Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

GNU Linux sebagai solusi

with 3 comments

Musim lalu (kadang saya lebih senang menyebutnya semagai musim daripada semester) saya belum berhasil meyakinkan seorang pun mahasiswa untuk beralih ke GNU/Linux. Atau setidaknya sekedar mencoba-coba dengan lebih intensif. Mungkin karena cara dan gaya saya terlalu “solo”. Musim lalu itu saya tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mencoba salah satu varian Linux. Saya hanya memperkenalkan salah satu varian yang cocok untuk dipergunakan di bidang engineering, CAELinux. Harapannya siapa tahu ada yang proaktif dan mengkaji kembali penggunaan perangkat lunak berdasarkan kebutuhan dirinya yang sebenarnya.

Musim ini tampaknya akan ada sedikit perbedaan. Akhir musim lalu ada beberapa mahasiswa yang mengaku komputernya (sistem operasi komputernya) terkena virus komputer untuk sistem Microsoft Windows. Ini jelas berbahaya, beberapa bahkan sampai merasa perlu untuk menginstall ulang keseluruhan sistemnya. Sedangkan awal musim ini sudah ada beberapa pengakuan yang mengindikasikan terjadinya penyebaran virus melalui USB drive (USB flash disk). Ini jelas tantangan dan masalah yang perlu solusi.

Transfer file via email atau layanan cloud seperti Google Drive memang bisa dilakukan. Tetapi untuk file berukuran relatif besar pilihan ini jelas akan memperlambat proses transfer di kelas. Pilihan lain adalah dengan menggunakan file server sendiri dalam jaringan, seperti yang pernah dilakukan di musim lalu. Sekalipun pilihan ini baik, ada potensi pendidikan yang hilang yang bisa diperoleh jika cara ini satu-satunya cara yang diambil.

Cara lain yang bisa menjadi solusi, dan memang sudah lama (lamaaaaa) sekali dilakukan oleh banyak orang di banyak tempat adalah dengan menggunakan OS GNU/Linux. Banyak yang tidak mau mencoba karena merasa awam, asing. Padahal dahulu sewaktu belajar mempergunakan komputer dengan OS Microsoft Windows, juga sama dalam posisi sebagai awam.

Setelah rationale di atas, dan menetapkan bahwa penggunaan GNU/Linux di musim ini patut untuk lebih serius dilakukan pertanyaannya kemudian adalah cara apa yang akan ditempuh. Pilihan pertama adalah dengan mengganti total sistem operasi (OS) yang telah ada dengan GNU/Linux, terutama jika OS lama itu berstatus bajakan :-D. Sekalipun ini bagus sekali “di atas kertas” tapi pilihan ini akan menyakitkan buat kebanyakan mahasiswa. Beberapa program aplikasi dari sistem MS Windows belum bisa berjalan baik di GNU/Linux, sekalipun dengan bantuan Wine terbaru. Pilihan kedua adalah dengan melakukan dual boot. Jadi dalam satu komputer (misalnya laptop) ada dua sistem operasi, satu Windows dan satu lagi GNU/Linux. Cara inilah yang dulu saya lakukan untuk belajar dengan lebih intensif. Tetapi cara ini juga memiliki kekurangan jika dilakukan di musim berjalan seperti sekarang ini. Paling tidak mahasiswa harus menyediakan ruang yang memadai di hard disk komputernya. Untuk yang memiliki banyak data berharga, perlu membuat salinan untuk meminimalkan risiko saat menggeser partisi dan menginstall OS baru. Hal-hal seperti ini menjadi penghalang untuk orang (mahasiswa) merasa ringan memulai perubahan.

Alternatif ketiga yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi sejak beberapa waktu lalu adalah dengan tanpa mengganggu hard disk di komputer sama sekali. GNU/Linux dapat sepenuhnya dijalankan di CD / DVD / USB drive. Ya, GNU/Lunix seperti Ubuntu itu bisa dijalankan hanya dari flash disk (USB drive) tanpa perlu diinstall di komputer.

Khusus untuk flash disk terdapat keunggulan tambahan bagi GNU/Linux yang merupakan salah satu varian dari UBUNTU (Ubuntu/Lubuntu/Kubuntu/Lubuntu) dan turunannya, yaitu konfigurasi yang diatur selama pengoperasian tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan tersimpan. Sehingga dengan demikian lain kali kita mempergunakannya kita tidak harus mulai lagi dari pengaturan awal.

Ada dua jenis pilihan instalasi GNU/Linux, AFAIK (As Fas As I Know). Yang pertama adalah untuk instalasi tunggal, artinya hanya ada satu sistem operasi nantinya di dalam flash disk. Yang kedua adalah multiboot, artinya kita bisa mengatur agar sebuah USB drive (flash disk) bisa berisi beberapa sistem operasi. Bisa delapan atau bahkan lebih, bergantung pada kapasitas ruang penyimpanannya.

Cara pertama dan kedua dapat dilakukan dari dalam sistem operasi (OS) Windows maupun GNU/Linux seperti Ubuntu atau Fedora. Untuk artikel ini akan dipilih pembuatan dari dalam sistem Windows. Asumsinya adalah sebagian calon pengguna belum pernah melakukan pengaturan dari dalam sistem berbasis GNU/Linux. Tentu saja mereka inilah yang lebih memerlukan artikel semacam ini ketimbang yang memang sudah bisa atau bahkan biasa menggunakan sistem GNU/Linux.

UNetbootin

Jika yang dikehendaki hanyalah satu OS di USB drive (flash disk) maka salah satu aplikasi yang menurut saya cukup mudah dipergunakan adalah UNetbootin. Software ini ada di platform Microsoft Windows dan juga di GNU/Linux.


Gambar 01. Tampilan awal UNetbootin

Gambar di atas ini adalah tampilan awal, kita bisa memilih varian GNU/Linux yang akan diinstall atau bisa memilih yang akan diinstall dengan memilih file ISO (citra disk) yang sudah kita unduh sendiri.


Gambar 02. Sekedar sebagai contoh, saya hendak menginstall MX Linux.


Gambar 03. Proses instalasi gampang, tinggal tunggu sampai selesai.


Gambar 04. Kita tidak perlu menggunakan pilihan Reboot kecuali memang akan dipergunakan di komputer yang sama

YUMI

Jika yang dikehendaki adalah flash disk yang berisi beberapa OS GNU/Linux yang terpisah maka kita bisa mempergunakan aplikasi seperti YUMI.


Gambar 05. Saat pertama YUMI diaktifkan


Gambar 06. Langkah pertama adalah memilih USB drive (flash disk) yang akan dipakai sebagai boot disk


Gambar 07. Sebagai contoh saya menggunakan flash disk 8 GB


Gambar 08. Memilih varian distribusi GNU/Linux yang akan dipakai saat ini.

Untuk setiap saat kita hanya bisa memilih satu varian yang akan diproses. Misalnya kita memilih sepuluh varian GNU/Linux yang akan dipergunakan di dalam USB drive. Maka kita harus mengulangi langkah instalasi yang persis sama ini satu persatu.


Gambar 09. Memilih dengan menunjukkan lokasi file ISO dari varian GNU/Linux yang akan dipakai

Jika opsi Show All ISOs tidak kita aktifkan maka hanya ISO yang relevan dari distribusi (varian) yang kita pilih saja yang akan ditampilkan. Misalnya bahkan seandainya dalam folder yang sama terdapat 20 file ISO, hanya ISO yang berasal dari varian yang kita pilih saja yang akan tampil. Karena itu jika diperlukan untuk melihat varian lain atau kalau varian yang persis sama tidak tercantum dalam daftar maka aktifkan opsi Show All ISOs.


Gambar 10. File ISO sudah terpilih siap untuk ditempatkan ke flash disk


Gambar 11. Tanda bahwa YUMI siap untuk memproses lanjut urutan kerja berikutnya


Gambar 11. Proses penyalinan ke USB drive (flash disk)


Gambar 12. Proses booting pada komputer, sebagai contoh ini pada laptop lama T43

Tidak semua komputer memiliki cara akses yang sama untuk mengubah urutan booting atau mengakses menu pilihan boot secara manual. Misalnya pada IBM (lenovo) T43 cara yang paling singkat adalah dengan menekan kunci F12. Atau kalau mau menggunakan cara panjang adalah dengan menekan tombo “Access IBM”. Sedangkan pada beberapa laptop Asus caranya adalah dengan menekan tombil esc (escape) pada saat awal booting. Di beberapa PC desktop saya temukan caranya adalah dengan menekan tombol F11.


Gambar 13. Menu pilihan boot oleh YUMI, masing-masing varian telah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori


Gambar 14. Contoh daftar menu varian GNU/Linux yang telah siap untuk dijalankan dikelompokkan dalam Linux Distributions


Gambar 15. Salah satu keunggulan YUMI adalah kita dapat menambah dan mengurangi OS yang terinstall dengan mudah


Gambar 16. Contoh varian yang dikelompokkan secara otomatis di bagian System Tools


Gambar 17. Salah satu varian menarik, Chromixium, menggabungkan antara cita rasa OS Chromium dengan GNU/Linux


Gambar 18. Salah satu yang bisa jadi jarang diperhatikan tetapi sungguh menarik, IGOS XDE


Gambar 19. Jika IGOS XDE sekaligus memberikan pilihan akses ke seputuh desktop interface!


Gambar 20. Contoh pilihan menggunakan default yaitu desktop MATE


Gambar 21. Tampilan informasi sistem yang menarik IGOS XDE


Gambar 22. Tampilan lain IGOS, sudah dilengkapi dengan LibreOffice

Ada banyak pilihan silahkan dicoba dan yang mana yang menjadi pilihan bergantung pada keperluan dan selera masing-masing.

Bacaan lanjut:

Written by sunupradana

September 17, 2015 at 1:32 pm

Posted in Komputer, Technology

Tagged with , , ,

Mengapa Gmail?

leave a comment »

“Mengapa harus Gmail?” Begitulah kurang lebih pertanyaan yang saya terima beberapa hari yang lalu. Jawaban pertanyaan itu tentu tergantung dari beberapa hal misalnya; keperluan, lokasi dan waktu. Masing-masing pengaturan tentu memiliki kebutuhan yang berbeda. Misalnya untuk perkuliahan saya lebih memilih Gmail karena akan memudahkan untuk mengakses akun Google. Mengapa Google? Ya karena sampai saat ini sepengatahuan saya platform inilah yang paling praktis untuk bisa mendapatkan beberapa layanan yang dibutuhkan sekaligus dalam “satu paket”.

Google yang sekarang adalah anak perusahaan dari induknya yang bernama Alphabet Inc. Sejak beberapa waktu Google telah memberikan layanan terpadu. Yang paling mudah dikenali adalah layanan mesin pencarinya; Google. Lalu layanan email; Gmail. Layanan audio-visual lewat Youtube. Layanan penyimpanan dokumen di awan (cloud) Google Drive.

Kemudian yang sekarang tidak dapat diabaikan dan akan menjadi semakin penting adalah layanan aplikasi office secara online. Maksudnya, jika dulu sekali kita hanya mengenal layanan aplikasi office terpadu secara offline seperti Microsoft Office, sekarang sudah bermunculan layanan serupa yang diakses secara online. Beberapa bahkan dapat kita pergunakan secara gratis (legal, bukan nyolong).

Layanan yang diberikan oleh Google, yaitu Google Docs, (masih) dapat secara umum dipergunakan dengan gratis. Dari link itu juga kita bisa mengakses layanan serupa yang lebih spesifik seperti; Sheets, Slides, dan Forms. Jadi hanya dengan satu akun Google, kita bisa mengerjakan tugas dengan beberapa aplikasi online gratisan. Ini juga akan mempermudah kita untuk belajar secara praktis nyata untuk berkolborasi. Bekerja sama dalam arti yang sesungguhnya untuk menghasilkan sesuatu yang baik, bukan cuma kisah seremonial…prosedural, yang tidak berorientasi pada pencapaian hasil :-D.

Kegunaannya jelas, tugas kuliah sebagian akan dikerjakan dengan layanan ini. Ini mirip peralihan di masa lalu saat penggunaan komputer masih belum begitu meluas. Sampai perlu ada kursus komputer, karena saat itu belajar dari teman dan keluarga belum begitu mudah. Sekarang, sudah mirip belajar mengemudikan sepeda motor, sudah lumrah belajar bukan di tempat kursus. Nah, pelatihan penggunaan aplikasi perkantoran online ini perlu juga untuk antisipasi kemungkinan di masa yang akan datang. Mirip dengan kursus komputer (desktop) di awal-awal dulu itu :-).

Lalu sebagai wawasan apakah layanan aplikasi perkantoran seperti ini hanya dimiliki oleh Google? Ada yang lain yang juga gratis?

Yang paling cepat melintas di otak saya adalah ingatan tentang Zoho. Ini juga layanan “office” yang gratis untuk dipergunakan. Perbandingan layanan ada di link ini.

Selain Zoho sebenarnya ada juga beberapa layanan yang bisa dipergunakan, antara lain yang mungkin sudah akrab didengar oleh sebagian masyarakat Indonesia adalah layanan Microsoft Office.

Yang juga perlu disebutkan adalah layanan yang mungkin menarik walaupun tidak sebesar ketiga layanan sebelumnya yaitu thinkfree. Di masa-masa yang akan datang mungkin layanan ini akan memberikan alternatif yang menarik yang diperlukan tapi belum dimiliki oleh Google.

 

Bacaan lanjut:

https://en.wikipedia.org/wiki/Online_office_suite

http://www.howtogeek.com/183299/a-free-microsoft-office-is-office-online-worth-using/

http://andybrandt531.com/2014/09/google-docs-zoho-writer-face-ring-round-2/

http://www.pcworld.com/article/2872072/office-online-vs-office-365-what-s-free-what-s-not-and-what-you-really-need.html

Written by sunupradana

September 10, 2015 at 8:49 am

Posted in Internet

Tagged with , ,

Mengapa sinusoida?

leave a comment »

Saat belajar mengenai elektronika, elektrikal, listrik atau sistem daya, kadang-kadang jika kita memiliki rasa ingin tahu yang cukup baik maka kita akan bertanya-tanya,”Mengapa gelombang arus bolak-baik selalu berbentuk gelombang sinus?”

Meskipun tentu di seluruh penjuru bumi tidak selalu bentuk gelombang arus bolak-balik itu merupakan gelombang sinus, tetapi bentuk paling dasarnya memang begitu. Pertanyaannya adalah: mengapa? Ada juga yang bertanya mengapa bentuk gelombang sinus yang dipilih untuk sistem arus bolak-balik?

Pertama, sebenarnya tidak ada yang manusia yang memilih bentuk sinusoida untuk AC (alternating current), setidaknya sebatas pengetahuan saya (AFAIK). Bentuk gelombang itu adalah konsekuensi langsung dari sistem fisis yang ada. Khusus untuk sistem kelistrikan kita bisa dengan mudah meghubungkannya dengan bentuk umum generator pembangkit tegangan.

Lalu apa hubungannya antara bentuk generator dengan bentuk gelombang yang naik-turun-berbaik arah itu? Pertama-tama mari perhatikan bentuk dari generator yang disederhanakan.


Gambar 1
sumber gambar:
http://www.electronics-tutorials.ws/accircuits/sinusoidal-waveform.html

Untuk bisa memahami bagaimana tegangan dihasilkan dari perputaran rotor kita bisa melihat kembali aturan-tangan-kanan Fleming.


Gambar 2
sumber gambar:
http://goo.gl/7zpXJE


Gambar 3
sumber gambar:
http://hvacreducation.net/ExampleLessons/module2_112-4.html

 

Dengan membandingkan antara Gambar 3 dengan Gambar 1, kita bisa melihat mengapa gelombang yang dihasilkan berupa gelombang sinus. Berikutnya untuk mendapatkan abstraksi yang lebih baik, kita bisa melihat pada Gambar 4 berikut.

Gambar 4
sumber gambar:
http://giphy.com/gifs/wave-ac-exchange-F5rQlfTXqCJ8c


Gambar 5
sumber gambar:
http://goo.gl/i59TZl

Gambar 5 memberikan tampilan animasi yang lebih lambat dari Gambar 4, sehingga kita bisa melihat dengan lebih seksama korelasi antara posisi rotor dengan pada titik-titik pada bentuk gelombang yang dihasilkan.


Gambar 6
sumber gambar:
http://www.technologyuk.net/mathematics/trigonometry/sine_function.shtml

 

Gambar 6 adalah sistem yang sama, hanya saja penempatan “generator” dan gelombang tegangan keluaran saja yang dibalik posisinya.


Gambar 7
sumber gambar:
http://www.electronics-tutorials.ws/accircuits/sinusoidal-waveform.html

 

Untuk setiap saat tertentu (instantaneous) kita dapat menghitung berapa nilai tegangan saat itu sebagai fungsi dari sudut fase generator.


Gambar 8
sumber gambar:
http://www.electronics-tutorials.ws/accircuits/sinusoidal-waveform.html

Pada Gambar 8 diperlihatkan beberapa posisi untuk sudut kelipatan 45°.

 


Gambar 9 Korelasi loop pada rotor dengan gelombang tegangan
sumber gambar:
http://goo.gl/4dO9KJ


Gambar 10
sumber gambar:
https://en.wikipedia.org/wiki/Single-phase_generator

 

 


Gambar 11 Persamaan untuk menghitung nilai tegangan sesaat.
sumber gambar:
http://www.electronics-tutorials.ws/accircuits/sinusoidal-waveform.html

 


Gambar 12
sumber gambar:
http://tinkerine.com/pseudo-sine-wave-generator-ditto/

Pada Gambar 12, kita bisa melihat bagimana bentuk sinusoida dapat dihasilkan dari “generator” sederhana seperti itu.

 


Gambar 13
sumber gambar:
https://goo.gl/tf8LYR

Jika pada gambar-gambar sebelumnya kita melihat hanya dari satu sudut pandang saja, maka pada Gambar 13 kita bisa melihat dari dua sudut pandang. Yang pertama, tepat dari arah depan, persis seperti pada gambar-gambar sebelumnya dan satu dari samping. Dengan cara ini kita bisa melihat dimensi yang berbeda dari satu fenomena yang sama.


Gambar 14
sumber gambar:
https://goo.gl/tf8LYR


Gambar 15
sumber gambar:
https://goo.gl/tf8LYR

 

 


Gambar 16
sumber gambar:
https://en.wikipedia.org/wiki/Phasor


Gambar 17
sumber gambar:
http://goo.gl/Q12G6K


Gambar 18
sumber gambar:
https://en.wikipedia.org/wiki/Talk%3ASimple_harmonic_motion


Gambar 19
sumber gambar:
http://www.iflscience.com/brain/math-gifs-will-help-you-understand-these-concepts-better-your-teacher-ever-did

 

 


Gambar 20
sumber gambar:
http://www.gailruby.com/SHMGraph.htm


Gambar 21
sumber gambar:
http://goo.gl/x765kH


Gambar 22
sumber gambar:
http://www.mysearch.org.uk/website1/html/221.SHM.html


Gambar 23
sumber gambar:
http://www.rmcybernetics.com/projects/experiments/experiments_resonance_simple_harmonic_motion.htm

 

UPDATE 24/09/2015

 

sumber: http://math-is-beautiful.tumblr.com/

 

sumber: http://rebloggy.com/

 

 

 

font cache: Ψ α β π θ μ Φ φ ω Ω ° ~ ± ≈ ≠ ≡ ≤ ≥ ∞ ∫ • ∆

Referensi tambahan:

https://en.wikipedia.org/wiki/Fleming’s_right-hand_rule

https://en.wikipedia.org/wiki/Single-phase_generator

http://electronics.stackexchange.com/questions/152600/why-is-sine-wave-preferred-over-other-waveforms

http://www.iflscience.com/brain/math-gifs-will-help-you-understand-these-concepts-better-your-teacher-ever-did

https://en.wikipedia.org/wiki/Phasor

https://www.boundless.com/physics/textbooks/boundless-physics-textbook/waves-and-vibrations-15/periodic-motion-123/sinusoidal-nature-of-simple-harmonic-motion-434-1837/

Written by sunupradana

September 9, 2015 at 11:52 pm

Metasearch dengan Dogpile dan Ixquick

leave a comment »

Biasanya layanan Google.com adalah pilihan utama untuk mencari informasi di Internet. Pilihan lain yang cukup bagus adalah Bing.com yang dimiliki oleh Microsoft. Tetapi sebenarnya ada pilihan lain untuk mencari informasi di Internet, mesin pencari dengan teknologi metasearch.


Image credit: https://commons.wikimedia.org/wiki/User:JakobVoss

Dengan menggunakan teknologi metasearch kita dimungkinkan untuk memperoleh hasil pencarian yang berasal dari beberapa mesin pencari, misalnya sekaligus dari Google dan Bing.

Ada dua situs metasearch yang sampai saat saya tulis artikel ini, masih aktif yaitu; Dogpile dan Ixquick .

Selain Dogpile, Ixquick juga adalah pilihan yang menarik. Situs ini menyatakan akan menjamin privasi dari semua penggunanya, sebuah tambahan yang menarik dari fasilitas metasearch.

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Metasearch_engine

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_search_engines#Metasearch_engines

https://www.dogpile.com/

https://ixquick.com/

Written by sunupradana

September 9, 2015 at 2:03 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , ,

Screen capture dengan ShareX

leave a comment »

Salah satu aplikasi untuk screen capture dan berbagi file lainnya yang menurut saya bagus di platform Windows (setidaknya di Windows XP ori saya) adalah software ShareX.

Semalam saya mencari-cari aplikasi yang memudahkan saya untuk melakukan unggah (upload) hasil capture langsung ke tempat penyimpanan online. Di sistem Gnu/Linux andalan saya adalah aplikasi Shutter dan juga JShot.

Kekurangan versi terakhir (sampai tulisan ini saya buat) dari JShot adalah plugin untuk upload ke Picasa sudah tidak lagi berfungsi. Kemungkinan berkenaan dengan masalah versi OAuth. Begitu pun untuk Twitpic, gagal unggah.

Solusi untuk masalah ini saya temukan sebagai hasil dari proses googling. Nama aplikasi pengganti yang sesuai adalah ShareX, legal & gratis. Software ini sebenarnya punya kemampuan untuk lebih dari sekedar mengunggah langsung hasil capture ke layanan online, tetapi juga untuk berbagi file.

shareX.jpg

Jika tertarik bisa langsung menuju ke situsnya: ShareX

Written by sunupradana

September 9, 2015 at 12:09 pm

Posted in Komputer

Tagged with ,

Kisah DMM KW06-796 troubleshooting dan review pendahuluan

with 2 comments

Log kali ini adalah cerita tentang pengalaman saya dengan multimeter alias DMM (Digital Multimeter) Krisbow KW06-796. Hitung-hitung mengawali mutimeter review yang sekilas pintas. Awalnya saya pernah melihat multimeter digital ini di Ace Hardware di mall SCP Samarinda. Yang membuat saya tertarik untuk saat itu adalah tulisan TRMS, yang saya duga adalah kepanjangan dari True RMS. Menarik karena sejak lama saya ingin memiliki sendiri secara pribadi sebuah DMM yang memiliki kemampuan True RMS. Tapi pada saat itu pertimbangan saya, kalau keunggulannya “hanya” karena TRMS maka biaya yang harus dikeluarkan untuk membelinya unjustifiable.

Belakangan saya melihatnya lagi, kali ini di Ace Hardware mall Robinson Samarinda. Saya memperhatikannya dengan lebih baik, entah kenapa. Pulang dari sana saya seperti biasa, browsing Internet jika ingin membeli barang elektronik. Saya menemukan beberapa informasi yang menarik dari beberapa situs dan dokumen. Dari situs Krisbow sendiri saya menemukan beberapa fitur menarik, terutama fasilitas data logger. Dokumen PDF dari Krisbow sendiri menyebut DMM KW0600796 ini sebagai “Digital multimeter Data Logger”. Selain itu konon DMM ini mampu mengukur arus dengan resolusi 0.1 μA pada rentang 600.0 μA.

Sebenarnya walaupun tertarik saya segan untuk menambah lagi alat ukur dari Krisbow. Saya pikir saya lebih baik menabung lebih banyak untuk menunggu siapa tahu ada meter keluaran Fluke yang sesuai yang dijual di toko online seperti Tokopedia. Tapi kemudian saya menemukan informasi ada DMM yang bentuknya mirip sekali dengan DMM Krisbow ini. Namanya EM6000 dan diproduksi oleh All-Sun (Eastern Technology Group). Awalnya tetap saja saya belum begitu tertarik, mengingat keraguan saya akan kemampuan alat ukur seperti ini.

image credit: www.all-sun.com

image credit: www.all-sun.com

image credit: www.all-sun.com

image credit: www.all-sun.com

Baiklah, saya berminat untuk membaca lebih lanjut. Ternyata di luar Indonesia, DMM ini telah diberi merk ulang juga, setidaknya untuk varian terdahulunya. Misalnya “Precision Gold N56FU”, yang memiliki fitur yang hampir identik dengan perbedaan adanya fasilitas pengukuran hFE (bukan hanya Hz/Duty pada varian EM6000 yang di-rebrand menjadi KW0600796). Beberapa keterangan lebih lanjut mengenai alat ini dapat dibaca dari posting pengguna bernama rolycat di EEVBLOG. DMM ini termasuk kelompok 6000-count, akan cukup bagus untuk penggunaan saya pribadi. Prosesor yang dipakai adalah Fortune Semiconductor FS9922-DMM4, konverter True RMS yang dipakai adalah AD737, op-amp yang dipakai adalah TI TLC2252 rail-to-rail op-amp, untuk komunikasi data DMM ini menggunakan Silicon Labs CP210x USB to UART bridge driver dengan photodiode sebagai komponen transfer data optik, demikian menurut rolycat. Lebar pita (bandwidth) untuk pengukuran AC True RMS adalah pada rentang frekuensi 40Hz~400Hz. Ini menarik juga, sekalian nanti jika sudah sempat dapat dijadikan bahan untuk berbagi mengenai pembacaan gelombang AC untuk mendapatkan nilai RMS dengan menggunakan IC “True RMS-to-DC Converter”.

Berikut beberapa foto yang diunggah rolycat di EEVBLOG menggunakan situs Imgur yang banned di Indonesia.

image credit: rolycat, eevblog.com

image credit: rolycat, eevblog.com

image credit: rolycat, eevblog.com

Komunikasi data dengan isolasi optik
image credit: rolycat, eevblog.com

Ok, baiklah cukup menarik untuk saya. Sekalipun ada beberapa laporan bahwa IC prosesor utama yang sama yang dipergunakan di produk DMM oleh produsen lain bisa mendadak mati. Misalnya dalam review yang dilakukan oleh mjlorton:

Realistis saja dengan harga dan ketersediaan lokal maka kalaupun ini risiko, ini risiko yang layak cukup layak diambil. Singkat kata, jadilah saya membeli multimeter digital ini. Berdasarkan pengalaman dan karena toko penjual meter ini bukanlah toko yang khusus/sekaligus menjual komponen elektronika, maka saya membawa persediaan komponen untuk menguji dari rumah. Seperti biasa, minimal saya membawa resistor lalu cell (baterai) 9 volt dan 1,5 volt, tidak ketinggalan diode penyearah. Jika DMM yang hendak diuji singkat memiliki fasilitas pemeriksaan kapasitor seperti ini, saya juga membawa elco dari rumah. Di toko saya periksa semua fasilitias pengukuran satu persatu. Hasilnya cukup memuaskan, untuk pengukuran AC saya hanya bisa mengambil nilai tegangan dari outlet yang tersedia. Untuk pengukuran, yang tidak saya uji hanyalah pengukuran frekuensi dan duty cycle.

Begitu pun untuk fasilitas data logger, tidak saya coba karena asumsinya semuanya akan lancar saja. Lagi pula saya menduga kalau harus menginstall software di toko lalu mencobanya akan memakan waktu yang relatif lama. Sungguh asumsi yang berbahaya dan saya terbukti salah.


Sebelum kabel USB dipasang


Setelah kabel USB menghubungkan laptop dengan DMM

Di rumah saya menginstall driver seperti pada petunjuknya dan berhasil. Saya kemudian melakukan instalasi software data logger. Berhasil dan dapat ditampilkan dengan baik. Masalahnya adalah setiap kali saya mencoba meng-klik connect untuk menghubungkan antara software dengan DMM maka akan ada pesan kesalahan. Biasanya “error opening serial port”. Bingung juga, padahal driver sudah berfungsi dengan baik. Awalnya secara otomatis pengubah serial-USB diberi posisi otomatis pada COM14. Karena tidak berhasil maka saya coba pindah secara manual ke COM20, tetap juga gagal. Posisi COM14 adalah posisi paling rendah yang masih tersedia di laptop “sepuh” ThinkPad T43 dengan Microsoft Windows XP ori milik saya ini. Tadinya sempat menduga juga apakah karena XP SP3 yang jadul yang menjadi penyebabnya. Tetapi menurut petunjuk dan penamaan software seharusnya tidak masalah bahkan sampai ke Win98SE.

Untuk mempersingkat waktu mengoprek saya bawa kembali ke Ace Hardware di mall Robinson. Tujuannya untuk eksekusi dua alternatif, pertama pinjam laptop atau komputer di sana untuk menguji, siapa tahu sistem laptop saya bermasalah. Kemungkinan kedua adalah menguji degnan peralatan DMM tipe sama yang masih ada di sana. Alternatif pertama gagal karena menurut para tenaga penjual tidak ada laptop di sana dan komputer yang ada tidak boleh dipakai untuk menguji. Masih masuk akal juga. Jadilah alternatif kedua yang berjalan, itu pun sebenarnya didahulukan sebagai pilihan pertama oleh salah seorang pegawai di sana. Kasusnya sama, DMM baru di sana juga tidak mau mentransfer data ke laptop saya sekalipun driver-nya tidak menunjukkan kelainan.

Ini jelas meresahkan saya karena memang dari saat pertama saya membeli saya sudah diberi tahu bahwa garansinya hanya berlaku selama 14 hari, garansi toko. Selepas itu saya harus membawanya sendiri ke pusat perbaikan Kawan Lama Sejahtera di Alaya. Saat datang yang kedua ini saya malah diminta untuk langsung datang ke service center di Alaya. Argumentasinya sebenarnya masuk akal, diharapkan saya saja yang belum benar mengoperasikan alat ini :-). Yang membuat saya kecewa sebenarnya ketika saya tanya no kontak dari service center itu, para pegawai di Ace Hardware mengaku tidak memiliki nomornya. Padahal kan masih satu grup perusahaan dan lagi pula diakui bahwa alat-alat instrumen itu disuplai oleh kantor yang di Alaya itu. Untungnya saya masih ditunjukkan lokasi yang jelas dari kantor tersebut. Saya buka Google Map, dan benar saja perkiraan saya salah lagi. Karena “kurang piknik” saya sempat tidak ngeh ketika beberapa kali disebutkan “Di depan Giant.” Saya pikir malah di bawah bukitnya, di dekat Jalan Sentosa, ternyata masuk ke jalan Alaya sampai di jalanan yang menurun. Di situ jelas terlihat pusat perbelanjaan Giant. Bagi yang perlu alamatnya ini saya tampilkan, semoga manajemen Kawan Lama Sejahtera Samarinda juga tanggap, silahkan bagi-bagi kartunya untuk ditempel di etalase kaca di gerai-gerai Ace Hardware.

Karena mendekati jam lima sore saya disarankan untuk besok saja ke kantor KLS ini. Tapi sore itu sekalian jalan-jalan mencari lokasinya saya putuskan saja untuk mencoba ke kantor itu. Sampai di sana saya diterima oleh dua CS yang cukup responsif, ramah dan sopan. Saya dihubungkan ke teknisi yang katanya berposisi di Balikpapan. Saya jelaskan permasalahannya dari awal. Penjelasan mas teknisi ini sama dengan penjelasan pegawai di Ace Hardware tadi. Untuk beberapa barang, termasuk untuk DMM yang saya beli, tidak semua mereka menguasai. Singkatnya adalah urusan Jakarta. Mas teknisi ini menjawab dan mencoba menjelaskan dengan sangat sopan dan mencoba untuk helpful. Ini catatan bagi manajemen Kawan Lama Sejahtera pusat, kalau kebetulan membaca tulisan saya ini. Kasihan teknisi di lapis bawah kalau tidak dibekali cukup. Di dunia online seperti sekarang ini, review produk bisa menjadi pembantu atau malah jadi penghambat penjualan suatu barang. Pelayanan konsumen itu utama. Saya tinggal data diri dan saya pun minta data kontak dari mas teknisi yang namanya sengaja tidak saya tulis tersebut.

Sampai di rumah lagi, saya agak putus asa. Saya coba hubungi perusahaan pusat melalui form kontak di situs Krisbow, siapa tahu ada respon awal. Siapa tahu responnya cepat seperti respon Tri atau bahkan Speedy, :-). Ternyata sampai saya tulis log ini, belum ada tanggapan awal. Kalau sama CS Speedy (Telkom Indnesia) sekarang, ibarat kata baru dicolek dikit sudah mlumpat. Cukup di-twit di Twitter, langsung follback dan bisa DM-an.

Secara teknis saya melihat bahwa driver sudah terpasang dengan benar. Hanya komunikasi data bermasalah dari software EM6000 Communication Program V1.72 ke DMM. Untuk itu saya mecoba melihat ada atau tidak data yang sebenarnya terkirim dari DMM. Untuk itu saya mencoba troubleshooting menggunakan RealTerm. Dari port 14 dan 20 saya bisa melihat data dump, seperti pada gambar (maaf ini screencapture-nya pada kondisi port 9).


Ini contoh berhasil pada port 9, pada kondisi awal di port 14 juga sama.


Ini contoh berhasil pada port 9, pada kondisi awal di port 14 juga sama.


Ini contoh berhasil pada port 9, pada kondisi awal di port 14 juga sama.

Kesimpulan sementaranya bahwa ada data terkirim tetapi software EM6000 tidak menerima dengan baik sehingga tidak terbaca sama sekali dan menghasilkan kondisi error. Saya sebenarnya sudah hampir menyerah, di beberapa forum, belakangan saya baca lebih teliti ternyata ada beberapa orang yang mengalami permasalahan yang sama. Sampai terakhir belum ada solusinya, padahal untuk kasus saya tombol USB-nya sudah saya tekan-tahan dengan benar sampai indikator tulisan USB mincul.

Saya iseng melakukan uninstall beberapa device, termasuk internal modem 56k di laptop T43 ini. Hasilnya ternyata COM9 jadi menganggur, kosing dan bisa dipergunakan. Nah ini ternyata solusinya. Setelah menggunakan COM9 yang sekarang kosong, software EM6000 berfungsi.


Driver pengalih serial-USB sekarang beroperasi pada port COM9


Rupanya aplikasi alias software EM6000 Communication Program V1.72 tidak mau beroperasi dengan COM14 atau yang lebih besar sekalipun port itu kosong. Ini bisa menjadi masalah bagi pengguna seperti saya yang port di bawah masih terpakai untuk peralatan yang lain. Mungkin ada penjelasan yang lebih teknis tentang akses port ini, tapi sampai sekarang inilah yang masih secara sederhana saya pahami. Bebaskan port di bawah, dalam kasus saya port 9 cukup untuk memfungsikan data logger ini.


Juga jangan lupa untuk mengaktifkan komunikasi data pada DMM dengan tekan-tahan tombol USB

Lumayan lah data logger seperti ini bisa dijadikan pembanding untuk data logger buatan sendiri nantinya

Data logger untuk suhu

Lumayan lega, intinya walaupun driver serial-USB tidak bermasalah dengan penempatan com port secara otomatis, tetapi software logger bermasalah dan tidak mau bekerja. Untuk sistem saya COM9 terbukti berfungsi dengan baik. Jika ada peralatan yang sudah terlebih dahulu menggunakannya, terpaksa harus dikalahkan.

Permashalan pokok sudah selesai, tinggal satu bug lagi yang cukup mengganggu. Awalnya setelah selesai mencoba logging untuk satu pengukuran saya mencoba untuk membuat yang baru dengan menggunakan tombol new, hasilny keluar pesan error dan software hang. Tadinya saya kita ini masalah disconnect dan hubungan elektrikal lewat kabel. Samapai saya mencoba untuk membuat new bahkan untuk saat awal pengukran. Hasilnya sama, error juga. Jadi kesimpulan saya sampai saat ini, untuk tiap pengukuran baru maka software perlu benar-benar ditutup terlebih dahulu. Kalau hanya menggunakan tombol new maka akan timbul error.

Demikian sekilas cerita troubleshooting ini. Lain waktu akan coba saya bandingkan dengna DMM yang ada. Maklum saya tidak punya akses ke calibrator yang dapat di-traced sampai ke acuan primer. Saya punya Sanwa CD771 dan CD800a, di kantor ada beberapa Fluke 179 dan Sanwa CD772, kedua tipe ini True RMS. Rencananya akan saya bandingkan dengan menggunakan sumber tegangan variabel DC, lalu variabel AC lalu pada sistem TRIAC. Semoga cukup waktunya.

Referensi:

Written by sunupradana

August 25, 2015 at 11:55 pm

Posted in Electronics

Tagged with ,