awal, kita bisa memilih varian GNU/Linux yang akan diinstall atau bisa memilih yang akan diinstall dengan memilih file ISO (citra disk) yang sudah kita unduh sendiri.


Gambar 02. Sekedar sebagai contoh, saya hendak menginstall MX Linux.


Gambar 03. Proses instalasi gampang, tinggal tunggu sampai selesai.


Gambar 04. Kita tidak perlu menggunakan pilihan Reboot kecuali memang akan dipergunakan di komputer yang sama

YUMI

Jika yang dikehendaki adalah flash disk yang berisi beberapa OS GNU/Linux yang terpisah maka kita bisa mempergunakan aplikasi seperti YUMI.


Gambar 05. Saat pertama YUMI diaktifkan


Gambar 06. Langkah pertama adalah memilih USB drive (flash disk) yang akan dipakai sebagai boot disk


Gambar 07. Sebagai contoh saya menggunakan flash disk 8 GB


Gambar 08. Memilih varian distribusi GNU/Linux yang akan dipakai saat ini.

Untuk setiap saat kita hanya bisa memilih satu varian yang akan diproses. Misalnya kita memilih sepuluh varian GNU/Linux yang akan dipergunakan di dalam USB drive. Maka kita harus mengulangi langkah instalasi yang persis sama ini satu persatu.


Gambar 09. Memilih dengan menunjukkan lokasi file ISO dari varian GNU/Linux yang akan dipakai

Jika opsi Show All ISOs tidak kita aktifkan maka hanya ISO yang relevan dari distribusi (varian) yang kita pilih saja yang akan ditampilkan. Misalnya bahkan seandainya dalam folder yang sama terdapat 20 file ISO, hanya ISO yang berasal dari varian yang kita pilih saja yang akan tampil. Karena itu jika diperlukan untuk melihat varian lain atau kalau varian yang persis sama tidak tercantum dalam daftar maka aktifkan opsi Show All ISOs.


Gambar 10. File ISO sudah terpilih siap untuk ditempatkan ke flash disk


Gambar 11. Tanda bahwa YUMI siap untuk memproses lanjut urutan kerja berikutnya


Gambar 11. Proses penyalinan ke USB drive (flash disk)


Gambar 12. Proses booting pada komputer, sebagai contoh ini pada laptop lama T43

Tidak semua komputer memiliki cara akses yang sama untuk mengubah urutan booting atau mengakses menu pilihan boot secara manual. Misalnya pada IBM (lenovo) T43 cara yang paling singkat adalah dengan menekan kunci F12. Atau kalau mau menggunakan cara panjang adalah dengan menekan tombo “Access IBM”. Sedangkan pada beberapa laptop Asus caranya adalah dengan menekan tombil esc (escape) pada saat awal booting. Di beberapa PC desktop saya temukan caranya adalah dengan menekan tombol F11.


Gambar 13. Menu pilihan boot oleh YUMI, masing-masing varian telah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori


Gambar 14. Contoh daftar menu varian GNU/Linux yang telah siap untuk dijalankan dikelompokkan dalam Linux Distributions


Gambar 15. Salah satu keunggulan YUMI adalah kita dapat menambah dan mengurangi OS yang terinstall dengan mudah


Gambar 16. Contoh varian yang dikelompokkan secara otomatis di bagian System Tools


Gambar 17. Salah satu varian menarik, Chromixium, menggabungkan antara cita rasa OS Chromium dengan GNU/Linux


Gambar 18. Salah satu yang bisa jadi jarang diperhatikan tetapi sungguh menarik, IGOS XDE


Gambar 19. Jika IGOS XDE sekaligus memberikan pilihan akses ke seputuh desktop interface!


Gambar 20. Contoh pilihan menggunakan default yaitu desktop MATE


Gambar 21. Tampilan informasi sistem yang menarik IGOS XDE


Gambar 22. Tampilan lain IGOS, sudah dilengkapi dengan LibreOffice

Ada banyak pilihan silahkan dicoba dan yang mana yang menjadi pilihan bergantung pada keperluan dan selera masing-masing.

Bacaan lanjut:

Written by sunupradana

September 17, 2015 at 1:32 pm

Posted in Komputer, Technology

Tagged with , , ,