Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Kapasitor jelek dan customer service

with 13 comments

Memang benar, hukum utama engineering adalah Hukum Murphy🙂 . Kesialan itu bisa datang pada saat paling genting. Saat semua kegiatan harusnya berjalan relatif mulus mengear tengat waktu, saat itulah ada saja kejadian yang mengacaukan konsentrasi.

Ceritanya, hari Selasa, 2 April 2012 saya membeli komponen di toko komponen elektronik xxx di Jogja. Di antara beberapa komponen, beberapa adalah kapasitor (yang seharusnya) bernilai 470 nF, 630 V. Alangkah kagetnya ketika sampai di kos setelah saya uji ternyata nilai kapasitansinya meleset jauh, ada yang bernilai sekitar 4.7 nF, ada yang bernilai 10 nF.

Saya mengujinya dengan dua alat ukur, satu DMM dan satu LCR meter. Gambarnya sebagai berikut:


Padahal komponen kapasitor itu bertanda 474J 630L. Supaya yakin, saya pergi ke salah satu toko komponen elektronika langganan saya di Jogja. Di sana saya bertanya pada para pegawai dan bahkan sempat menguji kapasitor-kapasitor aneh itu dengan dua alat ukur (LCR meter) lain. Satu bermerk Aditeg dan satunya lagi saya lupa merknya. Hasil semuanya sama dengan pengujian saya, confirmed!

Setelah dapat second opinion dan diuji dengan empat alat ukur yang berbeda maka saya pun pergi ke toko xxx (3 April 2012). Saya bertemu pegawai perempuan yang kemarin melayani pembelian saya. Saya pun menjelaskan dengan baik-baik dan sopan bahwa komponen kapasitor yang kemarin saya beli itu nilainya meleset jauh. Sebelumnya saya menanyakan apakah benar komponen yang saya beli itu benar seharusnya bernilai 470 nF (0.47 uF). Saya memberi kesempatan kepada si mbak untuk memberikan penjelasan yang baik, jika ada.

Tetapi respon yang diberikan membuat saya cukup kaget dan kesal. Si mbak tadi cuma bilang bahwa mereka tidak tahu, karena mereka tidak mengetes tiap komponen. Kalau itu jawabannya, saya juga tahu, tidak perlu bertanya. Si mbak memang menjawab tidak dengan nada kasar atau nada tinggi. Tapi gaya menjawabnya itu sangat abai, tak acuh. Beberapa pegawai lain di sekitarnya pun begitu, tak acuh. Sehingga saya memperoleh kesan bahwa ini hal biasa, artinya bukan sekali dua kali terjadi. Karena saya beberapa kali pernah menyaksikan orang melakukan komplain di toko lain, dan respon / cara menanggapinya berbeda, tidak dengan gaya “seolah sudah biasa”.

Saya bahkan belum menyinggung atau minta penggantian komponen kapasitor yang jelek / rusak itu. Lebih dari satu kali saya sampaikan bahwa kasihan kalau ada pembeli yang juga terkena masalah serupa. Untung saya punya cukup peralatan untuk memeriksa, lah kalau gak ada? Dan lagi-lagi cepat si mbak itu menjawab dengan jawaban yang sama, bahwa mereka tidak mengetest tiap komponen. She miss the point! Point saya itu sebenarnya bukan minta ganti rugi, tapi kasih tau (dengan cara yang baik sebenarnya) bahwa mereka jual barang jelek! Saya bahkan bawa LCR meter saya dan akhirnya saya buktikan bahwa komponen yang saya beli dan juga komponen stok mereka yang masih mereka jual itu nilainya meleset jauh (tidak akurat dan juga tidak presisi) .

Berurusan dengan beberapa toko komponen elektronika di beberpa kota meninggalkan kesan tersendiri dan meninggalkan semacam pola di pikiraan saya. Biasanya mereka cukup peduli kalau terbukti barang yang mereka jual itu jelek, rugi sedikit buat mereka tidak seberapa daripada kehilangan kepercayaan pelanggan. Apalagi kalau mayoritas pelanggan mereka adalah mahasiswa yang mungkin akan mempergunakan komponen itu untuk proyek akhir mereka. Bayangkan kalau gagal pada hari peraggan / saat ujian!

Saya paham ada ketentuan barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi. Hanya saja, berdasarkan pengalaman saya pribadi, pada para pelanggan biasanya toko punya kebijakan tersendiri. Karena tentu saja bisnis kan dibangun untuk cari untung, apa gunanya menghemat beberapa ribu rupiah kalau potensi keuntungan jangka panjang hilang.

Entah barang bisa ditukar atau tidak, sebenarnya yang jauh lebih penting adalah bagaimana pelayanan orang-ke-orang diberikan kepada pelanggan yang sudah terlanjur susah. Barangkali toko itu memang, katakanlah, suggguh tidak sengaja menjual barang yang jelek. Katakanlah mereka belum tahu. Kalaupun itu yang terjadi maka simpati dan empati perlu diberikan kepada pelanggan sebagai bentuk permintaan maaf telah tidak sengaja menyusahkan pelanggan. Kalaupun belum bisa berempati, setidaknya bersimpati lah. Sebab jika barang bisa ditukar sekalilpun tetapi kalai sikapnyamenjengkelkan, percuma saja. Tidak jarang suatu komponen menjalankan peran penting dalam sistem elektronik, masih untung kalau tidak menimbulkan efek domino. Harga komponen bisa jadi tidak seberapa dibandingkan dengan harga keseluruhan sistem, atau bahkan dengan kesusahan yang bisa ditimbulkan.

Kalau jawabannya tak acuh dengan alasan yang logis tapi konyol (berdasarkan konteks masalah), pelanggan akan tetap jengkel. Mereka barangkali beranggapan toh banyak orang yang masih akan membeli, sehingga tidak ada insentif untuk menjaga kualitas komponen.

Berdasarkan sekelumit pengalaman saya, biasanya toko akan menerima dengan positif kalau ada feedback dari pelanggan tentang kualitas komponen yang mereka jual. Entah secara eksplisit berterima kasih atau tidak, responnya biasanya baik. Lalu, nah ini yang lebih penting, komponen bermasalah itu segera disingkirkan. Supaya tidak menyusahkan konsumen lain, dan nantinya tidak menyusahkan toko itu sendiri. Itulah sebabnya saya kaget dan jengkel dengan dengan respon yang saya terima hari ini di toko xxx. Tak acuh.

Seandainya David L. Jones (WWW.EEVBLOG.COM / TheAmpHour podcast) yang mengalami kejadian ini bisa jadi rant yang dipublish akan lebih keras dari saya. Tapi saya menyadari bahwa toko kelas ini bukanlah Digikey atau Element14 (Farnell / Newark). Karena itu tadi siang saya malas untuk mendebat lebih lanjut. Setelah mencoba menjelaskan beberapa kali, buat saya jelas mereka tidak peduli. Mereka hanya peduli bahwa komponen itu tulisannya seperti itu, ya nilainya seperti itu. Ini logika yang sangat aneh, ini sama saja bahwa mereka tetap tidak peduli bahwa mereka menjual barang cacat/rusak.

Saya menyadari tidak pada tempatnya saya berdebat dengan si mbak. Mereka telah memilih sikap, dan karenanya sebagai konsumen saya pun berhak memilih sikap. Yang penting bagi saya bahwa para konsumen / calon konsumen haknya terlindungi. Setidaknya di zaman Internet ini, mereka bisa well informed.

David L. Jones biasa menyebut komponen macam ini sebagai “One Hung Low”. Dari berbagai informasi di Internet konon komponen macam ini bisa mudah diperoleh dengan murah di situs-situs lelang online. Konon pula dalam jumlah besar, komponen macam ini bisa dikirim dari China. Tentu saja motifnya murni mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa peduli akibatnya bagi pihak lain. Sebab kalau alasannya adalah teknologi, sepertinya tidak mungkin. China sudah sejak beberapa tahun adalah produsen perangkat elektronika yang canggih dan melayani konsumen kelas atas semacam Apple dan Cree.

Saya selalu senang kalau bisa memilih kelas komponen, beberapa toko komponen yang cukup lengkap dan cukup peduli untuk menawarkan biasanya akan memberikan pilihan bagi pembeli. Contoh klasik adalah komponen 2n3055 / TIP3055. Silahkan pilih yang  One Hung Low atau pilih yang lebih baik. Itu pun masih tidak menjamin 100% komponennya benar-benar asli (bukan fake atau counterfeit).

http://sound.westhost.com/fake/counterfeit-p1.htm
http://sound.westhost.com/counterfeit.htm

Sekalipun kesal, demi menjaga fairness, saya tetap membeli satu buah kapasitor lagi di toko xxx (3 April 2012). Kapasitor ini memang saya niatkan sebagai bahan uji coba apakah juga meleset jauh nilainya. Ternyata hasilnya tidak jauh meleset dari nilai yang seharusnya (0.47 uF).


Saya juga membeli beberapa kapasitor pada hari yang sama di toko lain untuk saya coba, berikut hasilnya:



Beberapa foto berikut saya peroleh dari Internet. Silahkan mengakses situsnya masing-masing untuk membaca keterangan lengkapnya.

http://www.discovercircuits.com/dc-mag/Issue_4/rants-raves.htm


http://diy-fever.com/misc/fake-capacitors/


http://en.wikipedia.org/wiki/Capacitor_plague
[Share] Fake or real caps, pengujian keaslian capasitor

Sepemahaman saya ada beberapa pelajaran dari kasus kapasitor jelek alias kapasitor rusak alias kapasitor palsu ini.

Dari sisi toko penjual:

+ Tergantung dari seberapa besar bisnis anda dan seberapa lama anda ingin bertahan dalam bisnis ini, tetapi kepercayaan pembeli adalah hal yang utama.

+ Sedikit rugi / menanggung kerugian karena menarik atau membuang atau memusnahkan komponen palsu bisa jadi akan jauh lebih menguntungkan dalam jangka panjang daripada merusak kepercayaan pelanggan.

+ Karena toko biasanya jarang yang beli langsung dari pabrik komponen, maka selalu ada kemungkinan adanya komponen jelek / palsu yang masuk ke jalur distribusi. Entah distributornya atau pedagang besarnya atau malah kurirnya yang bisa saja bermain curang. Karena itu mekanisme membela dirinya tidak perlu terlalu defensif yang malah akan menjadi tindakan menghina / melecehkan pembeli.

+ Kalau persaingan bisnisnya cukup kompetitif tidaklah bijak untuk memindahkan resiko pengadaan barang jelek ke pembeli, apalagi pelanggan. Ini era informasi, minimal informasi dari mulut-ke-mulut akan berjalan, percayalah.

+ Kalau reputasi toko anda berharga, mungkin ada baiknya anda melakukan apa yang dinamakan sebagai sampling terhadap komponen yang anda jual. Memeriksa setiap komponen kecil dan murah di toko adalah tindakan tidak efektif. Apalagi kalau anda beranggapan pembeli berpikir anda melakukannya, itu pelecehan yang amat / sangat bagi cara pikir pembeli! Cukup  lakukan uji petik kalau anda memang peduli.

Dari sisi pembeli:

+ Awalnya saya merasa cukup aneh dengan fenomena mulai banyaknya dijual capacitance meter. Saya bertanya-tanya mengapa bukan LCR meter sekalian saja yang banyak dijual? Ternyata fenomena kapasitor jelek memang masuk sampai ke toko penjual komponen, bukan hanya pada MB komputer dari pabrikan. Jadi kalau sering berurusan dengan kapasitor, barangkali layak dipertimbangkan untuk membeli capacitance meter. Kalau ada dana cukup, investasi LCR meter akan membantu.

+ Belilah komponen dari toko yang bagus komponennya dan baik pelayanannya. Hukum alam bekerja, bantulah! Suburkan padi, bukan sebagian besar ilalang. Perkuat bisnis yang bagus, bukan yang tidak bagus🙂 Minimal, bantu berkembangnya toko yang belum punya catatan jelek pada anda, kecuali kalau sangat terpaksa saat pilihan lain sudah didatangi / dicoba😉

+ Sebisanya berhati-hati, karena komponen jelek & komponen palsu bisa saja ditemui di mana saja. Toko komponen elektronik belum tentu tahu kalau ada komponen yang mereka terima dari penyalurnya adalah komponen jelek/palsu. Tergantung seberapa kritis sistem elektronika yang anda bangun. Semakin kritis / semakin kompleks maka semakin layak untuk menginvestasikan sebagian waktu untuk memeriksa sendiri komponen-komponen yang akan dipasang. Yah, it sucks … tapi mau bagaimana lagi

Demikian laporan saya, kalau ada kesalahan ada cara saya menguji coba komponen silahkan dikomentari. Saya akan menyatakan,” I stand corrected.”🙂

catatan kaki: Untuk menghindari kerepotan yang tidak perlu maka nama tokonya saya tulis sebagai xxx. Saya hanya menyampaikan fakta, tetapi dengan situasi seperti sekarang, mengutarakan yang benar saja tidaklah cukup.

 

UPDATE:

Diskusi lebih lanjut mengenai kapasitor dapat diikuti di: http://www.badcaps.net/forum/index.php

Written by sunupradana

April 3, 2012 at 6:54 pm

Posted in Uncategorized

Tagged with , , ,

13 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Satu toko komponen yang sebelumnya tercantum di peta ini, saya hapus. Hal ini karena saya pikir dan rasa saya akan punya beban moral jika memberi arah/informasi setelah pengalaman yang saya alami. Kalau berminat ingin tahu silahkan membaca selengkapnya di sini. […]

  2. memang benar mas , kalo bisa tanya tentang kebenaran komponen jangan tanya ke mbak mbak penjualnya, masalahnya diya gag tahu apa apa. yg dia tahu cuma JUAL LAYANI, aku pernah ada pengalaman kyk mas td. ,, mbag mbag yg jual td gag mengerti elektronik, aku sampe ngatain gt mas, sampai kesalnya,.. aku juga domisil di jogjakarta mas,

    arya

    May 4, 2012 at 1:01 pm

    • Yap🙂.
      Sebenarnya soal pengalaman/pengetahuan elektronika itu relatif. Toko-toko komponen elektronika dan toko-toko perkakas itu punya sifat unik, menurut saya. Para pegawai penjual yang telah bertahun-tahun bekerja di sana bisa jadi lebih ahli dari pembelinya. Di beberapa toko, di beberapa kota, saya malah bisa bertanya dan belajar dari mereka. Ada hal-hal praktis yang mereka lebih tahu.
      Isi jawaban dan cara menyampaikan jawaban kan bisa jadi dua hal yang berbeda🙂. Antara peduli tapi tidak bisa berbuat apa-apa dengan memang tidak peduli itu sering kali bisa “dibaca” pembeli kok. Saya lebih memilih ikut “memakmurkan” toko yang bagus barang dan pelayanannya😀.

      sunupradana

      May 4, 2012 at 8:22 pm

      • Ada beberpa point yang saya mau sampaikan :
        1.Dengan lari dari toko tersebut tidak menyelesaikan masalah, cukup katakan pada pemiliknya atau yang bertanggung jawab disana (baik secara langsung maupun tidak langsung) bahwa komponen yang anda beli tidak sesuai dengan spesifikasi. Petugas penjualan yang berjaga pada toko toko elektronika kebanyakan tidak memiliki kemampuan dalam hal penyelesaian masalah, menangani customer complain, apalagi sampai hal hal teknis dan mendetail terhadap produk (bisa dibayangkan berapa harga resistor, jika tenaga penjualnya lulusan Sarjana). Tugas mereka hanyalah menjual produk, jika anda mau komplain, komplain lah ke orang yang berkepentingan terhadap urusan tersebut. Biasanya penanggung jawab toko atau pemilik toko. Sebagai pemilik toko mereka akan sangat senang sekali mendapat feedback dari anda.
        Dengan membuat anda puas, pemilik toko akan mendapatkan kepercayaan dari anda, dan esoknya anda tidak akan ragu untuk membeli barang dari toko tersebut Tapi sayangnya di lapangan kondisinya tidak selalu seperti itu, Customer sering sekali ingin mendapatkan harga yang murah”. Hal ini disikapi penjual dengan memilih distributor yang sama dengan retailer retailer di kota tersebut. Sehingga tidak ada perbedaan harga yang mencolok,dan juga tidak ada perbedaan kualitas yang mencolok. Anda bisa perhatikan seluruh toko retail, mereka biasanya cukup mengenal satu sama lain, kalau bidang usahanya cukup luas dan memiliki dana biasanya mereka punya perkumpulan sendiri. Anggotanya terdiri dari retailer dan distributor. So hari ini anda dapat C yang nggak bagus dari toko XXX, trus anda pindah hati ke toko YYY, tetap saja anda punya kemungkinan untuk dapat C yang nggak bagus dari toko Y. Sebab toko hanya menjual dan produksi dilakukan di pabrik.

        Sebagai info, air force one pun, dalam setiap investigasinya tidak luput dari komponen aspal.

        2. Toko dalam hal ini yang anda maksud retailer, dimana anda boleh beli produk dengan quantity minimum 1 biji dan tanpa NPWP ,hanya boleh membeli ke distributor. Toko, apalagi, konsumen tidak berhak dan tidak boleh membeli ke produsen. Hal ini untuk menjaga proses pengadaan dan distribusi agar berjalan secara lancar dan juga proses proses penting lainnya.

        3. Custumer behavior, sangat mempengaruhi distributor ada di negara tersebut. Jika di sebuah negara customernya senang membeli barang kwalitas rendah, maka distributor, distributor dengan kriteria tersebut sangat mudah tumbuh di sebuah negara. Sedangkan distributor dengan kwalitas tinggi (kemungkinan besar harga mahal) akan angkat kaki dari Indonesia, karena tidak bisa mencukupi biaya operasional.

        So sudah siapkah indonesia dengan barang kualitas bagus, harga mahal, sehingga didapatkan pelayanan prima dan juga pendapatan negara dari pajak yang tinggi, dan hal tersebut jika di dukung oleh pemerintahan yang bebas korupsi, dan realistis, bisa membawa Indonesia menjadi lebih makmur.

        Liat kiri kanan, OS aja masih nyolong, software software yang terinstall banyak terisi malware. Printer banyak dipasang barang nggak jelas, mau ngepprint malah blobor.
        Indonesia oh Indonesia ……..

        John

        January 24, 2014 at 1:38 am

  3. biaasanya toko yg peduli sama pelanggannya itu yg penjaganya wajahnya orang cina, si engkok atau si encik, meski berbeda keyakinan tapi mereka bisa diandalkan, itu yg penting bagi duniawi mereka.

    Fanriado

    June 18, 2012 at 6:16 pm

  4. wow..”serem” juga ya..bagaimana kalau Cap sebagai resistance AC current (pengganti drop resitor) bisa meledak tuh barang
    setau gue di Harco-Glodok..belum ada yang “malsuin” capacitor..atau gue belum ketemu..he..he

    Moti

    November 23, 2012 at 9:06 pm

    • Hahaha bisa disebut “romantika” ndak ya?
      Terpaksa, kalau masih bisa, menggunakan ilmu “jangan berasumsi”. Tidak praktis memang,tapi lebih baik daripada meledug kan🙂

      sunupradana

      November 24, 2012 at 11:04 am

  5. apakah toko yang dimaksud adalah toko 51?kalo iya..ngk jadi beli kesana deh…

    kasman

    November 25, 2012 at 9:17 am

    • Maaf, belajar dari kerumitan kasus ibu Prita saya tidak menyebutkan nama toko apapun. Saya tahu hampir semua toko komponen yg cukup besar di kota Jogja, dan berikut peta interaktif toko yang masih cukup sering saya datangi: http://wp.me/p1CgjB-7H . Saya tidak menjamin apapun, hanya sekedar pengalaman saya saja bahwa komponen dari toko-toko itu belum saya temukan bermasalah.

      sunupradana

      November 25, 2012 at 9:57 am

  6. harga alat buat ukur kapasitor seperti gambar diatas barapa mas,
    disolo susah carinya
    maturnuwun

    dani

    March 4, 2013 at 11:34 am

  7. Memang terkadang yg melayani ngga paham walaupun sy juga cuma sedikit paham
    Sedikit share br kemarin bokap beli mp3 player dengan daya adaptor 12v minta dicoba ternyata tidak nyala kemudian sy bilang ke mbaknya mungkin polarity terbalik mbaknya ngga paham akhirnya sy bilang +- kebalik dia tetep bingung dia kira amperenya yg kurang malah balik tanya biasanya pakai berapa ampere pak
    Akhirnya dia tunjukin adaptor yg buat coba, tinggal sy geser switch buat ganti polarity akhirnya nyala
    Sy sih maklum saja dalam benak saya mungkin mbak nya pegawai baru

    adam

    May 18, 2014 at 9:52 am

    • Ya, kemungkinan begitu selalu ada🙂 . Susahnya kalau bukan langganan, kita jadi agak sulit mengetahui apa beliaunya pegawai baru. Kalau senior, sepanjang sedikit pengalaman sy, sharing jadi bisa lebih banyak. Sy pernah ditanyai komponen yg di tokonya belum pernah jual tapi mulai banyak yg tanya. Sebaliknya sy sering dapat tips praktis dari mereka.
      Trims sudah singgah dan berbagi ya.

      sunupradana

      May 18, 2014 at 10:12 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: