Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Menunggu, memilih yang lebih sesuai

leave a comment »

Waktu sekolah di Malang saya pernah menemani bapak yang berkunjung untuk pergi ke kebun anggrek. Kebun itu dipergunakan juga sebagai tempat persilangan varietas anggrek, dilengkapi dengan semacam laboratorium kecil untuk kultur jaringan (seingat saya). Kebun yang ditengahnya rumah huni itu dimiliki oleh seorang pria yang berhenti dari pekerjaannya (lagi, seingat saya) untuk mengembangkan bisnis anggreknya.

Bapak dan pemilik kebun bercerita panjang lebar, yang detailnya tentu tidak saya ingat lagi karena waktu itu pun saya tak sepenuhnya paham. Intinya tentang budi daya anggrek, beliau berdua “orang pertanian” sedangkan saya sebagai pendengar yang sopan. Selang waktu berlalu, si bapak pemilik kebun beralih kepada saya untuk bercakap-cakap sejenak, barangkali sebagai selingan, sekedar bersopan santun. Dia bertanya bidang yang saya pelajari di Malang. Saya bercerita apa adanya bahwa saya belajar tentang elektronika. Rupanya si bapak dulunya berada di bidang yang kurang labih sama. Beliau menanyakan mengapa saya memilih bidang itu. Menurutnya elektronika itu bidang yang melelahkan, Karena orang dituntut untuk up-to-date, terus menerus belajar dan belajar sesuatu yang baru untuk menggantikan apa yang telah sebelumnya dipelajari. Saya paham maksudnya, di elektronika sulit untuk bertahan hanya dengan apa yang sudah dipelajari sepuluh tahun yang lalu. Tentu saja persisnya akan bervariasi dari satu bidang kerja ke bidang kerja lain, tapi pola umumnya sama.

Bapak pemilik kebun bercerita mengapa dia memilih bidang pertanian dan menyarankan saya untuk beralih ke bidang biologi.Sebagai refleksi, sekarang, saya memahami bahwa pertanian dan biologi juga adalah bidang yang dinamis. Ada banyak penemuan, perkembangan dan perubahan dalam bidang pertanian, apalagi biologi. Barangkali maksud bapak pemilik kebun adalah bagaimanapun kedua bidang tersebut di tataran praktik lokal masih lebih ajek daripada elektronika. 

 

MICROPROCESSOR, MICROCONTROLLER, CPLD & FPGA

Sewaktu mendekati tugas akhir ada beberapa teknologi yang relatif baru di lingkup lokal yang sedang boom. Waktu itu, pak Soetikno gencar memperkenalkan dan mengajarkan beberapa teknologi baru kepada para mahasiswa. Beberapa tampaknya tertarik untuk menekuni lebih lanjut. Seperti segala sesuatu yang masih hot tampaknya mudah untuk tertarik segera jump in. Yang baru, yang lebih modern tampaknya akan pasti segera menjadi the next big thing. Kenyataannya tidak selalu🙂.

Filosofi dasar engineering yang kadang tertutup nafsu dan karenanya diabaikan adalah bahwa engineering tidak hanya selalu tentang apa-apa yang paling canggih. Tapi merupakan trade-off setidaknya dari segi waktu, biaya, manusia, dan ketersediaan.

Sewaktu CPLD dan FPGA sedang menjadi idola untuk didalami, saya pun sempat tergoda. Saat itu minimum system berbasis microprocessor 8088 sudah usang.  Teknologi yang stabil dan banyak dipergunakan umumnya berbasis mikrokontroler. CPLD dan FPGA tampaknya akan segera menggantikan microcontroller. Kalau tidak ingin “ketinggalan kereta” tampaknya segera mendalami adalah pilihan satu-satunya. Tapi tunggu sebentar…

Dari dulu saya tidak meragunakan kecanggihan dan potensi solusi yang ditawarkan oleh CPLD & FPGA, khususnya FPGA. Sampai sekarang masih terbukti bahwa FPGA banyak dipergunakan di industri. Juga banyak dipergunakan di perguruan tinggi (khususnya di perguruan tinggi besar) sebagai sarana atau alat bantu penelitian. Sebagai penelitian, CPLD & FPGA juga membuka peluang baru karena penelitian di berbagai arsitektur mikrokontroler klasik sudah jenuh, terlalu banyak laporan penelitian yang membahas pokok bahasan yang sama😀.

Tapi seperti yang saya ungkapkan pada beberapa paragraf sebelumnya, engineering tidak hanya tentang kecanggihan dan kebaruan. Waktu itu saya mencari sebanyak informasi yang saya bisa untuk saya cerna. Seperti seseorang pernah menulis di sebuah forum (tentang sebuah program EDA/CAE yang gratis), bahkan jika suatu program komputer adalah program gratis…sumber daya (terutama waktu) yang anda pergunakan untuk mempelajarinya, tidaklah gratis. Sebelum saya menghabiskan sumber daya saya untuk sesuatu, setidaknya saya mencoba memastikan…is it worth it?

Saat itu saya melihat teknologi CPLD & FPGA memang hebat, canggih tapi tidak layak buat saya. Mengapa? Saya selalu tertarik dengan banyak hal, saya selalu ingin belajar banyak hal. Tetapi menguasai banyak hal teknis jelaslah tidak mungkin, saya harus memilih. Komponen, perangkat dan sistem CPLD/FPGA harganya sangat mahal susah dicari di pasaran lokal. Perkiraan saya waktu itu, untuk sesuatu yang sifatnya niche market harga mahal itu tidak akan segera turun di waktu beberapa tahun ke depan, perkiraan saya tidak meleset. Sekarang anda masih bisa menemui mikrokontroler berarsitektur MCS51, AVR atau bahkan PIC di toko komponen elektronika yang cukup lengkap di beberapa kota. Tapi seberapa banyak tersedia chip FPGA di sana? Mungkin harus pergi ke Bandung atau ngubek Glodok Jakarta🙂. Seberapa banyak tersedia di toko online di Indonesia?

 

GAIB

Elektronika, sebatas sedikit pemahaman saya, adalah “ilmu gaib”😀. Gaib dalam hal bahwa  elektron sendiri, selama berpuluh-puluh tahun tidak terlihat mata manusia. Belakangan para ilmuwan konon berhasil membuat film menangkap elektron yang sedang bergerak. Selama ini manusia belajar mengendalikan efek dari keberadaan dan pergerakannya.

Yang gaib di electronics engineering bukan cuma tentang keberadaan elektronnya itu sendiri. Memperkirakaan teknologi yang bakal thriving beberapa tahun ke depan juga kadang menjadi semacam ilmu gaib. Pencarian informasi, analisis, untuk dapat memprediksi sudah dikenali lebih sebagai seni. Dan kadang lebih dari seni, upaya memprediksi apa yang mungkin unggul apa yang bakal tenggelam sudah seperti “perdukunan”. Banyak noise di kumpulan informasi, semua pihak yang perkepentingan pada suksesnya produk atau teknologi akan berupaya berpromosi mati-matian, kadang mengaburkan fakta dengan iklan.

 

SUMBER DAYA

Selain seni dan “perdukunan” upaya untuk memprediksi teknologi tepat guna adalah perjudian yang rutin. Perusahaan, apalagi perusahaan modal cekak atau yang kasnya sedang mepet, pelit untuk memberikan alat kerja…kecuali sangat terpaksa. Apalagi untuk melakukan upgrade pada peralatan yang sudah ada. Kawan yang bekerja di pabrik produk pangan dengan penanaman modal asing bercerita lain lagi, selama proposal yang diajukan bisa meyakinkan sebagai perbaikan produksi, biasanya pengadaan akan berjalan lancar.

Bagaimana di institusi pemerintah? Sulit dibantah ada pengakuan bahwa sekalipun anggaran terbatas, tetap saja instasi pemerintah dianggap lebih longgar dalam pengadaan barang bila dibandingkan dengan perusahaan yang hidupnya jelas diatur untuk profit. Sungguh pun begitu yang sering dilupakan, anggaran itu diperebutkan banyak pihak. Ada yang mau dapat laptop baru, ada yang perlu layar monitor baru…dan seterusnya. Akhirnya sama saja, teknologi baru belum tentu dapat diikuti.

Yang paling mengenaskan, setidaknya bagi beberapa, adalah untuk pribadi. Kalau tidak punya penghasilan tetap yang besar (dengan pengeluaran kecil, hehehe) atau bisnis sampingan sumber daya keuangan bisa jadi amat terbatas. Memilih yang paling cocok dari sekian banyak produk dan teknologi bisa jadi seni, “perdukunan”. dan perjudian tersendiri yang menyita waktu.

Teknologi elektronika terus berkembang sangat cepat, sementara sumber daya yang saya miliki tidak berkembang secepat itu. Saat teknologi CPLD dan FPGA booming di kampus, saya mengkaji den menilai bahwa untuk konfigurasi sumber daya saya (termasuk lingkungan) kedua teknologi itu tidak layak saya pelajari. Saya berjudi, bertaruh bahwa teknologi berbasis mikrokontroler jauh lebih layak untuk saya pelajari saat itu. Pertaruhan saya terbukti benar. Bahkan bertahun-tahun kemudian, teknologi mikrokontroler masih lebih berdaya guna. Bukan karena teknologinya yang paling canggih tapi karena trade-off dari berbagai faktor. Arsitektur, kehandalan, ketersediaan, harga dan kemudahan, semuanya menentukan.

 

ARDUINO, RASPBERRY PI, BEAGLEBONE, INTEL GALILEO

Setelah Arduino, beberapa board untuk sistem elektronik bermunculan. Ini tipikal untuk electronics engineeing, selalu berubah dan berkembang cepat seperti apa kata bapak pemilik kebun anggrek pada awal tulisan ini. Sama pula seperti saat heboh CPLD & FPGA di kampus dulu, sumber daya yang terbatas menuntut untuk saya melakukan “perdukunan” dan “perjudian”, mencari informasi…menganalisa…dan mengira-ngira apa yang bakal terjadi di depan.

Saat heboh Raspberry Pi, banyak reviewer dan analis yang mengungkapkan plus minus sistem ini. Sedari awal tujuan utama sistem ini dirancang sebagai sarana untuk belajar pemrograman sistem komputer. Tidak dirancang untuk sistem kendali seperti Arduino, keduanya memang dirancang dari awal untuk tujuan yang berbeda. Hanya saja karena harganya yang relatif murah, pendobrak pasar dan publikasi, banyak orang yang tertarik dan membelinya. Setelah memilikinya tentu banyak penghobi yang melakukan otak atik bahkan di luar tujuan penggunaan yang sesungguhnya.

Begitu pula BeagleBone Black, sistem ini satu rumpun dengan Raspberry Pi, berharga lebih murah dari BeagleBone terdahulu dan memiliki lebih  banyak GPIO (input/output) dari Raspberry Pi. Sistem ini adalah SBC masih berbeda peruntukan dengan Arduino.

Dulu saya menduga suatu hari nanti ada sistem yang merupakan pertemuan dari sistem semacam Raspberry Pi yang memiliki kemampuan komputasi yang cukup besar dengan sistem berbasis mikrokontroler seperti Arduino (Uno/Leaonardo/Mega/Due/Yun). Bukan hal yang unik, banyak orang lain juga memprediksi hal serupa, ini trend dan pola yang logis. Hanya perlu bersabar untuk membuktikan apakah spekulasi itu benar. Dan terbukti benar😀

Intel bekerjasama dengan Arduino merilis Arduino/Intel Galileo dan TRE. Saya tidak menduga sistem hibrid itu benar-benar datang langsung dari Intel dan Arduino. Tadinya saya mengira akan ada pihak ketiga yang melihat peluang dan memproduksi sistem impian saya itu. Sekarang saya bertaruh dengan Intel Galileo (sambil menunggu TRE). Apakah pertaruhan kali ini masih berhasil seperti yang terdahulu? Entahlah, masih harus dicoba untuk dibuktikan.

 

galileo

 

Moral sederhana dari cerita yang lumayan panjang ini adalah kadang-kadang (atau sering) dengan sumber daya yang terbatas saya harus benar-benar memeras otak. Tidak semua atau sebagian besar kemajuan teknologi bisa diikuti dengan menggunakan atau bahkan mengorbankan seumber daya. Memilih teknologi yang tepat guna, layak (feasible) sekaligus punya masa depan yang cerah adalah seni, “perdukunan” dan perjudian. Kadang perjudian besar🙂. Di dunia elektronika sistem dan teknologi kadang muncul, bersinar dan tenggelam tidak sampai satu dekade. Tidak semua teknologi canggih berdaya guna untuk konfigurasi yang ada. Beda tempat, beda orang, beda kebutuhan, beda sumber daya maka beda pula kelayakan aplikasi suatu teknologi.

Salah satu tugas engineer adalah mencermati perkembangan teknologi untuk organisasinya. Mana teknologi yang mengancam dan mana yang berpotensi untuk memperkuat dan menguntungkan di masa depan. Sangatlah tidak mudah untuk dilakukan, para futurist dari perusahaan besar saja masih sering salah, meleset dalam memprediksi. Sungguh pun begitu memprediksi adalah kegiatan yang penting, menentukan masa depan.

Tugas para pelatih dan pendidik adalah untuk memperkenalkan dan membiasakan para engineer masa depan untuk melakukan kegiatan ini. Sebagian murid akan mampu melakukannya lebih baik dari yang lain bahkan dari gurunya. Masing-masing orang punya konfigurasi yang berbeda, sebagian lebih tepat untuk bidang-bidang tertentu dan sebagian untuk bidang lainnya. Tiga unsur utama konfigurasi adalah rasa ingin tahu (curiosity), tidak mudah percaya (skepticism), dan pikiran terbuka (open-mindedness).

Tiga unsur di atas penting bagi para engineer dan pendidik. Sebenarnya tiga sikap itu bisa menjadi ciri dari sifat mereka yang bergelut dan menghayati engineering.

Tanpa rasa ingin tahu (curiosity) bisa diduga orang akan abai, bahasa gaulnya cuek-bebek terhadap perkembangan teknologi, enggan untuk belajar dan merasa sudah pintar dan ahli. Tanpa sikap tidak mudah percaya (skepticism) seseorang akan mudah untuk mem-beo. Meng-amini, mengiyakan apa saja yang dipublikasikan oleh para produsen tanpa mau memeriksa bahwa sesungguhnya yang diduga informasi adalah iklan dan promosi semata. Sikap skeptis menuntun orang pada pertanyaan seperti,”Apa benar?” Sikap berpikiran terbuka membuat orang tidak hanya mendasarkan analisanya pada satu sumber saja. Orang yang berpikiran terbuka akan mencari sebanyak mungkin informasi yang bisa diperoleh mengenai teknologi yang sedang dikaji. Jumlah dan lama pencarian tentu berdasarkan tingkat resiko dan kompleksitas. Semakin besar potensi bahaya (resiko) semakin banyak informasi perlu dicari. Mereka yang terbiasa hanya mengandalkan satu sumber akan mudah terjebak, tanpa perbandingan. Produsen biasa memasukkan promosi halus dalam balutan berupa informasi yang menarik, seringkali dikeluarkan oleh pihak lain sehingga tidak mudah dideteksi.

 

Bacaan lanjut:

[1] “Complex programmable logic device,” Wikipedia, the free encyclopedia. 08-Apr-2014 [Online]. Available: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Complex_programmable_logic_device&oldid=594877046. [Accessed: 10-Apr-2014]

[2] J. B. says, “How-to: Programmable logic devices (CPLD),” Hack a Day. [Online]. Available: http://hackaday.com/2008/12/11/how-to-programmable-logic-devices-cpld/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[3]“Field-programmable gate array,” Wikipedia, the free encyclopedia. 09-Apr-2014 [Online]. Available: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Field-programmable_gate_array&oldid=603481677. [Accessed: 10-Apr-2014]
[4]“fpga4fun.com – What are FPGAs?” [Online]. Available: http://www.fpga4fun.com/FPGAinfo1.html. [Accessed: 10-Apr-2014]

[5]“When can FPGA’s be used and Microcontrollers/DSPs not?” [Online]. Available: http://electronics.stackexchange.com/questions/97277/when-can-fpgas-be-used-and-microcontrollers-dsps-not. [Accessed: 10-Apr-2014]
[6]“How to Choose the Right Platform: Raspberry Pi or BeagleBone Black?,” MAKE. [Online]. Available: http://makezine.com/magazine/how-to-choose-the-right-platform-raspberry-pi-or-beaglebone-black/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[7]“Arduino Announces Two new Boards: Galileo and TRE,” MAKE. [Online]. Available: http://makezine.com/2013/10/03/arduino-announces-two-new-linux-boards/. [Accessed: 10-Apr-2014]

[8]S. Pearson, “Arduino collaborates with Intel to create the Galileo.” [Online]. Available: http://makerflux.com/arduino-collaborates-intel-create-galileo/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[9]T. Klosowski, “How to Pick the Right Electronics Board for Your DIY Project,” Lifehacker. [Online]. Available: http://lifehacker.com/how-to-pick-the-right-electronics-board-for-your-diy-pr-742869540. [Accessed: 10-Apr-2014]
[10], “5 Suggestions for Better STEM Education, From Students [full article]” Mashable. [Online]. Available: https://pikirsa.wordpress.com/2014/05/15/5-suggestions-for-better-stem-education-from-students-2/

Written by sunupradana

May 17, 2014 at 7:44 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: