Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Belajar elektronika

leave a comment »

image

#electronicsEngineering

Mulai yang mudah, bertahap, coba ditekuni. Coba dengan sistematis. Jangan sombong belajar dari orang lain. Cobalah.

Berbagilah, terima umpan balik untuk memperkaya.

Terima kenyataan bahwa banyak orang yang lebih jenius, lebih pandai, lebih kreatif, lebih berpengalaman. Jangan mudah patah, cari bantuan.

Coba berdamai dengan diri setelah berusaha dengan keras dan cerdas. 🙂

Written by sunupradana

December 21, 2014 at 9:05 pm

Sistematis

with 6 comments

Lama juga tidak menulis di blog … 🙂

Suatu masa saat masih belajar di kota Malang, suatu kawan pernah bercerita tentang proses reparasi televisi. Suatu yang teramat biasa bagi banyak pelajar STM (SMK), tapi sesuatu yang asing untuk mantan pelajar SMA seperti saya. Apalagi tidak ada kebutuhan kerja yang memaksa, jadilah saya sebagai awam.

Intinya kawan saya itu bercerita bahwa dalam praktiknya, biasanya, tukang reparasi seperti “hafal” penyakit dari masing-masing merek dan tipe. Ada beberapa komponen yang menjadi “tersangka utama”, diurutkan berdasarkan “lekelihood”. Dimulai dari komponen mana yang paling sering menjadi sumber masalah.

Cara seperti itu sering dipakai karena “paling efisien”. Mungkin dekat-dekat prinsip Pareto, 80/20. Menghasilkan uang paling cepat.

Dengan prinsip yang sama konon untuk zaman sekarang banyak tikang reparasi yang lebih memilih untuk mengganti “mesin tv”-nya sekalian (PCB dari TV). Hemat waktu dan mendatangkan banyak untung, karena toh bayak orang bekerja dengan cara itu. Apalagi konon sistemnya pun semakin kompleks, tidak seperti dulu.

Cara serupa ini saya anggap sama dengan “patching” pada software. Konon dulu web server Apache, diolok-olok sebagai a patchey, karena memang dibangun dari kumpulan patch untuk server. Dalam bahasa lain ini solusi tambal sulam. Efektif dan menguntungkan, sampai batas tertentu. Lalu mencelakakan untuk proses tertentu.

Kalau seadainya saya yang mengerjakan perbaikan TV zaman itu, saya mungkin akan mengikuti ajaran para dosen. Dimulai dulu dari kabel listrik, ada gangguan atau tidak. Lalu bagian suplai daya di dalam TV. Begitu seterusnya, bagian-per-bagian. Ini cara yang sistematis. Dengan cara inilah iptek sesungguhnya dikembangkan.

Pertanyaannya kalau memang cara sistematis adalah cara yang lebih baik, mengapa bukan cara ini yang dipakai untuk melakukan reparasi? Jawabannya (bisa jadi) sederhana. Karena justru tidak menguntungkan. 😀

Ambil contoh pada para tukang reparasi tv. Jelas tidak masuk akal kalau mereka menghabiskan waktu dengan menggunakan cara yang sistematis, jika dengan cara patchy saja mereka sudah bisa menyelesaikan sebagian besar masalah. Perkecualiannya mungkin sangat sedikit dan itupun bisa jadi akan ditanggung oleh konsumen, entah bagaimana caranya :-D. Bisa juga “rugi sesaat” ditanggung tukang reparasi, tetapi dalam jangka panjang cara ini masih mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Nah kalau cara “tambal-sulam”, patchy, itu memang baik dan menguntungkan, buat apa mengerjakan dengan sistematis?
Mengapa sains dan teknologi (karenanya juga engineering) malah dikerjakan dengan sistematis?

Itu pertanyaan jutaan dolar :-D. Untuk singkatnya, jelas karena tidak semua proses bisa diselesaikan dengan tambal sulam. Apalagi kalau memang prosesnya perlu pembangunan dan pengembangan bertahap. Tidak semua proses adalah proses “makelaran”, dagang memindahkan barang, asal cepat uang dapat, selesai. Bahkan proses “perusahaan dagang”, makelar semacam Amazon (atau Tokopedia di Indonesia), malah prosesnya amat rumit. Itu sistem yang dibangun apik, diusahakan benar untuk tertata rapi. Sistematis, bukan sporadis.

Sains dibangun dengan sistematis, harus jelas dulu, adanya pengakuan hubungan sebab-akibat. Kalau alam semesta hanya bergantung pada mood para dewa, akan menjadi teramat sulit untuk dipelajari. Jauh lebih sulit dari tingkat kesulitan sekarang yang sudah sulit (nah lo). Untuk itu diasumsikan ada aturan dasar yang mengoperasikan alam semesta. Sebab kalau acak, sangat sedikit yang bisa dipelajari dan dirumuskan. Bayangkan misalnya, seringkali tiba-tiba tubuh manusia melayang tinggi di udara di jalan raya. Pesawat terbang sering secara acak tiba-tiba jatuh terhempas. Apa yang bisa dirumuskan? Bahkan nenek moyang saja dulu mencoba sangat keras untuk memahami pola. Ada musim melaut, musim tanam dan sebagainya.

Saat sudah mentok dan tidak punya penjelasan yang baik dan bisa teruji sebagai prediksi ke depan, mereka merasionalisasikan dengan dewa-dewa yang murka atau “penunggu” yang usil atau marah. Bagaimana pun mereka sadar akan adanya suatu pola. Jika tidak mengikuti pola, maka pasti ada penyebabnya.

PENDIDIKAN

Mengikuti sains, IMHO pendidikan juga begitu. Tidaklah benar kalau terus-menerus menggunakan tambal sulam. Ini berpotensi senang sesaat sengsara kemudian.

Salah satu kemudahan semua yang mau belajar saat ini adalah tersedianya sumber informasi (bahkan data mentah) secara (relatif) berlimpah. Misalnya banyak contoh program (kode bahkan dengan diagram alir) banyak tersedia di berbagai situs di Internet.
 
Di satu sisi ini adalah “fasilitas” yang mempermudah dan memperkuat proses belajar. Mengingat sedari bayi, proses alamiah belajar adalah dengan adanya fase meniru dan mencontoh. 

Tapi di sisi lain, seperti obat yang sebenarnya merupakan racun, maka tersedianya banyak sumber belajar ini malah bisa merusak proses belajar itu sendiri. Tentu yang dimaksud adalah belajar dengan benar.

Di Swedia konon ada namanya Missionary Church of Kopimism. Agama yang diakui resmi oleh negara, yang isinya adalah pengakuan dan penguagungan terhadap copy-paste. :-D. Tidaklah jelek pada sendirinya, hanya dosisnya yang perlu diperhatikan.

Copy-paste adalah salah satu bentuk dari proses meniru/mencontoh. Alamiah dan tentu bagus. Belajar pengenalan pola dapat dilakukan dengan lebih efisien dengan mempelajari kode orang lain, lalu mengutak-atiknya untuk mempelajari hubungan sebab dan akibat. Syaratnya…pertama ada dasar pemahaman yang cukup dan kedua tidak berhenti sampai di situ saja.

Yang pertama yang paling debatable, ada yang sederhananya memilih untuk menyuruh “nyemplung dulu” untuk belajar berenang. Di ekstrim sisi ini adalah swim-or-sink, berenang atau mati tenggelam. Ada juga yang memilih untuk memberikan bekal cukup terlebih dahulu baru kemudian diajar untuk praktik.

Kalau saya, ini situasional. Tergantung pada beberapa faktor. Misalnya tergantung dari tingkat bahaya, bidang, waktu, tujuan jangka panjang dst. Walaupun berdasarkan bidang dan bahkan efisiensi, saya biasanya lebih cenderung cara yang kedua. Sistematis dengan diselang-seling beberapa “fase dilepas untuk bingung” yang berguna untuk merangsang aktifitas berpikir dan inisiatif. Tapi tentu saja kebingungan itu harus punya “dosis yang terukur”, disengaja dan bukan karena berangkat dari pemikiran yang asal-asalan.

Yang benar celaka jika proses copy-paste terhenti hanya sebagai kegiatan mencontek sesaat. Sekedar untuk mengatasi masalah tugas. Ini jelas bukan proses pendidikan yang baik.

Tetapi memang keseluruhan proses ini hanya bisa baik kalau semua yang terlibat mau berproses dengan baik. Yang di satu sisi tidak memang berniat asal beri dan yang di sisi lain juga berniat asal terima. Dan penting untuk tidak melompat terlalu jauh.

Karena sy bukanlah orang yang sangat pandai, saya paham betapa sakitnya untuk terus menerus harus “melompat-lompat”. Karena itu saya biasa menyusun resep dengan sistematis, terukur dengan kemampuan siswa. Modalnya cuma kemauan untuk bekerja (belajar) dengan sangat keras.

Saya sadar benar, bahwa bagaimana siswa bisa belajar dengan sistematis jika fondasinya goyah. Tiang-tiangnya bergoyang terus menerus. Tidak akan efisien. IMHO, jika terpaksa, lebih baik memperkuat fondasi atau bahkan membongkarnya daripada membangun istana pasir.

Jadi prosos copy-paste kode program dan rangkaian yang menjadi ritual tanpa tindak lanjut upaya belajar memahami, menurut saya adalah contoh aktivitas berbahaya dari “seremoni” belajar. Kita akan menghasilkan tenaga-tenaga instan yang tidak pernah berupaya paham dasar operasi apalagi philosophy-nya.

Dan saya sangat percaya pola pikir ini tidak akan berhenti hanya pada pelajaran dan bahkan bidang ilmunya saja. Juga akan merembet ke aspek kehidupan lainnya. Jika dibiarkan terus, akan jadi kaum yang mengabaikan sebab-akibat alamiah. Mengandalkan penjelasan mood para dewa untuk segala sesuatu yang terjadi di alam.

BELANDA BELUM MATI
Salah satu ungkapan yang paling saya senangi adalah: “God created the earth, but the Dutch created the Netherlands.” Ungkapan yang konyol tetapi punya makna dan pelajaran yang baik.

Belanda itu negeri yang sebagian wilayahnya amat rendah, bahkan konon di bawah permukaan laut. Mungkin itu salah satu faktor pendorong londo kae, niat mencari daerah baru untuk profit lalu untuk dijajah. Mirip Jepang yang juga alamnya keras. Tapi keterbatasan itu disikapi dengan cara-cara yang sistematis. Tidak perlu sampai meminjam dewa-dewa tetangga seperti Odin atau Thor.

Dari kincir angin untuk mengeringkan lahan sampai bendungan dam pencegah banjir. Dengan kerja keras dan upaya yang sistematis, mereka sekarang menjadi salah satu yang paling ahili di dunia. Dari sekumpulan masalah besar, banjir dan ancaman tenggelam, menjadi keunggulan. Dengan kepala, tangan dan kaki mereka sendiri. Kesalahan berulang kali yang diperhatikan dan menjadi pelajaran kolektif

AFAIK, berawal dari kesediaan menerima sebab-akibat di alam semesta. Asumsi adanya aturan yang menjadi program dasar semesta. Keterbukaan pikiran, meminta bukti dan tidak mudah percaya. Senang mencoba, bereksperimen dan bersedia menerima akan ada terjadinya sejumlah besar kesalahan bahkan ketersesatan. Dari situ upaya sistematis bisa dilakukan.

Jika tidak, maka pola tambal-sulam, patchy, yang akan selalu menjadi andalan. Semata karena candu nikmat sesaat. Mungkin tidak adakan segera terasa, tapi kita akan semakin jauh tertinggal. Sampai suatu hari kita hanya bisa kaget dan kagum, bagimana mereka bisa melakukannya? Padahal seperti kita (kalau mau), mereka melakukannya sedikit-demi-sedikit, sistematis.

Saya merasakan benar sakitnya “hanya bisa kagum”, dan sengsaranya mengejar ketinggalan. Semoga generasi baru bisa mengambil pelajaran pentingnya berproses dengan sistematis. Jual cepat tidak selalu solusi. Dan memang kita perlu napas panjang untuk bisa begitu. Itulah salah satunya fungsi suatu admnistrasi di suatu daerah dan negara. Tapi kalau mereka terus memilih untuk memampukan yang salah…ya sudahlah. Selamatkan diri kalian masing-masing, persiapkan diri sebaik-baiknya selagi muda. Lalu pergilah ke tanah yang menjanjikan perjuangan amat keras yang memberi hasil sepadan. Kalau percaya bahwa hidup hanya satu kali.

Sistematis adalah segala usaha untuk meguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya [1]

Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistematis

v01

Written by sunupradana

December 4, 2014 at 1:02 pm

5 Suggestions for Better STEM Education, From Students [full article]

with one comment

Although demand for workers with STEM qualifications has only grown in recent years, a minority of students elect to pursue science, technology, engineering, and mathematics in high school and college. To spark a discussion about how US schools can motivate more students to The USA Science and Engineering Festival brought together its youth advisors for a Twitter chat on April 17th. During the discussion, several themes emerged — suggestions about how to improve STEM education from the very people who stand to benefit from that training.

Schools are focusing too much on memorization and not enough on problem-solving, killing student interest in STEM topics early.

“It would be great if schools allowed kids to solve real problems, to learn by doing,” said Erik Martin. “My education did not aid interest, or work at all—huge failure there.”

In contrast, he says “making games is a great way to get into the tech space!” He knows this firsthand; in his 2013 TEDxRedmond talk, “How World of Warcraft Saved Me and My Education,” Erik described finding resilience, curiosity, and courage in gaming that he’d never had the chance to find in school.

“The most wonderful of art forms – from the resilient tardigrades to the billions of neuronal connections that we call consciousness, fascinate me. But sometimes, that beauty can disappear,” said Omar Abudayyeh, a Harvard MD/PhD student, commenting on the vast stores of information that medical school forces students to commit to memory.

To provide those opportunities for problem-solving, schools need to let students conduct science research projects—early and often.

“Student-led research is better than the current ‘bulimic’ education system which advocates rote memorization,” said cancer researcher — and high school student — Jack Andraka. Jack found his first research opportunities outside of school by contacting hundreds of university professors for lab space. Param Jaggi, founder of a green tech startup, said, “Learn by doing. Education should not be restricted to a classroom or a textbook. Some science and tech concepts only come to life in the lab.”

Grown-up teachers aren’t the only teachers in the room—peer-to-peer learning can be leveraged for incredible gains in STEM education.

This semester I took my first-ever Computer Science and Engineering class. As I squinted at seemingly incomprehensible lines of C, shook my fist when code failed to compile, wrestled with wires, and tried to learn all the curves and edges of my Arduino, my saviors weren’t my teachers or even Wikipedia—they were my classmates. Peer-to-peer learning is powerful. Yet, as Erik Martin said, “peer-to-peer is something educational technology often overlooks.”

Schools need to approach science education as more than a way to prepare future doctors and engineers; STEM is about satisfying human curiosity.

I’ve oftentimes described myself as a “humanities kid.” It was easy, convenient, and gave me the peace of mind I needed to tune out during biology lectures with the attitude “I’m not going to be a scientist, so why bother?” I realized later that STEM was about more than creating future scientists, but school rarely gave me a compelling “why care” for science that didn’t have to do with career paths.

As Jack Andraka said, “science satisfies the innate curiosity of humans—however, schools do not teach it this way.” This rings true with me. I pushed away mathematics textbooks and evaded AP science classes until my senior year. It was only innate, human curiosity that made me interested in STEM—it was asking questions, making cool things happen with code, and falling in love with the universe the nights as I watched meteor showers streak across the sky.

Failure is life’s built-in educator

“Failure is sometimes necessary and unavoidable, and most often there’s a lesson to be learned that can be applied towards achieving future success,” said Parker Liautaud, a leader of polar research expeditions. “For me, not reaching the North Pole was by far the worst failure of my life.” Despite the important role of failure in life, school and society tends to “put everything into two boxes: success or failure. But I believe there’s a third box and it’s called Not Trying,” remarked UC Berkeley University Medalist Ritankar Das, during his address to Cal’s Class of 2013 graduates. At 18, he was Berkeley’s youngest top graduating senior in a century. He went on to say, “Fundamentally, everyone harbors great ideas, yet most of us ignore them out of fear of failure.”

Although not everyone is a classroom teacher who can change the way a student learns on a day-to-day basis, anyone with access to technology can pitch in to help mentor the up-and-coming scientists and engineers of the future. Through sharing personal stories of success (and failure!) in STEM to encourage young people, and offering mentoring via email, Google Hangouts, or other mediums, adults around the world can help reimagine STEM learning and teaching, one inspired student at a time.

Adora%2520svitak-1667

Written by sunupradana

May 15, 2014 at 9:10 pm

5 Suggestions for Better STEM Education, From Students

leave a comment »

“Schools need to approach science education as more than a way to prepare future doctors and engineers; STEM is about satisfying human curiosity.”

5 Suggestions for Better STEM Education, From Students – http://pulse.me/s/1d2swd

Written by sunupradana

May 15, 2014 at 8:57 pm

Posted in Pendidikan, Science

Tagged with ,

Belajar dengan membuat (tinkering)

leave a comment »

Written by sunupradana

November 26, 2012 at 4:21 pm

Belajar mandiri via Internet [slideshare]

leave a comment »


 

Written by sunupradana

November 23, 2012 at 5:34 pm

File presentasi dengan aplikasi gratisan

leave a comment »

Sekarang ini, siapa bilang untuk membuat file presentasi harus selalu menggunakan software (aplikasi) berbayar.

 

Written by sunupradana

November 18, 2012 at 8:43 pm

Posted in Internet, Pendidikan