Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Archive for the ‘Technology’ Category

GNU Linux sebagai solusi

with 3 comments

Musim lalu (kadang saya lebih senang menyebutnya semagai musim daripada semester) saya belum berhasil meyakinkan seorang pun mahasiswa untuk beralih ke GNU/Linux. Atau setidaknya sekedar mencoba-coba dengan lebih intensif. Mungkin karena cara dan gaya saya terlalu “solo”. Musim lalu itu saya tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mencoba salah satu varian Linux. Saya hanya memperkenalkan salah satu varian yang cocok untuk dipergunakan di bidang engineering, CAELinux. Harapannya siapa tahu ada yang proaktif dan mengkaji kembali penggunaan perangkat lunak berdasarkan kebutuhan dirinya yang sebenarnya.

Musim ini tampaknya akan ada sedikit perbedaan. Akhir musim lalu ada beberapa mahasiswa yang mengaku komputernya (sistem operasi komputernya) terkena virus komputer untuk sistem Microsoft Windows. Ini jelas berbahaya, beberapa bahkan sampai merasa perlu untuk menginstall ulang keseluruhan sistemnya. Sedangkan awal musim ini sudah ada beberapa pengakuan yang mengindikasikan terjadinya penyebaran virus melalui USB drive (USB flash disk). Ini jelas tantangan dan masalah yang perlu solusi.

Transfer file via email atau layanan cloud seperti Google Drive memang bisa dilakukan. Tetapi untuk file berukuran relatif besar pilihan ini jelas akan memperlambat proses transfer di kelas. Pilihan lain adalah dengan menggunakan file server sendiri dalam jaringan, seperti yang pernah dilakukan di musim lalu. Sekalipun pilihan ini baik, ada potensi pendidikan yang hilang yang bisa diperoleh jika cara ini satu-satunya cara yang diambil.

Cara lain yang bisa menjadi solusi, dan memang sudah lama (lamaaaaa) sekali dilakukan oleh banyak orang di banyak tempat adalah dengan menggunakan OS GNU/Linux. Banyak yang tidak mau mencoba karena merasa awam, asing. Padahal dahulu sewaktu belajar mempergunakan komputer dengan OS Microsoft Windows, juga sama dalam posisi sebagai awam.

Setelah rationale di atas, dan menetapkan bahwa penggunaan GNU/Linux di musim ini patut untuk lebih serius dilakukan pertanyaannya kemudian adalah cara apa yang akan ditempuh. Pilihan pertama adalah dengan mengganti total sistem operasi (OS) yang telah ada dengan GNU/Linux, terutama jika OS lama itu berstatus bajakan :-D. Sekalipun ini bagus sekali “di atas kertas” tapi pilihan ini akan menyakitkan buat kebanyakan mahasiswa. Beberapa program aplikasi dari sistem MS Windows belum bisa berjalan baik di GNU/Linux, sekalipun dengan bantuan Wine terbaru. Pilihan kedua adalah dengan melakukan dual boot. Jadi dalam satu komputer (misalnya laptop) ada dua sistem operasi, satu Windows dan satu lagi GNU/Linux. Cara inilah yang dulu saya lakukan untuk belajar dengan lebih intensif. Tetapi cara ini juga memiliki kekurangan jika dilakukan di musim berjalan seperti sekarang ini. Paling tidak mahasiswa harus menyediakan ruang yang memadai di hard disk komputernya. Untuk yang memiliki banyak data berharga, perlu membuat salinan untuk meminimalkan risiko saat menggeser partisi dan menginstall OS baru. Hal-hal seperti ini menjadi penghalang untuk orang (mahasiswa) merasa ringan memulai perubahan.

Alternatif ketiga yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi sejak beberapa waktu lalu adalah dengan tanpa mengganggu hard disk di komputer sama sekali. GNU/Linux dapat sepenuhnya dijalankan di CD / DVD / USB drive. Ya, GNU/Lunix seperti Ubuntu itu bisa dijalankan hanya dari flash disk (USB drive) tanpa perlu diinstall di komputer.

Khusus untuk flash disk terdapat keunggulan tambahan bagi GNU/Linux yang merupakan salah satu varian dari UBUNTU (Ubuntu/Lubuntu/Kubuntu/Lubuntu) dan turunannya, yaitu konfigurasi yang diatur selama pengoperasian tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan tersimpan. Sehingga dengan demikian lain kali kita mempergunakannya kita tidak harus mulai lagi dari pengaturan awal.

Ada dua jenis pilihan instalasi GNU/Linux, AFAIK (As Fas As I Know). Yang pertama adalah untuk instalasi tunggal, artinya hanya ada satu sistem operasi nantinya di dalam flash disk. Yang kedua adalah multiboot, artinya kita bisa mengatur agar sebuah USB drive (flash disk) bisa berisi beberapa sistem operasi. Bisa delapan atau bahkan lebih, bergantung pada kapasitas ruang penyimpanannya.

Cara pertama dan kedua dapat dilakukan dari dalam sistem operasi (OS) Windows maupun GNU/Linux seperti Ubuntu atau Fedora. Untuk artikel ini akan dipilih pembuatan dari dalam sistem Windows. Asumsinya adalah sebagian calon pengguna belum pernah melakukan pengaturan dari dalam sistem berbasis GNU/Linux. Tentu saja mereka inilah yang lebih memerlukan artikel semacam ini ketimbang yang memang sudah bisa atau bahkan biasa menggunakan sistem GNU/Linux.

UNetbootin

Jika yang dikehendaki hanyalah satu OS di USB drive (flash disk) maka salah satu aplikasi yang menurut saya cukup mudah dipergunakan adalah UNetbootin. Software ini ada di platform Microsoft Windows dan juga di GNU/Linux.


Gambar 01. Tampilan awal UNetbootin

Gambar di atas ini adalah tampilan awal, kita bisa memilih varian GNU/Linux yang akan diinstall atau bisa memilih yang akan diinstall dengan memilih file ISO (citra disk) yang sudah kita unduh sendiri.


Gambar 02. Sekedar sebagai contoh, saya hendak menginstall MX Linux.


Gambar 03. Proses instalasi gampang, tinggal tunggu sampai selesai.


Gambar 04. Kita tidak perlu menggunakan pilihan Reboot kecuali memang akan dipergunakan di komputer yang sama

YUMI

Jika yang dikehendaki adalah flash disk yang berisi beberapa OS GNU/Linux yang terpisah maka kita bisa mempergunakan aplikasi seperti YUMI.


Gambar 05. Saat pertama YUMI diaktifkan


Gambar 06. Langkah pertama adalah memilih USB drive (flash disk) yang akan dipakai sebagai boot disk


Gambar 07. Sebagai contoh saya menggunakan flash disk 8 GB


Gambar 08. Memilih varian distribusi GNU/Linux yang akan dipakai saat ini.

Untuk setiap saat kita hanya bisa memilih satu varian yang akan diproses. Misalnya kita memilih sepuluh varian GNU/Linux yang akan dipergunakan di dalam USB drive. Maka kita harus mengulangi langkah instalasi yang persis sama ini satu persatu.


Gambar 09. Memilih dengan menunjukkan lokasi file ISO dari varian GNU/Linux yang akan dipakai

Jika opsi Show All ISOs tidak kita aktifkan maka hanya ISO yang relevan dari distribusi (varian) yang kita pilih saja yang akan ditampilkan. Misalnya bahkan seandainya dalam folder yang sama terdapat 20 file ISO, hanya ISO yang berasal dari varian yang kita pilih saja yang akan tampil. Karena itu jika diperlukan untuk melihat varian lain atau kalau varian yang persis sama tidak tercantum dalam daftar maka aktifkan opsi Show All ISOs.


Gambar 10. File ISO sudah terpilih siap untuk ditempatkan ke flash disk


Gambar 11. Tanda bahwa YUMI siap untuk memproses lanjut urutan kerja berikutnya


Gambar 11. Proses penyalinan ke USB drive (flash disk)


Gambar 12. Proses booting pada komputer, sebagai contoh ini pada laptop lama T43

Tidak semua komputer memiliki cara akses yang sama untuk mengubah urutan booting atau mengakses menu pilihan boot secara manual. Misalnya pada IBM (lenovo) T43 cara yang paling singkat adalah dengan menekan kunci F12. Atau kalau mau menggunakan cara panjang adalah dengan menekan tombo “Access IBM”. Sedangkan pada beberapa laptop Asus caranya adalah dengan menekan tombil esc (escape) pada saat awal booting. Di beberapa PC desktop saya temukan caranya adalah dengan menekan tombol F11.


Gambar 13. Menu pilihan boot oleh YUMI, masing-masing varian telah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori


Gambar 14. Contoh daftar menu varian GNU/Linux yang telah siap untuk dijalankan dikelompokkan dalam Linux Distributions


Gambar 15. Salah satu keunggulan YUMI adalah kita dapat menambah dan mengurangi OS yang terinstall dengan mudah


Gambar 16. Contoh varian yang dikelompokkan secara otomatis di bagian System Tools


Gambar 17. Salah satu varian menarik, Chromixium, menggabungkan antara cita rasa OS Chromium dengan GNU/Linux


Gambar 18. Salah satu yang bisa jadi jarang diperhatikan tetapi sungguh menarik, IGOS XDE


Gambar 19. Jika IGOS XDE sekaligus memberikan pilihan akses ke seputuh desktop interface!


Gambar 20. Contoh pilihan menggunakan default yaitu desktop MATE


Gambar 21. Tampilan informasi sistem yang menarik IGOS XDE


Gambar 22. Tampilan lain IGOS, sudah dilengkapi dengan LibreOffice

Ada banyak pilihan silahkan dicoba dan yang mana yang menjadi pilihan bergantung pada keperluan dan selera masing-masing.

Bacaan lanjut:

Advertisements

Written by sunupradana

September 17, 2015 at 1:32 pm

Posted in Komputer, Technology

Tagged with , , ,

Parameter penting osiloskop dijital (digital oscilloscope) DSO

leave a comment »

View this document on Scribd

Tautan (link) lain yang bagus untuk dipelajari mengenai beberapa parameter penting dari DSO seperti bandwidth, sample rate, memory depth, resolution and accuracy telah diurutkan sebagai berikut:

  1. http://www.picotech.com/applications/oscilloscope_tutorial.html
  2. http://www.ni.com/white-paper/4333/en/
  3. http://www.tek.com/document/application-note/real-time-versus-equivalent-time-sampling

Written by sunupradana

December 26, 2014 at 9:33 am

Digital Literacy, Part I (search engine)

leave a comment »

Written by sunupradana

September 26, 2014 at 6:33 pm

5 Suggestions for Better STEM Education, From Students [full article]

with one comment

Although demand for workers with STEM qualifications has only grown in recent years, a minority of students elect to pursue science, technology, engineering, and mathematics in high school and college. To spark a discussion about how US schools can motivate more students to The USA Science and Engineering Festival brought together its youth advisors for a Twitter chat on April 17th. During the discussion, several themes emerged — suggestions about how to improve STEM education from the very people who stand to benefit from that training.

Schools are focusing too much on memorization and not enough on problem-solving, killing student interest in STEM topics early.

“It would be great if schools allowed kids to solve real problems, to learn by doing,” said Erik Martin. “My education did not aid interest, or work at all—huge failure there.”

In contrast, he says “making games is a great way to get into the tech space!” He knows this firsthand; in his 2013 TEDxRedmond talk, “How World of Warcraft Saved Me and My Education,” Erik described finding resilience, curiosity, and courage in gaming that he’d never had the chance to find in school.

“The most wonderful of art forms – from the resilient tardigrades to the billions of neuronal connections that we call consciousness, fascinate me. But sometimes, that beauty can disappear,” said Omar Abudayyeh, a Harvard MD/PhD student, commenting on the vast stores of information that medical school forces students to commit to memory.

To provide those opportunities for problem-solving, schools need to let students conduct science research projects—early and often.

“Student-led research is better than the current ‘bulimic’ education system which advocates rote memorization,” said cancer researcher — and high school student — Jack Andraka. Jack found his first research opportunities outside of school by contacting hundreds of university professors for lab space. Param Jaggi, founder of a green tech startup, said, “Learn by doing. Education should not be restricted to a classroom or a textbook. Some science and tech concepts only come to life in the lab.”

Grown-up teachers aren’t the only teachers in the room—peer-to-peer learning can be leveraged for incredible gains in STEM education.

This semester I took my first-ever Computer Science and Engineering class. As I squinted at seemingly incomprehensible lines of C, shook my fist when code failed to compile, wrestled with wires, and tried to learn all the curves and edges of my Arduino, my saviors weren’t my teachers or even Wikipedia—they were my classmates. Peer-to-peer learning is powerful. Yet, as Erik Martin said, “peer-to-peer is something educational technology often overlooks.”

Schools need to approach science education as more than a way to prepare future doctors and engineers; STEM is about satisfying human curiosity.

I’ve oftentimes described myself as a “humanities kid.” It was easy, convenient, and gave me the peace of mind I needed to tune out during biology lectures with the attitude “I’m not going to be a scientist, so why bother?” I realized later that STEM was about more than creating future scientists, but school rarely gave me a compelling “why care” for science that didn’t have to do with career paths.

As Jack Andraka said, “science satisfies the innate curiosity of humans—however, schools do not teach it this way.” This rings true with me. I pushed away mathematics textbooks and evaded AP science classes until my senior year. It was only innate, human curiosity that made me interested in STEM—it was asking questions, making cool things happen with code, and falling in love with the universe the nights as I watched meteor showers streak across the sky.

Failure is life’s built-in educator

“Failure is sometimes necessary and unavoidable, and most often there’s a lesson to be learned that can be applied towards achieving future success,” said Parker Liautaud, a leader of polar research expeditions. “For me, not reaching the North Pole was by far the worst failure of my life.” Despite the important role of failure in life, school and society tends to “put everything into two boxes: success or failure. But I believe there’s a third box and it’s called Not Trying,” remarked UC Berkeley University Medalist Ritankar Das, during his address to Cal’s Class of 2013 graduates. At 18, he was Berkeley’s youngest top graduating senior in a century. He went on to say, “Fundamentally, everyone harbors great ideas, yet most of us ignore them out of fear of failure.”

Although not everyone is a classroom teacher who can change the way a student learns on a day-to-day basis, anyone with access to technology can pitch in to help mentor the up-and-coming scientists and engineers of the future. Through sharing personal stories of success (and failure!) in STEM to encourage young people, and offering mentoring via email, Google Hangouts, or other mediums, adults around the world can help reimagine STEM learning and teaching, one inspired student at a time.

Adora%2520svitak-1667

Written by sunupradana

May 15, 2014 at 9:10 pm

Watch “DesignSpark PCB Introduction” on YouTube

leave a comment »

Written by sunupradana

December 16, 2013 at 11:16 pm

Watch “Arduino Compatible Power Switching” on YouTube

leave a comment »

Written by sunupradana

December 6, 2013 at 8:33 pm

Atten ke Siglent DSO firmware update

leave a comment »

Written by sunupradana

November 9, 2013 at 11:21 pm