Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Archive for the ‘Gadgets’ Category

Aplikasi Andoid pendukung kuliah elektronika daya

leave a comment »

Selain dari aplikasi simulasi rangkaian elektronik(a), ada beberapa aplikasi pendukung gratis yang dapat membantu memudahkan proses belajar mata kuliah elektronika daya (power electronics). Selain dari simulator rangkauan, berikut ada beberapa aplikasi Android gratis yang bisa diunduh (download) dibagi berdasarkan pokok rumpunnya.

A. Referensi matematika (mathematics) & games

  1. Pocket Mathematics
  2. Math Ref Free
  3. Math Formulas Free
  4. Math Expert
  5. Math Workout [game]
  6. Math Training [game]

B. Kalkulator

  1. Scientific Calculator [update 26 September 2015]

C. Referensi fisika (physics)

Tentu saja ada beberapa aplikasi serupa yang lain, silahkan mencoba-coba mencari sendiri dan menemukan yang sesuai dengan keperluan anda. Misalnya untuk aplikasi permainan (games), beberapa waktu yang lalu sudah saya rangkum di sini [link].

Written by sunupradana

September 23, 2015 at 1:45 am

Menunggu, memilih yang lebih sesuai

leave a comment »

Waktu sekolah di Malang saya pernah menemani bapak yang berkunjung untuk pergi ke kebun anggrek. Kebun itu dipergunakan juga sebagai tempat persilangan varietas anggrek, dilengkapi dengan semacam laboratorium kecil untuk kultur jaringan (seingat saya). Kebun yang ditengahnya rumah huni itu dimiliki oleh seorang pria yang berhenti dari pekerjaannya (lagi, seingat saya) untuk mengembangkan bisnis anggreknya.

Bapak dan pemilik kebun bercerita panjang lebar, yang detailnya tentu tidak saya ingat lagi karena waktu itu pun saya tak sepenuhnya paham. Intinya tentang budi daya anggrek, beliau berdua “orang pertanian” sedangkan saya sebagai pendengar yang sopan. Selang waktu berlalu, si bapak pemilik kebun beralih kepada saya untuk bercakap-cakap sejenak, barangkali sebagai selingan, sekedar bersopan santun. Dia bertanya bidang yang saya pelajari di Malang. Saya bercerita apa adanya bahwa saya belajar tentang elektronika. Rupanya si bapak dulunya berada di bidang yang kurang labih sama. Beliau menanyakan mengapa saya memilih bidang itu. Menurutnya elektronika itu bidang yang melelahkan, Karena orang dituntut untuk up-to-date, terus menerus belajar dan belajar sesuatu yang baru untuk menggantikan apa yang telah sebelumnya dipelajari. Saya paham maksudnya, di elektronika sulit untuk bertahan hanya dengan apa yang sudah dipelajari sepuluh tahun yang lalu. Tentu saja persisnya akan bervariasi dari satu bidang kerja ke bidang kerja lain, tapi pola umumnya sama.

Bapak pemilik kebun bercerita mengapa dia memilih bidang pertanian dan menyarankan saya untuk beralih ke bidang biologi.Sebagai refleksi, sekarang, saya memahami bahwa pertanian dan biologi juga adalah bidang yang dinamis. Ada banyak penemuan, perkembangan dan perubahan dalam bidang pertanian, apalagi biologi. Barangkali maksud bapak pemilik kebun adalah bagaimanapun kedua bidang tersebut di tataran praktik lokal masih lebih ajek daripada elektronika. 

 

MICROPROCESSOR, MICROCONTROLLER, CPLD & FPGA

Sewaktu mendekati tugas akhir ada beberapa teknologi yang relatif baru di lingkup lokal yang sedang boom. Waktu itu, pak Soetikno gencar memperkenalkan dan mengajarkan beberapa teknologi baru kepada para mahasiswa. Beberapa tampaknya tertarik untuk menekuni lebih lanjut. Seperti segala sesuatu yang masih hot tampaknya mudah untuk tertarik segera jump in. Yang baru, yang lebih modern tampaknya akan pasti segera menjadi the next big thing. Kenyataannya tidak selalu :-).

Filosofi dasar engineering yang kadang tertutup nafsu dan karenanya diabaikan adalah bahwa engineering tidak hanya selalu tentang apa-apa yang paling canggih. Tapi merupakan trade-off setidaknya dari segi waktu, biaya, manusia, dan ketersediaan.

Sewaktu CPLD dan FPGA sedang menjadi idola untuk didalami, saya pun sempat tergoda. Saat itu minimum system berbasis microprocessor 8088 sudah usang.  Teknologi yang stabil dan banyak dipergunakan umumnya berbasis mikrokontroler. CPLD dan FPGA tampaknya akan segera menggantikan microcontroller. Kalau tidak ingin “ketinggalan kereta” tampaknya segera mendalami adalah pilihan satu-satunya. Tapi tunggu sebentar…

Dari dulu saya tidak meragunakan kecanggihan dan potensi solusi yang ditawarkan oleh CPLD & FPGA, khususnya FPGA. Sampai sekarang masih terbukti bahwa FPGA banyak dipergunakan di industri. Juga banyak dipergunakan di perguruan tinggi (khususnya di perguruan tinggi besar) sebagai sarana atau alat bantu penelitian. Sebagai penelitian, CPLD & FPGA juga membuka peluang baru karena penelitian di berbagai arsitektur mikrokontroler klasik sudah jenuh, terlalu banyak laporan penelitian yang membahas pokok bahasan yang sama :-D.

Tapi seperti yang saya ungkapkan pada beberapa paragraf sebelumnya, engineering tidak hanya tentang kecanggihan dan kebaruan. Waktu itu saya mencari sebanyak informasi yang saya bisa untuk saya cerna. Seperti seseorang pernah menulis di sebuah forum (tentang sebuah program EDA/CAE yang gratis), bahkan jika suatu program komputer adalah program gratis…sumber daya (terutama waktu) yang anda pergunakan untuk mempelajarinya, tidaklah gratis. Sebelum saya menghabiskan sumber daya saya untuk sesuatu, setidaknya saya mencoba memastikan…is it worth it?

Saat itu saya melihat teknologi CPLD & FPGA memang hebat, canggih tapi tidak layak buat saya. Mengapa? Saya selalu tertarik dengan banyak hal, saya selalu ingin belajar banyak hal. Tetapi menguasai banyak hal teknis jelaslah tidak mungkin, saya harus memilih. Komponen, perangkat dan sistem CPLD/FPGA harganya sangat mahal susah dicari di pasaran lokal. Perkiraan saya waktu itu, untuk sesuatu yang sifatnya niche market harga mahal itu tidak akan segera turun di waktu beberapa tahun ke depan, perkiraan saya tidak meleset. Sekarang anda masih bisa menemui mikrokontroler berarsitektur MCS51, AVR atau bahkan PIC di toko komponen elektronika yang cukup lengkap di beberapa kota. Tapi seberapa banyak tersedia chip FPGA di sana? Mungkin harus pergi ke Bandung atau ngubek Glodok Jakarta :-). Seberapa banyak tersedia di toko online di Indonesia?

 

GAIB

Elektronika, sebatas sedikit pemahaman saya, adalah “ilmu gaib” :-D. Gaib dalam hal bahwa  elektron sendiri, selama berpuluh-puluh tahun tidak terlihat mata manusia. Belakangan para ilmuwan konon berhasil membuat film menangkap elektron yang sedang bergerak. Selama ini manusia belajar mengendalikan efek dari keberadaan dan pergerakannya.

Yang gaib di electronics engineering bukan cuma tentang keberadaan elektronnya itu sendiri. Memperkirakaan teknologi yang bakal thriving beberapa tahun ke depan juga kadang menjadi semacam ilmu gaib. Pencarian informasi, analisis, untuk dapat memprediksi sudah dikenali lebih sebagai seni. Dan kadang lebih dari seni, upaya memprediksi apa yang mungkin unggul apa yang bakal tenggelam sudah seperti “perdukunan”. Banyak noise di kumpulan informasi, semua pihak yang perkepentingan pada suksesnya produk atau teknologi akan berupaya berpromosi mati-matian, kadang mengaburkan fakta dengan iklan.

 

SUMBER DAYA

Selain seni dan “perdukunan” upaya untuk memprediksi teknologi tepat guna adalah perjudian yang rutin. Perusahaan, apalagi perusahaan modal cekak atau yang kasnya sedang mepet, pelit untuk memberikan alat kerja…kecuali sangat terpaksa. Apalagi untuk melakukan upgrade pada peralatan yang sudah ada. Kawan yang bekerja di pabrik produk pangan dengan penanaman modal asing bercerita lain lagi, selama proposal yang diajukan bisa meyakinkan sebagai perbaikan produksi, biasanya pengadaan akan berjalan lancar.

Bagaimana di institusi pemerintah? Sulit dibantah ada pengakuan bahwa sekalipun anggaran terbatas, tetap saja instasi pemerintah dianggap lebih longgar dalam pengadaan barang bila dibandingkan dengan perusahaan yang hidupnya jelas diatur untuk profit. Sungguh pun begitu yang sering dilupakan, anggaran itu diperebutkan banyak pihak. Ada yang mau dapat laptop baru, ada yang perlu layar monitor baru…dan seterusnya. Akhirnya sama saja, teknologi baru belum tentu dapat diikuti.

Yang paling mengenaskan, setidaknya bagi beberapa, adalah untuk pribadi. Kalau tidak punya penghasilan tetap yang besar (dengan pengeluaran kecil, hehehe) atau bisnis sampingan sumber daya keuangan bisa jadi amat terbatas. Memilih yang paling cocok dari sekian banyak produk dan teknologi bisa jadi seni, “perdukunan”. dan perjudian tersendiri yang menyita waktu.

Teknologi elektronika terus berkembang sangat cepat, sementara sumber daya yang saya miliki tidak berkembang secepat itu. Saat teknologi CPLD dan FPGA booming di kampus, saya mengkaji den menilai bahwa untuk konfigurasi sumber daya saya (termasuk lingkungan) kedua teknologi itu tidak layak saya pelajari. Saya berjudi, bertaruh bahwa teknologi berbasis mikrokontroler jauh lebih layak untuk saya pelajari saat itu. Pertaruhan saya terbukti benar. Bahkan bertahun-tahun kemudian, teknologi mikrokontroler masih lebih berdaya guna. Bukan karena teknologinya yang paling canggih tapi karena trade-off dari berbagai faktor. Arsitektur, kehandalan, ketersediaan, harga dan kemudahan, semuanya menentukan.

 

ARDUINO, RASPBERRY PI, BEAGLEBONE, INTEL GALILEO

Setelah Arduino, beberapa board untuk sistem elektronik bermunculan. Ini tipikal untuk electronics engineeing, selalu berubah dan berkembang cepat seperti apa kata bapak pemilik kebun anggrek pada awal tulisan ini. Sama pula seperti saat heboh CPLD & FPGA di kampus dulu, sumber daya yang terbatas menuntut untuk saya melakukan “perdukunan” dan “perjudian”, mencari informasi…menganalisa…dan mengira-ngira apa yang bakal terjadi di depan.

Saat heboh Raspberry Pi, banyak reviewer dan analis yang mengungkapkan plus minus sistem ini. Sedari awal tujuan utama sistem ini dirancang sebagai sarana untuk belajar pemrograman sistem komputer. Tidak dirancang untuk sistem kendali seperti Arduino, keduanya memang dirancang dari awal untuk tujuan yang berbeda. Hanya saja karena harganya yang relatif murah, pendobrak pasar dan publikasi, banyak orang yang tertarik dan membelinya. Setelah memilikinya tentu banyak penghobi yang melakukan otak atik bahkan di luar tujuan penggunaan yang sesungguhnya.

Begitu pula BeagleBone Black, sistem ini satu rumpun dengan Raspberry Pi, berharga lebih murah dari BeagleBone terdahulu dan memiliki lebih  banyak GPIO (input/output) dari Raspberry Pi. Sistem ini adalah SBC masih berbeda peruntukan dengan Arduino.

Dulu saya menduga suatu hari nanti ada sistem yang merupakan pertemuan dari sistem semacam Raspberry Pi yang memiliki kemampuan komputasi yang cukup besar dengan sistem berbasis mikrokontroler seperti Arduino (Uno/Leaonardo/Mega/Due/Yun). Bukan hal yang unik, banyak orang lain juga memprediksi hal serupa, ini trend dan pola yang logis. Hanya perlu bersabar untuk membuktikan apakah spekulasi itu benar. Dan terbukti benar 😀

Intel bekerjasama dengan Arduino merilis Arduino/Intel Galileo dan TRE. Saya tidak menduga sistem hibrid itu benar-benar datang langsung dari Intel dan Arduino. Tadinya saya mengira akan ada pihak ketiga yang melihat peluang dan memproduksi sistem impian saya itu. Sekarang saya bertaruh dengan Intel Galileo (sambil menunggu TRE). Apakah pertaruhan kali ini masih berhasil seperti yang terdahulu? Entahlah, masih harus dicoba untuk dibuktikan.

 

galileo

 

Moral sederhana dari cerita yang lumayan panjang ini adalah kadang-kadang (atau sering) dengan sumber daya yang terbatas saya harus benar-benar memeras otak. Tidak semua atau sebagian besar kemajuan teknologi bisa diikuti dengan menggunakan atau bahkan mengorbankan seumber daya. Memilih teknologi yang tepat guna, layak (feasible) sekaligus punya masa depan yang cerah adalah seni, “perdukunan” dan perjudian. Kadang perjudian besar :-). Di dunia elektronika sistem dan teknologi kadang muncul, bersinar dan tenggelam tidak sampai satu dekade. Tidak semua teknologi canggih berdaya guna untuk konfigurasi yang ada. Beda tempat, beda orang, beda kebutuhan, beda sumber daya maka beda pula kelayakan aplikasi suatu teknologi.

Salah satu tugas engineer adalah mencermati perkembangan teknologi untuk organisasinya. Mana teknologi yang mengancam dan mana yang berpotensi untuk memperkuat dan menguntungkan di masa depan. Sangatlah tidak mudah untuk dilakukan, para futurist dari perusahaan besar saja masih sering salah, meleset dalam memprediksi. Sungguh pun begitu memprediksi adalah kegiatan yang penting, menentukan masa depan.

Tugas para pelatih dan pendidik adalah untuk memperkenalkan dan membiasakan para engineer masa depan untuk melakukan kegiatan ini. Sebagian murid akan mampu melakukannya lebih baik dari yang lain bahkan dari gurunya. Masing-masing orang punya konfigurasi yang berbeda, sebagian lebih tepat untuk bidang-bidang tertentu dan sebagian untuk bidang lainnya. Tiga unsur utama konfigurasi adalah rasa ingin tahu (curiosity), tidak mudah percaya (skepticism), dan pikiran terbuka (open-mindedness).

Tiga unsur di atas penting bagi para engineer dan pendidik. Sebenarnya tiga sikap itu bisa menjadi ciri dari sifat mereka yang bergelut dan menghayati engineering.

Tanpa rasa ingin tahu (curiosity) bisa diduga orang akan abai, bahasa gaulnya cuek-bebek terhadap perkembangan teknologi, enggan untuk belajar dan merasa sudah pintar dan ahli. Tanpa sikap tidak mudah percaya (skepticism) seseorang akan mudah untuk mem-beo. Meng-amini, mengiyakan apa saja yang dipublikasikan oleh para produsen tanpa mau memeriksa bahwa sesungguhnya yang diduga informasi adalah iklan dan promosi semata. Sikap skeptis menuntun orang pada pertanyaan seperti,”Apa benar?” Sikap berpikiran terbuka membuat orang tidak hanya mendasarkan analisanya pada satu sumber saja. Orang yang berpikiran terbuka akan mencari sebanyak mungkin informasi yang bisa diperoleh mengenai teknologi yang sedang dikaji. Jumlah dan lama pencarian tentu berdasarkan tingkat resiko dan kompleksitas. Semakin besar potensi bahaya (resiko) semakin banyak informasi perlu dicari. Mereka yang terbiasa hanya mengandalkan satu sumber akan mudah terjebak, tanpa perbandingan. Produsen biasa memasukkan promosi halus dalam balutan berupa informasi yang menarik, seringkali dikeluarkan oleh pihak lain sehingga tidak mudah dideteksi.

 

Bacaan lanjut:

[1] “Complex programmable logic device,” Wikipedia, the free encyclopedia. 08-Apr-2014 [Online]. Available: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Complex_programmable_logic_device&oldid=594877046. [Accessed: 10-Apr-2014]

[2] J. B. says, “How-to: Programmable logic devices (CPLD),” Hack a Day. [Online]. Available: http://hackaday.com/2008/12/11/how-to-programmable-logic-devices-cpld/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[3]“Field-programmable gate array,” Wikipedia, the free encyclopedia. 09-Apr-2014 [Online]. Available: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Field-programmable_gate_array&oldid=603481677. [Accessed: 10-Apr-2014]
[4]“fpga4fun.com – What are FPGAs?” [Online]. Available: http://www.fpga4fun.com/FPGAinfo1.html. [Accessed: 10-Apr-2014]

[5]“When can FPGA’s be used and Microcontrollers/DSPs not?” [Online]. Available: http://electronics.stackexchange.com/questions/97277/when-can-fpgas-be-used-and-microcontrollers-dsps-not. [Accessed: 10-Apr-2014]
[6]“How to Choose the Right Platform: Raspberry Pi or BeagleBone Black?,” MAKE. [Online]. Available: http://makezine.com/magazine/how-to-choose-the-right-platform-raspberry-pi-or-beaglebone-black/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[7]“Arduino Announces Two new Boards: Galileo and TRE,” MAKE. [Online]. Available: http://makezine.com/2013/10/03/arduino-announces-two-new-linux-boards/. [Accessed: 10-Apr-2014]

[8]S. Pearson, “Arduino collaborates with Intel to create the Galileo.” [Online]. Available: http://makerflux.com/arduino-collaborates-intel-create-galileo/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[9]T. Klosowski, “How to Pick the Right Electronics Board for Your DIY Project,” Lifehacker. [Online]. Available: http://lifehacker.com/how-to-pick-the-right-electronics-board-for-your-diy-pr-742869540. [Accessed: 10-Apr-2014]
[10], “5 Suggestions for Better STEM Education, From Students [full article]” Mashable. [Online]. Available: https://pikirsa.wordpress.com/2014/05/15/5-suggestions-for-better-stem-education-from-students-2/

Written by sunupradana

May 17, 2014 at 7:44 pm

Packing instrumen ala kadarnya

leave a comment »

Transit Case

 

Transit case

Beberapa kali mengunjungi Ace Hardware, saya selalu tertarik pada transit case. Tas kotak itu dirancang khusus untuk agar keselamatan peralatan yang dibawa di dalamnya tetap terjaga. Sayangnya harga transit case, buat saya, amat mahal…tidak terjangkau. Padahal saya perlu kotak semacam itu untuk membawa instrumen seperti oscilloscope dan multimeter. Juga banyak papan sistem elektronik yang riskan retak atau patah.Ada masalah dan solusinya harus ditemukan. Cara paling masuk akal adalah dengan memperhatikan cara-cara standar yang diterapkan perusahaan pengiriman barang. Dua yang paling gampang diingat FedEx dan UPS. FedEx telah menyusun beberapa dokumen dalam format pdf, dilengkapi gambar yang jelas sehingga mudah untuk diikuti atau dijadikan inpirasi.

Toko Liman di Jalan Malioboro

Solusi murah meriah ternyata bisa didapatkan dengan menggunakan kotak gabus, pembungkus gelembung udara dan busa PE. Di kota Jogja, toko Liman cukup dikenal banyak orang yang sering berurusan dengan segala hal menyangkut perlengkapan rumah dan aksesoris. Saya tahu toko ini dari tukang jahit ketika memperbaiki tas. Tadinya saya hanya mencoba-coba untuk menanyakan apakah toko ini menjual busa yang bisa dipakai sebagai ganjal peredam. Ternyata untuk keperluan semacam ini, toko ini terbilang lengkap. Saya tidak bermaksud promosi, hanya supaya yang berkepentingan nantinya bisa mudah memperoleh yang diperlukan di satu tempat, tidak perlu berkeliling kota lagi :-D.

 

 

Kotak gabus / styrofoam box / stryrofoam cooler / foam cooler box diletakkan di bagian depan toko. Kotak gabus bisa dijadikan wadah sebelum pelindung akhir berupa kotak kayu (jasa pemaketan di kantor pos), atau lebih baik lagi jika ditambahi kotak karton/kardus.

 

 

Bubble wrap berupa lembaran plastik yang padanya terdapat kantong-kantong udara kecil. Gelembung kecil udara ini berfungsing sebagai shock absorber, sebagai bantalan untuk menyerap benturan. Di toko Liman, gulungan yang bisa dibeli per meter ini ada di lantai dua.

 

 

IMG_20140330_132020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Busa PE / PE foam / Polyethylene foam ada di lantai dua toko Liman. Fungsinya hampir sama dengan bubble wrap, tetapi umumnya lebih kuat. Busa PE ini juga lebih baik dalam hal melindungi dari goresan. Busa PE dijual dengan beberapa ketebalan yang bisa dipilih.

 

 

IMG_20140330_132047

Terakhir adalah busa pelapis yang umum bisa ditemukan bahkan di toko kertas. Di toko Liman ada dua jenis, warna kuning dan warna hitam yang lebih rigid (keras). Kedua jenis punya beberapa pilihan ketebalan.Sebenarnya di toko Liman juga dijual bola-bola gabus. Ini biasanya dipakai sebagai pengisi ruang kosong (void) sehingga benturan bisa diredam lebih baik dengan cara disebar merata. Sayangnya di toko ini hanya tersedia yang ukurannya kecil, saya khawatir butiran ini bisa masuk ke dalam kotak instrumen. Selain itu takaran jualnya perkilo, ukuran bungkusnya lumayan besar untuk dibawa dengan motor. Saya memilih busa biasa yang tebal sebagai pengganti, di beberapa bagian bisa dipakai busa tipis, bubble wrap atau busa PE.

 

 

Demikian semoga bermanfaat.

[1]“battery_brochure.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/downloads/shared/packagingtips/battery_brochure.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[2]“BatteryShipments_fxcom.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/packaging/guides/BatteryShipments_fxcom.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[3]“Computer_fxcom.pdf – Computer_fxcom.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/packaging/guides/Computer_fxcom.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[4]“GrlPkgGuidelines_fxcom.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/services/pdf/packaging/GrlPkgGuidelines_fxcom.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[5]“How_To_Pack.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/services/pdf/How_To_Pack.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[6]“Microsoft Word – How To Pack Brochure_eng_15_07_2005.doc – howtopack.pdf.”  [Online]. Available: http://www.fedex.com/downloads/hk_english/packagingtips/howtopack.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[7]“Packaging Tips | How to Pack a Box | Packaging Guide – FedEx Canada.”  [Online]. Available: http://www.fedex.com/ca_english/shippingguide/preparepackage/. [Accessed: 29-Mar-2014]

[8]“UPS: Packing Materials.”  [Online]. Available: http://www.ups.com/content/us/en/resources/ship/packaging/materials/index.html?srch_pos=167&srch_phr=en. [Accessed: 29-Mar-2014]

[9]http://en.wikipedia.org/wiki/Bubble_wrap[10]http://www.wisegeek.com/what-is-polyethylene-foam.htm[11]https://www.tigerpak.com/bin/wkf?PRODUCT+page=polyethyleneFoamRolls  

Written by sunupradana

May 17, 2014 at 6:58 pm

Posted in Gadgets, Sisi ringan

Tagged with , , ,

Pengaturan nilai frekuensi PWM Arduino (Uno)

leave a comment »

Berikut bukti hasil pengaturan frekuensi PWM dari Arduino Uno.

Default:

SDS00001

Diubah:

SDS00003

SDS00007

Acuan:

Written by sunupradana

November 10, 2013 at 10:53 am

Atten ke Siglent DSO firmware update

leave a comment »

Written by sunupradana

November 9, 2013 at 11:21 pm

Mencoba diffuser dari kertas minyak

leave a comment »

Dalam membuat dokumentasi atau laporan percobaan kadang-kadang kita memerlukan pencahayaan yang lembut dan lebih merata. Kemungkinan solusi terbaik adalah dengan melakukan pengambilan gambar di luar ruangan. Di tempat dimana cahaya matahari bisa didapatkan secara penuh. Tapi seringkali keadaan tidak memungkinkan, baik karena faktor cuaca maupun karena peralatan tidak praktis atau aman untuk dibawa keluar.

Solusi yang biasa dipakai adalah dengan mempergunakan softbox. Namun softbox biasanya berharga mahal, sering tidak sebanding dengan budget kita. Kalau rajin mengelana di dunia maya Internet sudah cukup banyak tawaran laporan/petunjuk/tutorial pembuatan softbox yang lebih murah daripada membeli produk jadi komersialnya.

Biasanya untuk fotografi sebagian mereka mempergunakan lampu dengan daya yang cukup besar sebagai sumber cahaya dan kertas minyak sebagai diffuser. Saya mencoba memanfaatkan sumber cahaya yang sudah ada yaitu beberapa lampu emergency LED dan lampu belajar. Kertas minyak (baking paper) dapat dibeli di toko-toko alat tulis terdekat, biasanya dalam bentuk lembaran dan harganya pun murah.

Percobaan saya masih menunjukkan kekurangan yaitu masih terdapat bayangan yang cukup mengganggu di benda (komponen elektronik) yang saya foto. Tapi lumayan lah sebagai permulaan, di masa datang kalau ada kesempatan mungkin saya akan mencoba untuk membuat light tent atau light box. Tapi untuk sementara ini cukuplah untuk sekedang mengurangi hard light dengan biaya semurah mungkin dan waktu pengerjaan yang paling singkat.

Links:

+http://zoomyummy.com/2010/06/28/how-to-kill-the-shadow-in-photography/

+http://www.scantips.com/lights/flashbasics3.html

+http://portrait-photographer.blogspot.com/…placing-softbox.html

+http://www.steves-digicams.com/…how-a-softbox-works.html#b

+http://prairielightimages.com/…softbox-vs-umbrella-…-difference/

+http://www.fredmiranda.com/A18/

+http://www.diyphotography.net/how-to-build-24-diy-softboxes

+Home Made Speedlight SoftBox

+http://lifehacker.com/5752697/…cheap-photography-soft-box

+http://www.diyphotography.net/homestudio/cheap-diy-flash-mounted-softbox

+http://www.jimmyamerica.com/…flash-diffuser-from-mydashop/

+http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20110208101429AAC4r2Y

+http://www.product-photography.com.au/articles/diy-light-diffuser.html

+http://canondigitalphotography.com/create-your-own-diffuser../

+http://www.instructables.com/id/Cheap-Softbox-Movie-Light/#intro

++http://handcannononline.com/…a-beginners-guide-to-the-lightbox/

++http://www.wikihow.com/Create-an-Inexpensive-Photography-Lightbox

++http://neatandtangled.blogspot.com/2011/07/diy-light-tent.html

++http://www.photigy.com/…professional-equipment-myth-and-reality/

++http://www.seeyoubehindthelens.com/2012/01/diy-light-tent-is-it-worth-it.html

++http://digital-photography-school.com/how-to-make-a-inexpensive-light-tent

++http://photo.stackexchange.com/…how-do-i-properly-do-shadowless-product-photos

Written by sunupradana

June 30, 2013 at 6:11 pm

Kartu Smartfren 64K

leave a comment »

Ada pendapat yang menyatakan bahwa perbedaan antara kartu 32k dengan 64k hanyalah pada kapasitas memori, terutama seberapa nomor kontak bisa disimpan di dalamnya. Ada yang menyatakan bahwa tidak hanya berbeda di kapasitas nomor kontak saja tapi juga berpengaruh pada kecepatan akses. Jika hendak menelusuri masing-masing pendapat, silahkan langsung menuju bagian link dan menelusuri satu-satu :-).

Tanpa perlu perdebatan panjang, baik menurut sumber-sumber pembahasan teknis di Internet, pengalaman para pengguna maupun pengalaman saya sendiri setuju bahwa kecepatan akses dan transfet data Internet itu bergantung pada banyak hal, titik. Hanya karena jenis/fisik kartu diganti tidak berarti kecepatan transfer pasti akan berubah. Setidaknya transfer bergantung pada lokasi kita (cakupan jaringan), seberapa banyak orang/perangkat yang mengakses pada saat bersamaan, tipe paket data kita, kondisi perangkat & cuaca.

Secara kualitatif untuk rentang saat yang pendek, saya merasa bahwa kecepatan akses di dua modem saya mengalami perbaikan/peningkatan untuk jam akses yang sama setelah kartu Smartfren saya tukar dari 32k ke 64k. Kesimpulan ini tentu sementara sebab tanpa ratusan jam akses di banyak tempat di berbagai cuaca dengan berbagai perangkat maka kesimpulan ini prematur 🙂 Tentu saja bagi mereka yang ingin fokus meneliti, silahkan saja melakukannya. Saya sendiri akan mengupdate seiring waktu, so far so good.

Untuk menukar kartu Smartfren 32 k ke 64 k, cukup datang ke kantor pelayanan Smartfren. Di Jogja (Yogyakarta) saya datang ke Amplaz (Ambarukmo Plaza) untuk melakukan penukaran. Biaya penggantian sebesar lima ribu rupiah per kartu dan perlu membawa kartu identitas (misal KTP/SIM) untuk mereka foto copy. Kemudahan ini sangat membantu karena paket data Smartfren cenderung murah dan cukup lancar bila dibanding yang lain. Mungkin pengecualiannya adalah paket kenyang download dari 3 (Tri / Three). Jadi untuk skenario penggunaan, bisa jadi diperlukan paket data dan kartu/operator yang berbeda.

Silahkan klik pada gambar untuk memperbesar (dengan membuka tab/halaman baru).

ZTE AC2726Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Updates:

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

Haier CE81B, GMT+7, Connex EVO

 

Links:

+Apa bedanya kartu smartfren 32k sma 64k

+http://semapoet.blogspot.com/2012/08/apa-bedanya-kartu-smartfren-32k-sma-64k.html

+Mengenal dan Memilih Jenis-jenis Kartu SP Smartfren

+https://twitter.com/smartfrenworld/statuses/228343072436670464

+https://twitter.com/smartfrenworld/statuses/201532261697466368

+http://hp-cdma.blogspot.com/2012/05/smartfren-e781a-unlock-guide.html

+http://www.ehow.com/info_12168797_64-k-sim-card-vs-128-k-sim.html

+http://www.indiabroadband.net/bsnl-3g/35875-3g-speed-depend-sim.html

+http://www.askmefast.com/…which_sim_is_better_for_accessing_3g…html

+http://www.thinkdigit.com/forum/broadband-dth/161229-my-old-sim-android-doesnt-go-3g…html

Written by sunupradana

June 29, 2013 at 2:56 am