Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Archive for the ‘Komputer’ Category

Solusi untuk beberapa masalah pada sistem komputasi untuk kuliah elektronika daya

leave a comment »

Di zaman yang sudah bergerak jauh meninggalkan zaman batu ini (dan tampaknya belum akan segera kembali), perangkat komputasi sudah menjadi bagian hidup dari banyak orang di perkotaan. Pun begitu di banyak sekolah-sekolah engineering, optimalisasi perangkat dan sistem justru menjadi tema dari banyak makalah dalam jurnal dan proceeding. Karena itu, mundur ke “belakang” menjadi pilihan yang aneh luar biasa. 😀

Meski begitu ada beberapa permasalahan yang nyata yang jelas menjadi tantangan. Misalnya faktor legalitas perangkat lunak yang dipergunakan. Membajak software itu, mungkin, kesannya remeh untuk skala pribadi. Tapi dari sisi pengguna saja ada risiko yang jelas di depan mata; soal ketergantungan. Ini terkesan remeh, tetapi orang yang sudah sangat tergantung dengan suatu software dari suatu vendor (locked in) sering sangat sulit menggantinya dengan alternatif yang lain. Meskipun sebenarnya alternatif itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kerjanya sehari-hari.

Obat alias solusi dari ketergantungan ini adalah upaya pembiasaan dari permulaan untuk mempergunakan perangkat alternatif yang secara legal bebas pakai alias gratis. Untuk aplikasi engineering, jika belum memungkinkan untuk menginstall GNU/Linux di komputer, misalnya bisa menggunakan CAELinux. Meski sudah agak lama, distro ini masih bisa dipergunakan. Untuk saya sendiri, jauh lebih cepat jika aplikasi yang dibutuhkan diinstall saja di laptop (komputer) secara penuh.

Masalah lainnya adalah masalah virus, malware dan sebangsanya. Sistem GNU/Linux, BSD dan Mac tidaklah kebal dari tantangan serupa ini, tetapi perlu diakui sistem Microsoft Windows masih terbukti paling rentan karena jumlah pengguna umumnya. Upaya solusi dari masalah ini yang bisa dengan mudah diterapkan untuk pelajar adalah dengan menginstall beberapa software untuk mengatasinya. Ini sebagai upaya pelengkat dari rangkaian usaha pengamanan lainnya yang sekalipun tidak mendekati sempurna masih cukup baik untuk mengurangi risiko. Beberapa link telah saya kumpulkan di sini, dan terus diperbaharui.

Langkah lain yang paling masuk akal untuk virus, malware dan sejenisnya adalah dengan menggunakan sistem operasi yang lain selain Microsoft Windows. Dua pilihan yang paling mungkin adalah dari garis keluarga BSD atau dari kernel Linux. Dua-duanya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tantangannya adalah bagaimana memulai dengan hambatan minimal. Pada salah satu post sebelum ini, saya telah menulis bagaimana caranya untuk mendapatkan bootable flash disk yang dibuat di sistem Windows. Kita bisa mempergunakan tool UNetbootin atau YUMI. Tetapi ada kalanya kita perlu membuat bootable GNU/Linux flash disk dari sistem GNU/Linux juga. Misalnya jika sistem Windows kita sudah “terlalu parah” atau kita ingin mencoba (atau memerlukan) file sistem lain semisal ext4 dengan pengaturan yang mudah. Untuk ini kita perlu terlebih dahulu memiliki sistem GNU/Linux yang sudah beroperasi. Bisa dari hard disk komputer atau dari flash disk lain yang sudah berisi bootable GNU/Linux. Proses bisa diawali dengan mempersiapkan partisi dalam flash disk itu. Pembahasannya sudah saya utarakan di sini. Setelah itu flash disk bisa diisi dengan satu atau lebih OS GNU/Linux dengan tool MultiBootUSB. Tool ini mudah ditemukan namanya di menu pada sistem GNU/Linux LXLE desktop. Uraiannya sudah saya sampaikan di sini.

Dengan selesainya ketiga artikel tentang pembuatan bootable flash disk yang berisi OS GNU/Linux di blog ini, saya anggap cukup untuk memulai. Kalau ada bagian yang belum jelas, di Internet ada banyak penjelasan yang lebih detail dan lebih teknis. Sesekali mungkin perlu untuk mempergunakan Google Translate. Dengan sejumlah keterangan dalam artikel yang bisa dijadikan kata kunci pencarian informasi lebih lanjut secara mandiri, mahasiswa bisa secara mandiri menyelesaikan permasalahan mengenai kelayakan penggunaan sistem bantu komputasi untuk kuliah power electronics ini.

Hasilnya nanti dengan dua upaya berdasar software ini, tidak ada lagi flash disk berisi virus, malware maupun bekas jejak-jejaknya yang beredar di hari-hari perkuliahan teori dan praktik elda.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 8:42 pm

Pengantar penggunaan GParted

with 2 comments

Entah untuk keperluan membuat partisi baru untuk sistem operasi (semisal GNU/Linux) atau bahkan sekedar untuk “membersihkan” USB flash drive aplikasi seperti GParted ini sangat membantu. Meski demikian jika kita akan melakukan perubahan pengaturan pada drive (termasuk untuk flash disk) kita perlu berhati-hati. Terutama jangan sampai salah sasaran, yaitu mengubah drive yang sebenarnya bukan menjadi tujuan operasi yang kita niatkan. Berikut beberapa rangkaian foto yang memudahkan untuk menuntun penggunaan GParted sebagai cara untuk membuat partisi bagi live GNU/Linux.


Gambar 01. Desktop live GNU/Linux flash disk

Untuk tulisan cepat ini saya memilih distro LXLE sebagai “induk”. Pertimbangannya sederhana, varian alias distribusi GNU/Linux yang ini cukup ringan untuk dijalankan di banyak mesin PC (ada juga versi 32-bit dan 64-bit), bisa boot dari USB flash drive (flash disk) dan memiliki cukup aplikasi (software) untuk keperluan pembuatan live (bootable) GNU/Linux di flash disk.

Untuk keperluan penulisan artikel ini saya melakukan boot (start up) dari flash disk Toshiba 16-GB yang di dalamnya ada beberapa OS varian dari GNU/Linux. Salah satunya adalah LXLDE desktop 32-bit yang saya pakai ini. Sekedar info tambahan versi 32-bit ini saya jalankan tanpa masalah di mesin Asus 64-bit (sebagaimana seharusnya). Menurut saya LXLE dekstop ini cukup memadai sebagai live USB Linux, di dalamnya sudah terdapat LibreOffice dan beberapa aplikasi lain yang cukup untuk memulai. Sedangkan untuk membuat bootable flash disk seperti ini, di dalamnya sudah dari awal terinstall GParted dan multibootusb.

Gambar 02. Terminal (ROXTerm) pada LXLE desktop.

Agar tidak salah dalam melakukan format drive (dalam hal ini flash disk) ada baiknya sebagai langkah pencegahan tambahan kita memeriksa drive yang terpasang dengan perintah lsblk (panduan lainnya ada di sini). Untuk bisa menjalankan perintah lsblk kita perlu membuka terminal (pada LXLE adalah ROXTerm) seperti pada Gambar 02.


Gambar 03. Perintah lsblk.

Pada Gambar 03 di bagian pertama adalah hasil dari perintah lsblk saat flash disk yang hendak dipakai untuk bootable flash disk belum dipasang pada port USB. Sedang pada bagian akhir di gambar yang sama adalah saat flash disk sudah dipasang. Terlihat jelas flash disk itu dikenali sebagai sdc1.


Gambar 04. Saat flash disk dimasukkan sebaiknya kita mount dengan perintah OK.


Gambar 05. Langkah berikutnya adalah membuka aplikasi GParted.

Gambar 06. Pertama kali terbuka GParted menunjukkan partisi lain (/dev/sda), bukan yang hendak sebenarnya dipakai.

Gambar 07. Perlu hati-hati agar tidak merusak partisi lain, pindah dengan pilih ke partisi yang benar (/dev/sdc)


Gambar 08. Setelah partisi yang benar yang hendak kita format sudah dikenali dan terpilih, lakukan Unmount.


Gambar 09. Setelah berhasil melakukan Unmount kita bisa memilih beberapa pilihan operasi dengan melakukan klik-kanan.


Gambar 10. Langkah yang kita pilih adalah menghapus partisi dengan pilihan Delete.


Gambar 11. Setelah berhasil menghapus, langkah berikutnya adalah dengan membuat partisi yang baru.

Jika kita melakukan format dari salah satu distro (varian) GNU/Linux seperti ini (misalnya pada Ubuntu, Lubuntu, Xubuntu, Fedora, SUSE, Debian) kita bisa langsung memilih file system sesuai keperluan, misalnya ada Gambar 11 adalah ext4. Sudah banyak tulisan yang menjelaskan tentang file system, misalnya; tulisan ini dan tulisan ini, silahkan dibaca.


Gambar 12. Kita bisa memberi label pada partisi baru.


Gambar 13. Selesai memilih sejumlah operasi yang akan dilakukan.


Gambar 14. Setelah memilih langkah berikutnya adalah mengeksekusi pilihan yang sudah diambil, Apply.


Gambar 15. Pilihan operasi kita sedang dikerjakan oleh komputer.


Gambar 16. Semua operasi telah berhasil, selesai dilakukan pada flash disk.


Gambar 17. Informasi akhir flash disk telah berhasil diformat ulang sesuai keinginan.

 

MultiBootUSB

Bagian berikut di bawah ini hanya bonus, akan ditulis lebih panjang di bagian lain di web log ini.

Jika kita ingin mendapatkan flash disk yang bisa dipakai untuk booting pada komputer (seolah-olah sebagai pengganti hard disk), maka kita bisa menggunakan aplikasi MultiBootUSB pada LXLE desktop. Sebenarnya ada beberapa pilihan lain yang bisa bekerja dalam sistem GNU/Linux (seperti LXLE) atau yang berkerja di Windows. Tetapi MultiBootUSB sudah tersedia secara default di LXLE, kita bisa langsung memakainya.


Gambar 18. Tampilan awal MultiBootUSB, pilihan /dev/sda1 tidak tepat perlu diganti.


Gambar 19. Pada langkah pertama (Step 1) kita memilih flash disk (drive) yang benar.

Sama seperti GParted, pada MultiBootUSB kita perlu memastikan bahwa pilihan drive (flash disk) sudah benar. Untuk itulah perintah lsblk dan label yang akan dipakai pada mount point sangat mambantu.


Gambar 20. Langkah 2 (Step 2) adalah menunjukkan dan memilih file ISO yang akan dipakai.

 

Distribusi GNU/Linux seperti Linux MINT, UBUNTU, DEBIAN, FEDORA, LXLE banyak diedarkan dalam file dengan format ISO. Ini memudahkan jika pengguna akan lansgung “membakarnya” ke CD atau (yang baru) DVD. File ISO yang sama yang kita manfaatkan untuk menjadikan flash disk kita sebagai flash disk yang bisa mem-booting (bootable) komputer. Yang sudah berisi sistem operasi GNU/Linux (salah satu distro/variannya) dan bisa di bawa ke mana-mana untuk beroperasi di banyak komputer berbeda.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 2:15 pm

Posted in Komputer

Tagged with , , ,

Membuat live GNU/Linux dengan live GNU/Linux lainnya

with 2 comments

Pada post yang lain (di sini) saya membagi dokumentasi penggunaan GParted secara sederhana untuk tujuan pembuatan partisi sebagai persiapan untuk membuat sebuah USB flash drive (flash disk) yang dapat diperhunakan seolah-olah sebagai pengganti hard disk. Sehingga kita tidak perlu menginstall OS GNU/Linux di hard disk komputer, tetapi cukup menggunakan flash disk itu saja dari booting sampai shutdown.

Pada post yang lainnya lagi saya juga telah menuliskan cara membuat flash disk seperti itu dari dalam OS Microsoft Windows [artikel di sini]. Cara itu sebenarnya paling mudah bagi calon pengguna yang sama sekali belum pernah menggunakan varian sistem operasi (OS) GNU/Linux sebelumnya seperti; Debian, Ubuntu, Fedora, Red Hat, SUSE. Tetapi kadang-kadang ada kalanya kita perlu menggunakan OS selain Windows yang kita sudah miliki, misalnya karena sudah terlalu banyak “penyakit” di dalamnya dan/atau karena kita ingin menggunakan format file system yang lain.

Berikut adalah cara membuat flash disk berisi GNU/Linux yang bootable dari flash disk GNU/Linux lainnya. Mungkin istilah non-formal yang cukup tepat adalah dengan cara beranak-pinak. Kebetulan flash disk yang akan menjadi bapak biang ini telah saya buat sebelumnya dari GNU/Linux yaitu distro Lubuntu dengan aplikasi YUMI. Di dalamnya saya isi beberapa varian (distro) GNU/Linux, salah satu di antaranya adalah LXLE desktop yang akan saya pakai untuk membuat flash-disk “turunan” yang baru.


Gambar 01. LXLE desktop memiliki banyak sediaan gambar latar yang indah, klik icon ketiga dari kiri untuk mengacak.


Gambar 02. LXLE desktop adalah salah satu varian (distro) dari GNU/Linux yang cukup ringan, bahkan untuk komputer lama.


Gambar 03. Jika mouse digerakkan ke bagian tepi kiri layar, akan ada menu pilihan cepat yang tampil.


Gambar 04. Salah satu trivia, tampilan browsernya juga menarik.


Gambar 05. Perintah lsblk pada ROXTerm.

Kita bisa menggunakan perintah lsblk pada terminal untuk mengetahui drive apa saja yang terpasang dan telah dikenali oleh sistem. Silahkan lihat ulang di sini.


Gambar 06. Perbedaan sebelum dan sesudah flash disk dipasang dan terdeteksi oleh sistem.


Gambar 07. Pertama kali MultiBootUSB tampil pilihan drive oleh sistem tidak selalu sesuai tepat.

Program (software) multibootusb dapat diakses di menu LXLE desktop, di atas program ROXTerm dan di bawah GParted. Saat MultiBootUSB pertama kali aktif, program tentu saja tidak dapat mengetahui dengan pasti apa kehendak dari pengguna. Karena itu tangggung jawab dari pengguna lah untuk memberi tahu sistem drive (flash disk) mana yang akan diisi dengan OS GNU/Linux. Pada Gambar 07 pilihan pertama sistem adalah partisi sde1, untuk contoh kasus ini perku diubah ke partisi flash disk yang memang hendak dipergunakan yaitu sdf1. Untuk tiap komputer, tiap flash disk bahkan untuk tiap kesempatan hal ini bisa saja berbeda-beda, karena itu untuk mengetahuinya bisa mempergunakan perintah lsblk pada terminal.


Gambar 08. Pilihan pada partisi /dev/sdf1


Gambar 09. Instalasi GNU/Linux yang kedua.

Dengan mempergunakan MultiBootUSB (atau bisa juga YUMI), di dalam satu flash disk kita bisa memiliki lebih dari satu sistem operasi (OS). Sekedar sebagai contoh di Gambar 09 bisa dilihat bahwa saya sudah memiliki OS GNU/LINUX LXLE desktop 32-bit. Saya kemudian hendak menambahkan OS GNU/LINUX yang kedua, kali ini adalah Linux MINT 32-bit seperti terlihat pada Gambar 10.


Gambar 10. Memilih file sumber ISO yang benar untuk instalasi Linux MINT xfce 32-bit.


Gambar 11. Error pada tampilan saat proses berlangsung.

Kadang-kadang saat proses sedang berlangsung, terdapat suatu anomali seperti yang terlihat pada Gambar 11. Ukuran antarmuka dari MultiBootUSB tiba-tiba berubah. Saat ini terjadi biasanya tampilan cursor dari mouse berubah menjadi segi empat dengan tanda silang di dalamnya. Tidak perlu panik, ini hanya gangguan tampilan saja. Untuk mengatasinya, silakan klik-kanan di mana saja di luar tampilan antarmuka MultiBootUSB. Proses akan berlangsung terus secara normal.


Gambar 12. Instalasi GNU/Linux kedua telah berhasil.

Pada Gambar 12 kita bisa lihat bahwa proses tetap berlangsung dan berhasil dengan baik walaupun sempat mengalami gangguan seperti yang terlihat pada Gambar 11. Dalam proses itu kebetulan yang dipilih adalah varian/distro LXLE dan Linux Mint xfce, kita bebas memilih varian GNU/Linux yang lain.

Sebagai catatan, walaupun keunggulan dari MultiBootUSB dalah kemampuannya untuk memberikan kita peluang untuk memiliki lebih dari satu OS di dalam drive (flash disk) seperti juga YUMI, tetapi kita bisa juga menggunakannya secara cepat untuk hanya membuat bootable flash disk dengan hanya satu OS. Mirip seperti UNetbootin, kita bisa memilih tab “ISO manager” yang terletak persis di sebelah kanan dari tab “MultiBootUSB ” di antar muka aplikasi itu.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 10:47 am

Posted in Komputer

Tagged with , , ,

Aplikasi penyimpan password

leave a comment »

Sering lupa dengan password? Ada beberapa solusi yang mungkin dilakukan, tetapi tentu saja tidak ada yang sempurna. Selalu ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pilihan yang diambil bergantung pada siapa kita, apa aktifitas keseharian kita, apa puncak saat kesibukan atau saat kritis kita, di mana kita biasa beraktifitas dan perangkat apa yang kita miliki. Itu adalah beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.

Salah satu solusi yang mungkin adalah dengan menyimpan semua password kita yang berbeda-beda di satu tempat dan hanya mengingat satu password utama saja, yaitu password untuk tempat penyimpanan tadi. Analoginya mirip dengan menyimpan uang di lemari penyimpanan di bank. Tentu saja tempat penyimpanannya harus aman (atau tepatnya relatif aman). Cara ini jauh lebih baik untuk banyak keperluan (konfigurasi) daripada hanya menggunakan satu sampai tiga password untuk semua akun berpassword kita.

Di antara banyak pilihan ada dua yang saya ajukan dalam tulisan ini. Yang pertama adalah LastPass. Penyimpanan ini cukup terkenal dan sangat banyak dipergunakan di banyak platform. Misalnya bisa diinstall di phone Android (https://play.google.com/store/apps/details?id=com.lastpass.lpandroid). Bisa juga dengan mudah diakses di masing-masing browser, misalnya di Firefox maupun di Chrome. Juga bisa dipakai di sistem GNU/Linux maupun di Microsoft Windows. Aplikasi ini pada dasarnya gratis, tapi ada fasilitas untuk pembelian di dalamnya.

Yang kedua adalah KeePassDroid, aplikasi ini bisa diinstall di Android phone. KeePass sebenarnya adalah aplikasi yang bersifat tidak hanya gratis tetapi juga open-source, itu salah satu keunggulannya. Keterangan lanjut bisa dibaca di Wikipedia. Secara implisit menurut http://keepass.info/, karena sumber kodenya bersifat open maka aplikasi ini dapat meyakinkan kita tidak akan kode tersembunyi, juga karena para ahli juga bisa dengan mudah memeriksa kebenaran cara implementasi kode enkripsi dalam aplikasi itu. Projek lain yang menarik dikunjungi situsnya adalah https://www.keepassx.org/. Aplikasi ini juga memiliki varian portable, silahkan dilihat di sini. Jika perlu dan berminat untuk browser Firefox, salah satu add-on yang cukup populer dipakai adalah KeeFox. Untuk browser Chrome sepertinya juga ada, misalnya chromelPass dan CKP.

Silahkan memilih dan mencoba.

Written by sunupradana

September 23, 2015 at 8:47 pm

Posted in Internet, Komputer

Tagged with , ,

GNU Linux sebagai solusi

with 3 comments

Musim lalu (kadang saya lebih senang menyebutnya semagai musim daripada semester) saya belum berhasil meyakinkan seorang pun mahasiswa untuk beralih ke GNU/Linux. Atau setidaknya sekedar mencoba-coba dengan lebih intensif. Mungkin karena cara dan gaya saya terlalu “solo”. Musim lalu itu saya tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mencoba salah satu varian Linux. Saya hanya memperkenalkan salah satu varian yang cocok untuk dipergunakan di bidang engineering, CAELinux. Harapannya siapa tahu ada yang proaktif dan mengkaji kembali penggunaan perangkat lunak berdasarkan kebutuhan dirinya yang sebenarnya.

Musim ini tampaknya akan ada sedikit perbedaan. Akhir musim lalu ada beberapa mahasiswa yang mengaku komputernya (sistem operasi komputernya) terkena virus komputer untuk sistem Microsoft Windows. Ini jelas berbahaya, beberapa bahkan sampai merasa perlu untuk menginstall ulang keseluruhan sistemnya. Sedangkan awal musim ini sudah ada beberapa pengakuan yang mengindikasikan terjadinya penyebaran virus melalui USB drive (USB flash disk). Ini jelas tantangan dan masalah yang perlu solusi.

Transfer file via email atau layanan cloud seperti Google Drive memang bisa dilakukan. Tetapi untuk file berukuran relatif besar pilihan ini jelas akan memperlambat proses transfer di kelas. Pilihan lain adalah dengan menggunakan file server sendiri dalam jaringan, seperti yang pernah dilakukan di musim lalu. Sekalipun pilihan ini baik, ada potensi pendidikan yang hilang yang bisa diperoleh jika cara ini satu-satunya cara yang diambil.

Cara lain yang bisa menjadi solusi, dan memang sudah lama (lamaaaaa) sekali dilakukan oleh banyak orang di banyak tempat adalah dengan menggunakan OS GNU/Linux. Banyak yang tidak mau mencoba karena merasa awam, asing. Padahal dahulu sewaktu belajar mempergunakan komputer dengan OS Microsoft Windows, juga sama dalam posisi sebagai awam.

Setelah rationale di atas, dan menetapkan bahwa penggunaan GNU/Linux di musim ini patut untuk lebih serius dilakukan pertanyaannya kemudian adalah cara apa yang akan ditempuh. Pilihan pertama adalah dengan mengganti total sistem operasi (OS) yang telah ada dengan GNU/Linux, terutama jika OS lama itu berstatus bajakan :-D. Sekalipun ini bagus sekali “di atas kertas” tapi pilihan ini akan menyakitkan buat kebanyakan mahasiswa. Beberapa program aplikasi dari sistem MS Windows belum bisa berjalan baik di GNU/Linux, sekalipun dengan bantuan Wine terbaru. Pilihan kedua adalah dengan melakukan dual boot. Jadi dalam satu komputer (misalnya laptop) ada dua sistem operasi, satu Windows dan satu lagi GNU/Linux. Cara inilah yang dulu saya lakukan untuk belajar dengan lebih intensif. Tetapi cara ini juga memiliki kekurangan jika dilakukan di musim berjalan seperti sekarang ini. Paling tidak mahasiswa harus menyediakan ruang yang memadai di hard disk komputernya. Untuk yang memiliki banyak data berharga, perlu membuat salinan untuk meminimalkan risiko saat menggeser partisi dan menginstall OS baru. Hal-hal seperti ini menjadi penghalang untuk orang (mahasiswa) merasa ringan memulai perubahan.

Alternatif ketiga yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi sejak beberapa waktu lalu adalah dengan tanpa mengganggu hard disk di komputer sama sekali. GNU/Linux dapat sepenuhnya dijalankan di CD / DVD / USB drive. Ya, GNU/Lunix seperti Ubuntu itu bisa dijalankan hanya dari flash disk (USB drive) tanpa perlu diinstall di komputer.

Khusus untuk flash disk terdapat keunggulan tambahan bagi GNU/Linux yang merupakan salah satu varian dari UBUNTU (Ubuntu/Lubuntu/Kubuntu/Lubuntu) dan turunannya, yaitu konfigurasi yang diatur selama pengoperasian tidak akan hilang begitu saja, melainkan akan tersimpan. Sehingga dengan demikian lain kali kita mempergunakannya kita tidak harus mulai lagi dari pengaturan awal.

Ada dua jenis pilihan instalasi GNU/Linux, AFAIK (As Fas As I Know). Yang pertama adalah untuk instalasi tunggal, artinya hanya ada satu sistem operasi nantinya di dalam flash disk. Yang kedua adalah multiboot, artinya kita bisa mengatur agar sebuah USB drive (flash disk) bisa berisi beberapa sistem operasi. Bisa delapan atau bahkan lebih, bergantung pada kapasitas ruang penyimpanannya.

Cara pertama dan kedua dapat dilakukan dari dalam sistem operasi (OS) Windows maupun GNU/Linux seperti Ubuntu atau Fedora. Untuk artikel ini akan dipilih pembuatan dari dalam sistem Windows. Asumsinya adalah sebagian calon pengguna belum pernah melakukan pengaturan dari dalam sistem berbasis GNU/Linux. Tentu saja mereka inilah yang lebih memerlukan artikel semacam ini ketimbang yang memang sudah bisa atau bahkan biasa menggunakan sistem GNU/Linux.

UNetbootin

Jika yang dikehendaki hanyalah satu OS di USB drive (flash disk) maka salah satu aplikasi yang menurut saya cukup mudah dipergunakan adalah UNetbootin. Software ini ada di platform Microsoft Windows dan juga di GNU/Linux.


Gambar 01. Tampilan awal UNetbootin

Gambar di atas ini adalah tampilan awal, kita bisa memilih varian GNU/Linux yang akan diinstall atau bisa memilih yang akan diinstall dengan memilih file ISO (citra disk) yang sudah kita unduh sendiri.


Gambar 02. Sekedar sebagai contoh, saya hendak menginstall MX Linux.


Gambar 03. Proses instalasi gampang, tinggal tunggu sampai selesai.


Gambar 04. Kita tidak perlu menggunakan pilihan Reboot kecuali memang akan dipergunakan di komputer yang sama

YUMI

Jika yang dikehendaki adalah flash disk yang berisi beberapa OS GNU/Linux yang terpisah maka kita bisa mempergunakan aplikasi seperti YUMI.


Gambar 05. Saat pertama YUMI diaktifkan


Gambar 06. Langkah pertama adalah memilih USB drive (flash disk) yang akan dipakai sebagai boot disk


Gambar 07. Sebagai contoh saya menggunakan flash disk 8 GB


Gambar 08. Memilih varian distribusi GNU/Linux yang akan dipakai saat ini.

Untuk setiap saat kita hanya bisa memilih satu varian yang akan diproses. Misalnya kita memilih sepuluh varian GNU/Linux yang akan dipergunakan di dalam USB drive. Maka kita harus mengulangi langkah instalasi yang persis sama ini satu persatu.


Gambar 09. Memilih dengan menunjukkan lokasi file ISO dari varian GNU/Linux yang akan dipakai

Jika opsi Show All ISOs tidak kita aktifkan maka hanya ISO yang relevan dari distribusi (varian) yang kita pilih saja yang akan ditampilkan. Misalnya bahkan seandainya dalam folder yang sama terdapat 20 file ISO, hanya ISO yang berasal dari varian yang kita pilih saja yang akan tampil. Karena itu jika diperlukan untuk melihat varian lain atau kalau varian yang persis sama tidak tercantum dalam daftar maka aktifkan opsi Show All ISOs.


Gambar 10. File ISO sudah terpilih siap untuk ditempatkan ke flash disk


Gambar 11. Tanda bahwa YUMI siap untuk memproses lanjut urutan kerja berikutnya


Gambar 11. Proses penyalinan ke USB drive (flash disk)


Gambar 12. Proses booting pada komputer, sebagai contoh ini pada laptop lama T43

Tidak semua komputer memiliki cara akses yang sama untuk mengubah urutan booting atau mengakses menu pilihan boot secara manual. Misalnya pada IBM (lenovo) T43 cara yang paling singkat adalah dengan menekan kunci F12. Atau kalau mau menggunakan cara panjang adalah dengan menekan tombo “Access IBM”. Sedangkan pada beberapa laptop Asus caranya adalah dengan menekan tombil esc (escape) pada saat awal booting. Di beberapa PC desktop saya temukan caranya adalah dengan menekan tombol F11.


Gambar 13. Menu pilihan boot oleh YUMI, masing-masing varian telah dikelompokkan ke dalam beberapa kategori


Gambar 14. Contoh daftar menu varian GNU/Linux yang telah siap untuk dijalankan dikelompokkan dalam Linux Distributions


Gambar 15. Salah satu keunggulan YUMI adalah kita dapat menambah dan mengurangi OS yang terinstall dengan mudah


Gambar 16. Contoh varian yang dikelompokkan secara otomatis di bagian System Tools


Gambar 17. Salah satu varian menarik, Chromixium, menggabungkan antara cita rasa OS Chromium dengan GNU/Linux


Gambar 18. Salah satu yang bisa jadi jarang diperhatikan tetapi sungguh menarik, IGOS XDE


Gambar 19. Jika IGOS XDE sekaligus memberikan pilihan akses ke seputuh desktop interface!


Gambar 20. Contoh pilihan menggunakan default yaitu desktop MATE


Gambar 21. Tampilan informasi sistem yang menarik IGOS XDE


Gambar 22. Tampilan lain IGOS, sudah dilengkapi dengan LibreOffice

Ada banyak pilihan silahkan dicoba dan yang mana yang menjadi pilihan bergantung pada keperluan dan selera masing-masing.

Bacaan lanjut:

Written by sunupradana

September 17, 2015 at 1:32 pm

Posted in Komputer, Technology

Tagged with , , ,

Screen capture dengan ShareX

leave a comment »

Salah satu aplikasi untuk screen capture dan berbagi file lainnya yang menurut saya bagus di platform Windows (setidaknya di Windows XP ori saya) adalah software ShareX.

Semalam saya mencari-cari aplikasi yang memudahkan saya untuk melakukan unggah (upload) hasil capture langsung ke tempat penyimpanan online. Di sistem Gnu/Linux andalan saya adalah aplikasi Shutter dan juga JShot.

Kekurangan versi terakhir (sampai tulisan ini saya buat) dari JShot adalah plugin untuk upload ke Picasa sudah tidak lagi berfungsi. Kemungkinan berkenaan dengan masalah versi OAuth. Begitu pun untuk Twitpic, gagal unggah.

Solusi untuk masalah ini saya temukan sebagai hasil dari proses googling. Nama aplikasi pengganti yang sesuai adalah ShareX, legal & gratis. Software ini sebenarnya punya kemampuan untuk lebih dari sekedar mengunggah langsung hasil capture ke layanan online, tetapi juga untuk berbagi file.

shareX.jpg

Jika tertarik bisa langsung menuju ke situsnya: ShareX

Written by sunupradana

September 9, 2015 at 12:09 pm

Posted in Komputer

Tagged with ,

Masalah transfer audio dengan bluetooth pada sistem Lubuntu

leave a comment »

Desktop PC saya yang berbasis Lubuntu (turunan dari GNU/Linux Ubuntu) mengalami masalah untuk memindahkan suara dari speaker ke bluetooth headset. Proses penemuan perangkat (device) berjalan lancar, begitu juga proses pairing. Anehnya suara tidak bisa dipindahkan ke stereo headset saya itu.

Solusinya saya temukan. seperti biasa, melalui mbah Google. Singkatnya adalah dengan cara menggunakan baris perintah berikut:
pactl load-module module-bluetooth-discover

Sumber kutipan:
http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=2144841&page=2&s=0983620a905958763355a9e29888d9ae

Sumber asli:
http://forum.kde.org/viewtopic.php?f=9&t=95838

 
 
UPDATE: 28 Agustus 2015

Jika pada sistem (seperti LUBUNTU) mendapatkan masalah, terhubung tetapi tidak ada suara yang keluar dari headset.

Pastikan device sudah terinstall dengan baik, terdeteksi dan dalam kondisi paired.

 
 
Set-up untuk audio sink:

 
 
Jika sudah terhubung dengan baik tetapi suara masih tidak terdengar juga dari peralatan dengan bluetooth, bukalah pavucontrol seperti berikut:

 
 
Sebagai contoh, peralatan blutooth saya terdeteksi sebagai BT252, jika sudah terhubung dengan baik maka di pavucontrol akan tampak pada bagian Output Devices seperti ini:


 
 

Di bagian Playback misalnya aplikasi VLC sedang aktif, dan saya hendak memindahkan keluaran suara dari speaker ke headset bluetooth, maka tampilan awal mengindikasikan penggunaan default yaitu Built-In Audio Analog Stereo.

 
 
Saya ubah menjadi BT252 seperti ini:

 
 
Tambahan sumber acuan solusi yang bisa dicoba:

 

Written by sunupradana

August 14, 2015 at 6:27 pm

Posted in Audio, Komputer