Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

IPTEK, tukang, Nazi dan pisau dapur

leave a comment »

Tentang teknologi dan sains kita mendapat manfaat dari pengembangannya di China, Jepang, dan Korsel. Tapi ketiga negara itu juga mendapat bibit pengembangan dan belajar dari setidaknya Amerika Serikat dan Inggris.

Dua negara terakhir itu bisa mengembangkan teknologi dan sains mereka juga berkat jasa para ilmuwan Jerman. Bukan sekedar orang Jerman, mereka sebagian adalah ilmuwan Nazi. Mereka mengabdi pada Hitler, malah ada yang menjadi perwira kehormatan SS.

Di layar latar sy td selesai memutar ulang salah satu dokumentasi mengenai hal ini. Bagaimana teknologi dan sains dikembangkan dari kaum yang jahat. Yang untungnya kejahatannya bisa dihentikan pada waktunya dan ilmunya dimanfaatkan untuk banyak hal yang lebih baik, dengan sedikit pengecualian.

Resiko bahaya ini yang sering dilupakan banyak pihak yang larut heboh dalam gegap gempita teknologi dan sains. Mengajarkan ilmu pada pihak yang salah itu berbahaya, jauh lebih berbahaya daripada memberi pisau dapur kepada perampok.

Belajar dan mengajarkan teknologi atau sains itu sendiri sudah sedemikian susahnya. Karena itu bisa jadi sudah jarang yang mau peduli tepat atau tidak tepatnya, hal-hal yang tidak langsung berkaitan dengan skill. Hal-hal yang justru lebih mendasar, lebih filosofis. Kita hanya peduli untuk menghasilkan ahli, tukang yang ahli.

Padahal dengan ilmu, seseorang dapat lebih dimampukan untuk melakukan kejahatan daripada orang yang “tidak berilmu”. Dapat lebih melegitimasi, menjadi pembenar kegelapan daripada menyebar cahaya. Memanipulasi fakta ilmiah dan menyebar berita salah atau pemahaman keliru yang disengaja kepada publik. Menjadi stempel bagi kejahatan. Semua tidak dilakukan selalu dalam keadaan terpaksa, sebagian memang didasari pada suatu keyakinan. Seperti Wernher von Braun yang menjadi mayor pada pasukan SS milik Nazi.

Seperti pisau dapur ilmu itu dapat dipakai untuk memberi makan bagi banyak orang atau dipakai untuk kejahatan. Sekedar mendapatkan pisau dapur yang sangat tajam, anti karat, kuat dan awet sebenarnya hanyalah separuh jalan. Sekalipun susah dan mungkin rumit, itu masih sebagian dari “cerita”. Siapa yang menguasainya, itu bagian utuh dari cerita. Untuk apa pisau itu dipergunakan, juga bagian dari cerita. Bahkan mungkin penutup cerita yang lebih penting.

Kalau mau meluangkan untuk Googling, kita bisa menemukan nama Robert A.Kehoe. Ini bukan nama orang biasa. Ia adalah seorang ilmuwan. Tetapi kenangan tentangnya tidaklah baik di dunia sains. Ia adalah sedikit contoh ilmuwan modern yang disebut berada dalam daftar pembayaran oleh industri perminyakan untuk menyembunyikan data bukti agar mendukung argumen insdustri perminyakan untuk terus memperoleh untung. Dengan ilmunya, alih-alih mencerahkan ia malah menggelapkan. Ini buat sy masih untung, dasarnya adalah harta, lebih gampang untuk beralih haluan. Kalau dasarnya adalah keyakinan, akan lebih sulit lagi. Ilmu pengetahuan sering tidak berdaya, dah hanya berhenti pada efek permukaan. Terhenti sekedar di permukaan, pada tindakan operasional.

Misalnya seorang mahasiswa bisa jadi ahli dalam merancang pewaktu (timer). Ia bisa memanfaatkan keahliannya untuk merancang bel sekola atau untuk membuat pewaktu bom. Ilmunya sama, tindakan operasionalnya sama, skill yang dipakai sama. Tujuan dan hasilnya berbeda.

Atau menurut berita akhir-akhir ini ada penelitian (Korownyk Christina, Kolber Michael R, McCormack James, Lam Vanessa, Overbo Kate, Cotton Candra et al.) yang mengugkap bahwa rekomendasi dalam acara Dr Oz dan The Doctors tidaklah benar-benar selalu akurat terutama berkaitan dengan diet. Untuk detail nilai persentasi silahkan meilihat di artikel penelitiannya. Padahal acara popular seperti itu menjadi acuan tunggal bagi banyak orang .

Seorang ilmuwan, lengkap dengan gelar Prof atau setidaknya Ph.D. memberikan efek wow yang lebih daripada orang biasa. Karenanya kalau ia melakukan kejahatan, efeknya akan lebih berbahaya. Begitu pula gelar dokter bagi praktisi medis, jauh akan lebih didengar orang banyak daripada orang yang tidak memiliki gelar tersebut. Jadi bayangkan bagaimana Nazi memanfaatkan kecerdasan dan ilmu dari para doktor dan dokter untuk melakukan kejahatan di zaman itu.

Kalau kita terlena dalam berpacu menghasilkan para “tukang yang ahli”, ada baiknya kita melihat kembali ke belakang. Belajar dari era Nazi Jerman dan para ilmuwan pendukungnya.

Di zaman kita ini berbahaya jika alih-alih menyebarkan terang, orang-orang sains malah memelihara gelap. Alih-alih mengajukan teori baru untuk diperiksa rekan sejawat, agar bisa membantah atau mengganti teori lama, malah memelihara dan menyebar pseudoscience.

Sampai adanya teori baru yang diterima tidaklah sebegitu mudah untuk mengarang “teori” sesuai kehendak setiap orang. Akan runtuh bangunan besar sains ini, jika terus dibiarkan seperti itu. Dimulai dari pembiaran yang kecil sampai jadi trend, kembali ke zaman kegelapan abad pertengahan.

Dalam dunia lain, ini seperti para Brahmin dari golongan Brahmana yang tidak percaya akan adanya para dewa . Pengkhianatan tertinggi.
 
 


 

 

 

 

 

 

 

Written by sunupradana

December 26, 2014 at 10:03 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: