Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Membuat live GNU/Linux dengan live GNU/Linux lainnya

with 2 comments

Pada post yang lain (di sini) saya membagi dokumentasi penggunaan GParted secara sederhana untuk tujuan pembuatan partisi sebagai persiapan untuk membuat sebuah USB flash drive (flash disk) yang dapat diperhunakan seolah-olah sebagai pengganti hard disk. Sehingga kita tidak perlu menginstall OS GNU/Linux di hard disk komputer, tetapi cukup menggunakan flash disk itu saja dari booting sampai shutdown.

Pada post yang lainnya lagi saya juga telah menuliskan cara membuat flash disk seperti itu dari dalam OS Microsoft Windows [artikel di sini]. Cara itu sebenarnya paling mudah bagi calon pengguna yang sama sekali belum pernah menggunakan varian sistem operasi (OS) GNU/Linux sebelumnya seperti; Debian, Ubuntu, Fedora, Red Hat, SUSE. Tetapi kadang-kadang ada kalanya kita perlu menggunakan OS selain Windows yang kita sudah miliki, misalnya karena sudah terlalu banyak “penyakit” di dalamnya dan/atau karena kita ingin menggunakan format file system yang lain.

Berikut adalah cara membuat flash disk berisi GNU/Linux yang bootable dari flash disk GNU/Linux lainnya. Mungkin istilah non-formal yang cukup tepat adalah dengan cara beranak-pinak. Kebetulan flash disk yang akan menjadi bapak biang ini telah saya buat sebelumnya dari GNU/Linux yaitu distro Lubuntu dengan aplikasi YUMI. Di dalamnya saya isi beberapa varian (distro) GNU/Linux, salah satu di antaranya adalah LXLE desktop yang akan saya pakai untuk membuat flash-disk “turunan” yang baru.


Gambar 01. LXLE desktop memiliki banyak sediaan gambar latar yang indah, klik icon ketiga dari kiri untuk mengacak.


Gambar 02. LXLE desktop adalah salah satu varian (distro) dari GNU/Linux yang cukup ringan, bahkan untuk komputer lama.


Gambar 03. Jika mouse digerakkan ke bagian tepi kiri layar, akan ada menu pilihan cepat yang tampil.


Gambar 04. Salah satu trivia, tampilan browsernya juga menarik.


Gambar 05. Perintah lsblk pada ROXTerm.

Kita bisa menggunakan perintah lsblk pada terminal untuk mengetahui drive apa saja yang terpasang dan telah dikenali oleh sistem. Silahkan lihat ulang di sini.


Gambar 06. Perbedaan sebelum dan sesudah flash disk dipasang dan terdeteksi oleh sistem.


Gambar 07. Pertama kali MultiBootUSB tampil pilihan drive oleh sistem tidak selalu sesuai tepat.

Program (software) multibootusb dapat diakses di menu LXLE desktop, di atas program ROXTerm dan di bawah GParted. Saat MultiBootUSB pertama kali aktif, program tentu saja tidak dapat mengetahui dengan pasti apa kehendak dari pengguna. Karena itu tangggung jawab dari pengguna lah untuk memberi tahu sistem drive (flash disk) mana yang akan diisi dengan OS GNU/Linux. Pada Gambar 07 pilihan pertama sistem adalah partisi sde1, untuk contoh kasus ini perku diubah ke partisi flash disk yang memang hendak dipergunakan yaitu sdf1. Untuk tiap komputer, tiap flash disk bahkan untuk tiap kesempatan hal ini bisa saja berbeda-beda, karena itu untuk mengetahuinya bisa mempergunakan perintah lsblk pada terminal.


Gambar 08. Pilihan pada partisi /dev/sdf1


Gambar 09. Instalasi GNU/Linux yang kedua.

Dengan mempergunakan MultiBootUSB (atau bisa juga YUMI), di dalam satu flash disk kita bisa memiliki lebih dari satu sistem operasi (OS). Sekedar sebagai contoh di Gambar 09 bisa dilihat bahwa saya sudah memiliki OS GNU/LINUX LXLE desktop 32-bit. Saya kemudian hendak menambahkan OS GNU/LINUX yang kedua, kali ini adalah Linux MINT 32-bit seperti terlihat pada Gambar 10.


Gambar 10. Memilih file sumber ISO yang benar untuk instalasi Linux MINT xfce 32-bit.


Gambar 11. Error pada tampilan saat proses berlangsung.

Kadang-kadang saat proses sedang berlangsung, terdapat suatu anomali seperti yang terlihat pada Gambar 11. Ukuran antarmuka dari MultiBootUSB tiba-tiba berubah. Saat ini terjadi biasanya tampilan cursor dari mouse berubah menjadi segi empat dengan tanda silang di dalamnya. Tidak perlu panik, ini hanya gangguan tampilan saja. Untuk mengatasinya, silakan klik-kanan di mana saja di luar tampilan antarmuka MultiBootUSB. Proses akan berlangsung terus secara normal.


Gambar 12. Instalasi GNU/Linux kedua telah berhasil.

Pada Gambar 12 kita bisa lihat bahwa proses tetap berlangsung dan berhasil dengan baik walaupun sempat mengalami gangguan seperti yang terlihat pada Gambar 11. Dalam proses itu kebetulan yang dipilih adalah varian/distro LXLE dan Linux Mint xfce, kita bebas memilih varian GNU/Linux yang lain.

Sebagai catatan, walaupun keunggulan dari MultiBootUSB dalah kemampuannya untuk memberikan kita peluang untuk memiliki lebih dari satu OS di dalam drive (flash disk) seperti juga YUMI, tetapi kita bisa juga menggunakannya secara cepat untuk hanya membuat bootable flash disk dengan hanya satu OS. Mirip seperti UNetbootin, kita bisa memilih tab “ISO manager” yang terletak persis di sebelah kanan dari tab “MultiBootUSB ” di antar muka aplikasi itu.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 10:47 am

Posted in Komputer

Tagged with , , ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Bagian berikut di bawah ini hanya bonus, akan ditulis lebih panjang di bagian lain di web log ini. […]

  2. […] Tantangannya adalah bagaimana memulai dengan hambatan minimal. Pada salah satu post sebelum ini, saya telah menulis bagaimana caranya untuk mendapatkan bootable flash disk yang dibuat di sistem Windows. Kita bisa mempergunakan tool UNetbootin atau YUMI. Tetapi ada kalanya kita perlu membuat bootable GNU/Linux flash disk dari sistem GNU/Linux juga. Misalnya jika sistem Windows kita sudah “terlalu parah” atau kita ingin mencoba (atau memerlukan) file sistem lain semisal ext4 dengan pengaturan yang mudah. Untuk ini kita perlu terlebih dahulu memiliki sistem GNU/Linux yang sudah beroperasi. Bisa dari hard disk komputer atau dari flash disk lain yang sudah berisi bootable GNU/Linux. Proses bisa diawali dengan mempersiapkan partisi dalam flash disk itu. Pembahasannya sudah saya utarakan di sini. Setelah itu flash disk bisa diisi dengan satu atau lebih OS GNU/Linux dengan tool MultiBootUSB. Tool ini mudah ditemukan namanya di menu pada sistem GNU/Linux LXLE desktop. Uraiannya sudah saya sampaikan di sini. […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: