Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Posts Tagged ‘belajar

Belajar elektronika

leave a comment »

image

#electronicsEngineering

Mulai yang mudah, bertahap, coba ditekuni. Coba dengan sistematis. Jangan sombong belajar dari orang lain. Cobalah.

Berbagilah, terima umpan balik untuk memperkaya.

Terima kenyataan bahwa banyak orang yang lebih jenius, lebih pandai, lebih kreatif, lebih berpengalaman. Jangan mudah patah, cari bantuan.

Coba berdamai dengan diri setelah berusaha dengan keras dan cerdas. 🙂

Written by sunupradana

December 21, 2014 at 9:05 pm

Belajar Menggunakan Diode

with 5 comments

Setelah sebelumnya meninjau tentang switch (sakelar) sebagai sebuah awalan dalam usaha memahami kerja (dan menggunakan) komponen sakelar elektronik berbasis semikonduktor, maka kali ini kita meninjau sejenak tentang diode. Melanjutkan dengen diode penting agar upaya belajar kita berlangsung secara sistematis.

Namun karena keterbatasan waktu pada saat saya menulis artikel ini, maka saya tidak membahas detail tentang diode. Pembaruan (update) akan menyusul kemudian. Sudah cukup banyak tutorial tentang diode yang saya lihat sendiri beredar di Internet. Beberapa yang bagus yang berbasis html akan saya urutkan tautannya (link) di bawah ini. Setelah membaca dan berusaha memahaminya, anda bisa kembali lagi ke halaman ini untuk melanjutkan membaca dan menghubungkan dasar teori yang sudah anda peroleh dengan apa yang akan saya ungkapkan, berurutan di sini.

  1. What is an Ideal Diode?
  2. Sparkfun diodes tutorial
  3. Semiconductor Basics
  4. Tutorial: Electronic Circuits-Diodes/Transistors/FETs, Renesas Engineer School
  5. PN Junction Theory
  6. PN Junction Diode
  7. The Signal Diode
  8. Power Diodes and Rectifiers
  9. Full Wave Rectifier
  10. The Zener Diode (opsional untuk bahasan di artikel ini)
  11. Basics: Introduction to Zener Diodes (opsional untuk bahasan di artikel ini)
  12. The Light Emitting Diode
  13. Diode Tutorial
  14. Wikipedia: Diode
  15. p–n diode
  16. Diode modelling

Berikut adalah gambar karakteristik arus dan tegangan (I-V characteristic) yang ideal dari sebuah diode. Tentu saja komponen ideal ini tidak ada. Namun gambar ini membantu kita untuk lebih memahami dasar kerja sebuah komponen diode.

Gambar di atas adalah gambar dari artikel pada Wikipedia, yaitu p–n diode. Masih dari artikel yang sama kita maju selangkah lagi dengan memperhatikan gambar-gambar berikut:

Gambar di atas memberikan informasi seolah-olah terdapat sebuah sumber tegangan pelawan di dalam komponen diode, sehingga berbeda dengan sakelar ideal, diode memerlukan sejumlah tegangan maju untuk mengatasi tegangan pelawan tersebut.

Pada gambar berikut di bawah ini terlihat bahwa ketidakidealan diode bisa diperlihatkan dengan lebih baik jika ditambahkan resistor pada model.

Adanya kemiringan (gradient / slope) membuat grafik di atas semakin mendekati keadaan yang sesungguhnya pada komponen fisik (riil) diode. Dalam tulisan ini nanti akan saya sertakan gambar yang diperoleh dari DSO.

Pada gambar berikut diperlihatkan grafik yang “maju” selangkah lagi menuju (mendekati) bentuk grafik karakteristik arus-tegangan pada komponen real diode (komponen diode riil). Grafik ini sudah menggambarkan adanya karakteristik arus-tegangan diode pada saat polaritas tegangannya terbalik, lengkap dengan kondisi breakdown.

 

 

Gambar berikut masih dari situs Wikipedia, menggambarkan bahwa kita bisa membagi unjuk karakteristik arus-tegangan diode ke dalam tiga bagian. Hal ini untuk memudahkan pembahasan. Semoga gambar berikut dapat menyegarkan ingatan anda:

Berikut adalah gambar suatu rangkaian (circuit) yang juga akan diwujudkan dalam praktik yang dokumentasinya saya sertakan di tulisan ini. Sumber Wikipedia.org:

 

SIMULASI

Setelah menyegarkan kembali karakteristik diode dengan menggunakan grafik, maka tahap berikutnya adalah melakukan simulasi dengan perangkat lunak (software). Ini bertujuan antara lain agar kita dapat mencoba beberapa skenario (misal beberapa nilai komponen maupun konfigurasi) dengan meminimalkan resiko bahaya maupun mempersingkat waktu percobaan. Untuk simulasi ini kita bisa menggunakan aplikasi LTspice yang secara legal gratis (halal) untuk dipergunakan.

 

UJI COBA KOMPONEN FISIK

Berikutnya setelah melakukan simulasi maka tentu saja kita melakukan uji / percobaan pada komponen diode yang sesungguhnya. Unjuk kerja diode ini seringkali berbeda dengan apa yang tertera di datasheet , bahkan jika dokumen itu memang dikeluarkan oleh perusahaan pembuat diode tersebut. Begitu juga, model diode yang menjadi komponen dalam simulasi sangat mungkin akan berbeda dengan keadaan sesungguhnya dari diode, sekalipun serinya sama. Dan terakhir, karakteristik masing-masing komponen fisik diode bisa jadi akan juga berbeda antara satu komponen dengan komponen yang lain. Walaupun kesemuanya berasal dari seri/tipe yang sama.Variasi ini sungguh pun terjadi biasanya dalam keadaan normal tidak akan berbeda terlalu jauh.

Berikut foto set-up pengujian komponen riil:

 

 

Sebagai perbandingan dan untuk memudahkan, dua osiloskop (oscilloscope) dipergunakan dalam percobaan ini.

 

 

Percobaan pertama dilakukan dengan menggunakan rangkaian dasar berikut:


 

Rangkaian di atas jika disimulasikan akan menghasilkan gfrafik sebagai berikut:


Hasilnya tidak lain merupakan grafik penyearah setengah gelombang yang sudah kita akrab dan gampang dikenali. Tegangan listrik antara anode dan katode di simulasi ini ditulis sebagai V(ade,ktd). Sedangkan pada simulasi ini tegangan listrik antara node ktd (katode dari diode) ke titik referensi (gnd) cukup ditulis sebagai V(ktd). Arus listrik yang mengalir pada dua atau lebih komponen yang terhubung seri adalah sama, karena itu arus yang mengalir pada diode sama dengan yang mengalir pada resistor. Jika anda jeli maka anda bisa menemukan bahwa gelombang tegangan sumber yang di rangkaian simulasi ini bertanda V(ade), seolah-olah dipotong menjadi dua bagian. 

 

Simulasi YT ini relatif lebih mudah untuk dicoba dengan komponen fisik, karena itu kita lakukan terlebih dahulu. Berikut adalah uji coba rangkaian fisik untuk komponen diode. Pertama dipergunakan oscilloscope kecil satu kanal (DSO Nano) untuk memeriksa tegangan terminal masukan (input), V(ade)



 

Sedangkan dua gambar berikut adalah hasil capture dari DSO 100MHz:



 

Di DSO kita biasanya bisa menggunakan fasilitas kursor untuk melakukan pengukuran secara “manual”. Baik untuk DSO Nano maupun DSO 100MHz dua kanal. Misalnya untuk DSO Nano:


Bisa dilihat nilai delta untuk setengan gelombang adalah 10.0 mS dan delta untuk tegangan dasar ke puncak sebesar 16.6 V. Sedangakan pada gambar di bawah ini, masih menggunakan DSO Nano, kita bisa melihat bahwa tegangan antara anode ke katode dari diode adalah sebesar 0.78 Volt, tidak jauh berbeda dengan hasil simulasi dengan LTspice menggunakan model diode dari tipe yang sama.

 

 

Percobaan dengan menggunakan DSO 100MHz akan memberikan kemudahan baik dari segi jumlah kanal (ada dua) maupun kemampuan pencuplikan (BW, sampling). Namun agar memberikan hasil yang benar perlu diperhatikan penggunaan kanal dan probe dengan tepat pada rangkaian.

Kanal pertama (CH1) yang juga merupakan kanal untuk sumbu X pada mode tampilan XY diberi warna pengenal merah. Sedangkan kanal kedua (CH2) yang juga merupakan kanal untuk sumbu Y pada mode tampilan XY diberi warna pengenal biru.

Pada pengukuran dengan mode tampilan YT (besaran tegangan pada sumbu Y dan besaran waktu T pada sumbu X), CH1 dipakai untuk mengukur besar tegangan (jatuh tegangan) pada komponen diode. Probe CH1 ditempatkan di anode pada diode dan koneksi GND dari DSO pada katode dari diode. Pengaturan polaritas pengukurannya persis sama dengan pengukuran pada simulasi LTspice, V(ade,ktd). 

Yang agak repot memang untuk melakukan pengukuran tegangan di antara kaki-kaki resistor, dalam konfigurasi dan percobaan ini. Karena kita tidak ingin melakukan operasi pengurangan matematis dengan DSO. Maka untuk tegangan pada diode maupun resistor masing-masing diukur benar-benar paralel dengan komponennya masing-masing. Karena probe yang dipakai bukan tipe diferensial maka timbul kesulitan. Kita hanya bisa menggunakan satu titik (node) sebagai acuan, yang dihubungakan dengan GND pada DSO. Karena pengukuran CH1 sudah menggunakan node antara katode pada diode dengan resistor sebagai GND, maka CH2 harus menggunakan node yang sama sebagai GND. Artinya probe CH2 justru harus ditempatkan di titik kembali sumber catu daya (ground pada transformer). Dengan demikian nanti ada saatnya kita perlu menggunakan fasilitas invert untuk tampilan gelombang pada CH2, agar polaritasnya sesuai yang kita perlukan.

 

Berikut tampilan gelombang tegangan pada diode (kuning) dan resistor (biru) yang belum dibalik.


 

Berikutnya gelombang tegangan pada resistor yang diukur dengan CH2 (biru) dan tampilannya belum dibalik, dipisahkan dengan tampilan gelombang CH1 (kuning) yang mengukur tegangan di diode. Tegangan pada CH2 dinaikkan vertikal ke atas sebanyak 17 Volt.


 

Berikutnya gelombang tegangan di resistor yang diukur dengan CH2 (biru) dibalik (inverted). Sehingga yang aslinya mengukur V(gnd,ktd) menjadi V(ktd,gnd) dalam tampilan sebagaimana pada gambar berikut.


 

Tampilan gelombang dua kanal (CH1 dan CH2) yang tadinya sengaja dipisahkan, sekarang digabung kembali dengan melakukan reset untuk posisi vertikal pada keduanya.


Jika gambar di atas diperhatikan, akan persis seperti bentuk gelombang tegangan pada terminal masukan. Pemotongan tidak persis pada 0.00 mV, melainkan sekitar 0.7V ~ 0.8V karena diode membutuhkan tegangan maju untuk dapat beroperasi, menghantar (kondisi ON).

 

Berikut ini adalah salah satu fasilitas pada DSO yang amat memudahkan pengguna untuk melakukan pengukuran. Warna kuning dan identitas CH1 menunjukkan dengan jelas bahwa kesemua parameter yang ditampilkan adalah pengukuran untuk tegangan yang diukur pada kanal pertama (CH1 /  X / merah).


 

Sedangkan pada gambar di bawah tampilan berwarna cyan menunjukkan bahwa pengukuran untuk kanal CH2. Tetapi perlu diingat ini adalah untuk tampilan tegangan pada resistor yang diukur dengan CH2 tetapi gelombangnya sudah dibalik (inverted).


 

Berikut adalah tampilan informasi untuk CH2 yang gelombangnya belum dibalik.


 

Gambar berikut ini memperlihatkan bahwa besar tegangan R.M.S. pada diode dan resistor bernilai sama. 

 

 

 

TEGANGAN BIAS MAJU

Berikut ini adalah rangkaian simulasi yang dipergunakan untuk mempelajari tegangan maju atau tegangan bias maju pada diode.  


 

Hasil simulasi rangkaian. Terlihat pergerakan naik dari arus sebagai akibat bias maju dapat tampak lebih jelas jika kita melakukan zoom atau mempersempit rentang pengamatan.


Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa pada simulasi adalah mudah untuk melakukan pengukuran tegangan pada V(ktd,gnd) atau bisa ditulis sebagai V(ktd). Bahkan pengukuran arus pada diode maupun resistor dapat dengan mudah dilakukan, tidak demikian halnya jika kita mencoba mereplikasi percobaan ini pada XY mode dengan komponen fisik dan DSO dengan probe standar.

Pertama perlu diingat untuk konfigurasi rangkaian ini sebenarnya pengukuran tegangan di resistor dimaksudkan untuk mengukur nilai arus yang melintas di rangkaian. Dengan mempergunakan hukum Ohm, arus dapat dihitung jika nilai resistansi dan nilai tegangan listrik sudah diketahui. Untuk itu jika memungkinkan nilai resistansi hendaknya adalah nilai yan mudah untuk perhitungan matematis. Biasanya kelipatan 1, 10 atau 100. Jika persediaan terbatas, seperti pada uji kali ini, perhitungan masih mudah jika kita kalkuator (termasuk app) tersedia dekat dengan tempat pengujian.

 

Gambar berikut adalah hasil uji dengan komponen fisik dan DSO. Terlebih dahulu diingat dan dipastikan bahwa CH2 telah dibalik (inverted), agar arah arus bisa sesuai (mengikuti arah arus konvensional) dari anode ke katode pada diode. 

 


 

 

SIMULASI WILAYAH BREAKDOWN

Berikut adalah simulasi tegangan tembus (breakdown voltage) untuk diode 1N4007.



 

SIMULASI VARIABLE RESISTOR

Dua gambar berikut adalah simulasi pengaruh nilai resistor pada rangkaian yang tegangan masukkannya dinaikkan berjangkah dari 0 V sampai 1 V, dengan kenaikan sebesar 1 mV.



 

SIMULASI VARIABLE RESISTOR DENGAN CATU DAYA TEGANGAN SINUS

Terakhir adalah simulasi catu daya arus bolak-balik dengan beberapa nilai resistor pada rangkaian.



Tiga bagian terakhir dapat memberikan gambaran bagaimana perangkat lunak simulasi rangkaian berbasis SPICE seperti LTspice sungguh sangat membantu dan bermanfaat. Sebelumnya dalam tulisan ini telah kita bandingkan antara hasil simulasi dengan hasil percobaan dengan komponen fisik.


Written by sunupradana

December 21, 2014 at 2:17 am

Sistematis

with 6 comments

Lama juga tidak menulis di blog … 🙂

Suatu masa saat masih belajar di kota Malang, suatu kawan pernah bercerita tentang proses reparasi televisi. Suatu yang teramat biasa bagi banyak pelajar STM (SMK), tapi sesuatu yang asing untuk mantan pelajar SMA seperti saya. Apalagi tidak ada kebutuhan kerja yang memaksa, jadilah saya sebagai awam.

Intinya kawan saya itu bercerita bahwa dalam praktiknya, biasanya, tukang reparasi seperti “hafal” penyakit dari masing-masing merek dan tipe. Ada beberapa komponen yang menjadi “tersangka utama”, diurutkan berdasarkan “lekelihood”. Dimulai dari komponen mana yang paling sering menjadi sumber masalah.

Cara seperti itu sering dipakai karena “paling efisien”. Mungkin dekat-dekat prinsip Pareto, 80/20. Menghasilkan uang paling cepat.

Dengan prinsip yang sama konon untuk zaman sekarang banyak tikang reparasi yang lebih memilih untuk mengganti “mesin tv”-nya sekalian (PCB dari TV). Hemat waktu dan mendatangkan banyak untung, karena toh bayak orang bekerja dengan cara itu. Apalagi konon sistemnya pun semakin kompleks, tidak seperti dulu.

Cara serupa ini saya anggap sama dengan “patching” pada software. Konon dulu web server Apache, diolok-olok sebagai a patchey, karena memang dibangun dari kumpulan patch untuk server. Dalam bahasa lain ini solusi tambal sulam. Efektif dan menguntungkan, sampai batas tertentu. Lalu mencelakakan untuk proses tertentu.

Kalau seadainya saya yang mengerjakan perbaikan TV zaman itu, saya mungkin akan mengikuti ajaran para dosen. Dimulai dulu dari kabel listrik, ada gangguan atau tidak. Lalu bagian suplai daya di dalam TV. Begitu seterusnya, bagian-per-bagian. Ini cara yang sistematis. Dengan cara inilah iptek sesungguhnya dikembangkan.

Pertanyaannya kalau memang cara sistematis adalah cara yang lebih baik, mengapa bukan cara ini yang dipakai untuk melakukan reparasi? Jawabannya (bisa jadi) sederhana. Karena justru tidak menguntungkan. 😀

Ambil contoh pada para tukang reparasi tv. Jelas tidak masuk akal kalau mereka menghabiskan waktu dengan menggunakan cara yang sistematis, jika dengan cara patchy saja mereka sudah bisa menyelesaikan sebagian besar masalah. Perkecualiannya mungkin sangat sedikit dan itupun bisa jadi akan ditanggung oleh konsumen, entah bagaimana caranya :-D. Bisa juga “rugi sesaat” ditanggung tukang reparasi, tetapi dalam jangka panjang cara ini masih mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Nah kalau cara “tambal-sulam”, patchy, itu memang baik dan menguntungkan, buat apa mengerjakan dengan sistematis?
Mengapa sains dan teknologi (karenanya juga engineering) malah dikerjakan dengan sistematis?

Itu pertanyaan jutaan dolar :-D. Untuk singkatnya, jelas karena tidak semua proses bisa diselesaikan dengan tambal sulam. Apalagi kalau memang prosesnya perlu pembangunan dan pengembangan bertahap. Tidak semua proses adalah proses “makelaran”, dagang memindahkan barang, asal cepat uang dapat, selesai. Bahkan proses “perusahaan dagang”, makelar semacam Amazon (atau Tokopedia di Indonesia), malah prosesnya amat rumit. Itu sistem yang dibangun apik, diusahakan benar untuk tertata rapi. Sistematis, bukan sporadis.

Sains dibangun dengan sistematis, harus jelas dulu, adanya pengakuan hubungan sebab-akibat. Kalau alam semesta hanya bergantung pada mood para dewa, akan menjadi teramat sulit untuk dipelajari. Jauh lebih sulit dari tingkat kesulitan sekarang yang sudah sulit (nah lo). Untuk itu diasumsikan ada aturan dasar yang mengoperasikan alam semesta. Sebab kalau acak, sangat sedikit yang bisa dipelajari dan dirumuskan. Bayangkan misalnya, seringkali tiba-tiba tubuh manusia melayang tinggi di udara di jalan raya. Pesawat terbang sering secara acak tiba-tiba jatuh terhempas. Apa yang bisa dirumuskan? Bahkan nenek moyang saja dulu mencoba sangat keras untuk memahami pola. Ada musim melaut, musim tanam dan sebagainya.

Saat sudah mentok dan tidak punya penjelasan yang baik dan bisa teruji sebagai prediksi ke depan, mereka merasionalisasikan dengan dewa-dewa yang murka atau “penunggu” yang usil atau marah. Bagaimana pun mereka sadar akan adanya suatu pola. Jika tidak mengikuti pola, maka pasti ada penyebabnya.

PENDIDIKAN

Mengikuti sains, IMHO pendidikan juga begitu. Tidaklah benar kalau terus-menerus menggunakan tambal sulam. Ini berpotensi senang sesaat sengsara kemudian.

Salah satu kemudahan semua yang mau belajar saat ini adalah tersedianya sumber informasi (bahkan data mentah) secara (relatif) berlimpah. Misalnya banyak contoh program (kode bahkan dengan diagram alir) banyak tersedia di berbagai situs di Internet.
 
Di satu sisi ini adalah “fasilitas” yang mempermudah dan memperkuat proses belajar. Mengingat sedari bayi, proses alamiah belajar adalah dengan adanya fase meniru dan mencontoh. 

Tapi di sisi lain, seperti obat yang sebenarnya merupakan racun, maka tersedianya banyak sumber belajar ini malah bisa merusak proses belajar itu sendiri. Tentu yang dimaksud adalah belajar dengan benar.

Di Swedia konon ada namanya Missionary Church of Kopimism. Agama yang diakui resmi oleh negara, yang isinya adalah pengakuan dan penguagungan terhadap copy-paste. :-D. Tidaklah jelek pada sendirinya, hanya dosisnya yang perlu diperhatikan.

Copy-paste adalah salah satu bentuk dari proses meniru/mencontoh. Alamiah dan tentu bagus. Belajar pengenalan pola dapat dilakukan dengan lebih efisien dengan mempelajari kode orang lain, lalu mengutak-atiknya untuk mempelajari hubungan sebab dan akibat. Syaratnya…pertama ada dasar pemahaman yang cukup dan kedua tidak berhenti sampai di situ saja.

Yang pertama yang paling debatable, ada yang sederhananya memilih untuk menyuruh “nyemplung dulu” untuk belajar berenang. Di ekstrim sisi ini adalah swim-or-sink, berenang atau mati tenggelam. Ada juga yang memilih untuk memberikan bekal cukup terlebih dahulu baru kemudian diajar untuk praktik.

Kalau saya, ini situasional. Tergantung pada beberapa faktor. Misalnya tergantung dari tingkat bahaya, bidang, waktu, tujuan jangka panjang dst. Walaupun berdasarkan bidang dan bahkan efisiensi, saya biasanya lebih cenderung cara yang kedua. Sistematis dengan diselang-seling beberapa “fase dilepas untuk bingung” yang berguna untuk merangsang aktifitas berpikir dan inisiatif. Tapi tentu saja kebingungan itu harus punya “dosis yang terukur”, disengaja dan bukan karena berangkat dari pemikiran yang asal-asalan.

Yang benar celaka jika proses copy-paste terhenti hanya sebagai kegiatan mencontek sesaat. Sekedar untuk mengatasi masalah tugas. Ini jelas bukan proses pendidikan yang baik.

Tetapi memang keseluruhan proses ini hanya bisa baik kalau semua yang terlibat mau berproses dengan baik. Yang di satu sisi tidak memang berniat asal beri dan yang di sisi lain juga berniat asal terima. Dan penting untuk tidak melompat terlalu jauh.

Karena sy bukanlah orang yang sangat pandai, saya paham betapa sakitnya untuk terus menerus harus “melompat-lompat”. Karena itu saya biasa menyusun resep dengan sistematis, terukur dengan kemampuan siswa. Modalnya cuma kemauan untuk bekerja (belajar) dengan sangat keras.

Saya sadar benar, bahwa bagaimana siswa bisa belajar dengan sistematis jika fondasinya goyah. Tiang-tiangnya bergoyang terus menerus. Tidak akan efisien. IMHO, jika terpaksa, lebih baik memperkuat fondasi atau bahkan membongkarnya daripada membangun istana pasir.

Jadi prosos copy-paste kode program dan rangkaian yang menjadi ritual tanpa tindak lanjut upaya belajar memahami, menurut saya adalah contoh aktivitas berbahaya dari “seremoni” belajar. Kita akan menghasilkan tenaga-tenaga instan yang tidak pernah berupaya paham dasar operasi apalagi philosophy-nya.

Dan saya sangat percaya pola pikir ini tidak akan berhenti hanya pada pelajaran dan bahkan bidang ilmunya saja. Juga akan merembet ke aspek kehidupan lainnya. Jika dibiarkan terus, akan jadi kaum yang mengabaikan sebab-akibat alamiah. Mengandalkan penjelasan mood para dewa untuk segala sesuatu yang terjadi di alam.

BELANDA BELUM MATI
Salah satu ungkapan yang paling saya senangi adalah: “God created the earth, but the Dutch created the Netherlands.” Ungkapan yang konyol tetapi punya makna dan pelajaran yang baik.

Belanda itu negeri yang sebagian wilayahnya amat rendah, bahkan konon di bawah permukaan laut. Mungkin itu salah satu faktor pendorong londo kae, niat mencari daerah baru untuk profit lalu untuk dijajah. Mirip Jepang yang juga alamnya keras. Tapi keterbatasan itu disikapi dengan cara-cara yang sistematis. Tidak perlu sampai meminjam dewa-dewa tetangga seperti Odin atau Thor.

Dari kincir angin untuk mengeringkan lahan sampai bendungan dam pencegah banjir. Dengan kerja keras dan upaya yang sistematis, mereka sekarang menjadi salah satu yang paling ahili di dunia. Dari sekumpulan masalah besar, banjir dan ancaman tenggelam, menjadi keunggulan. Dengan kepala, tangan dan kaki mereka sendiri. Kesalahan berulang kali yang diperhatikan dan menjadi pelajaran kolektif

AFAIK, berawal dari kesediaan menerima sebab-akibat di alam semesta. Asumsi adanya aturan yang menjadi program dasar semesta. Keterbukaan pikiran, meminta bukti dan tidak mudah percaya. Senang mencoba, bereksperimen dan bersedia menerima akan ada terjadinya sejumlah besar kesalahan bahkan ketersesatan. Dari situ upaya sistematis bisa dilakukan.

Jika tidak, maka pola tambal-sulam, patchy, yang akan selalu menjadi andalan. Semata karena candu nikmat sesaat. Mungkin tidak adakan segera terasa, tapi kita akan semakin jauh tertinggal. Sampai suatu hari kita hanya bisa kaget dan kagum, bagimana mereka bisa melakukannya? Padahal seperti kita (kalau mau), mereka melakukannya sedikit-demi-sedikit, sistematis.

Saya merasakan benar sakitnya “hanya bisa kagum”, dan sengsaranya mengejar ketinggalan. Semoga generasi baru bisa mengambil pelajaran pentingnya berproses dengan sistematis. Jual cepat tidak selalu solusi. Dan memang kita perlu napas panjang untuk bisa begitu. Itulah salah satunya fungsi suatu admnistrasi di suatu daerah dan negara. Tapi kalau mereka terus memilih untuk memampukan yang salah…ya sudahlah. Selamatkan diri kalian masing-masing, persiapkan diri sebaik-baiknya selagi muda. Lalu pergilah ke tanah yang menjanjikan perjuangan amat keras yang memberi hasil sepadan. Kalau percaya bahwa hidup hanya satu kali.

Sistematis adalah segala usaha untuk meguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya [1]

Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistematis

v01

Written by sunupradana

December 4, 2014 at 1:02 pm