Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Mencetak PCB dengan kertas majalah

with one comment

Kemajuan teknologi biasanya memang selalu mempunyai dua sisi, baik dan buruk. Salah satu contohnya adalah teknologi dalam teknologi kertas photo. Beberapa tahun yang lalu saya bisa mencetak jalur pada PCB dengan kertas photo, sekarang kertas photo seperti itu sudah cukup sulit untuk ditemukan. Dahulu kertas photo cenderung cepat hancur bila direndam air, sekarang dengan peningkatan teknologi kertas photo tahan air (water resist). Ini berita bagus dari sudut pandang kegunaannya sebagai kertas photo di mana gambar dicetak untuk dokumentasi atau kenang-kenangan. Tapi ini berita jelek saat saya memanfaatkannya sebagai semacam kertas “transfer PCB”.

 

Ada beberapa macam kertas dan media transfer yang telah saya coba, tapi itu disimpan saja untuk lain cerita. Saya kali ini ingin mengemukakan kertas majalah yang glossy sebagai sarana trasfer toner dari printer.

Prinsip pembuatan jalur aliran listrik di PCB sebenarnya cukup sederhana (dari sudut pandang pengguna, bukan ilmuwan materi🙂 ). Silahkan menggunakan Google.com atau Bing.com jika tertarik pada detailnya. Tetapi pada pembahasan kali ini sederhananya jalur aliran listrik (jalur sinyal) mempergunakan lapisan tembaga. Jalur-jalur lapisan tembaga dibentuk dengan membuang bagian yang tidak diperlukan agar tidak terjadi hubung-pendek.

 

Cara membuang bagian tembaga (copper) yang  tidak diperlukan bisa digolongkan dalam dua kategori besar; secara mekanis dan secara kimiawi. Secara mekanis biasa digunakan untuk pembuatan prototipe dengan jumlah produksi kecil, namum cara ini biasanya sangat mahal karena membutuhkan mesin khusus. Cara yang lebih umum adalah dengan cara kimiawi dengan menggunakan larutan.

 

Ada beberapa jenis larutan yang bisa dipergunakan tapi umumnya di Indonesia (AFAIK) yang lazim dipergunakan adalah larutan ferric chloride (FeCl3) . Cara ini paling umum karena paling murah dan bahan bakunya tersedia luas, walaupun hasil limbah pencucian PCB dengan cara ini cukup berbahaya untuk lingkungan.

 

Agar tidak semua bagian lapisan tembaga pada PCB larut dan hilang dalam proses pencucuian dengan FeCl3 maka bagian yang tidak hendak dibuang harus dilindungi dengan ditutup. Cara yang sederhana biasanya jalur sinyal ditutup dengan tinta dari spidol permanen. Tetapi cara ini agak susah diterapkan pada konfigurasi rangkaian yang cukup rumit, yang jarak antara kaki komponennya harus dijaga agar tetap sesuai ketentuan.

 

Cara lain adalah dengan menggunakan media khusus semacam press-n-peel. Tetapi cara ini cukup mahal dan bahan kerjanya cukup langka di sebagian tempat di Indonesia. Penggunaan media transfer seperti ini memang kadang sulit dihindari untuk perancangan PCB yang cukup kompleks dan/atau dengan kerapatan tinggi, juga dengan lebar jalur sinyal yang sempit.

 

Cara yang relatif paling murah dan paling gampang dipergunakan untuk menutup lapisan tembaga yang nantinya akan menjadi jalur sinyal adalah dengan menggunakan toner. Toner diperoleh dengan mempergunakan hasil cetak dari mesin photocopy atau dapat juga dari laser printer yang harganya semakin relatif murah (sudah di bawah satu juta).

 

Untuk mencetak toner pada PCB secara tepat diperlukan suatu media pemindah (media transfer) karena PCB sampai hari ini (CMIIW) tidak dapat dicetak langsung pada mesin pencetak yang umum semacam laser printer. Nah media media transfer ini penting karena menentukan apakah nantinya jalur sinyal pada PCB akan terbentuk dengan benar atau tidak. Pada paragraf awal telah saya kemukakan permasalahan dengan kertas photo yang beredar di pasaran yang tidak mudah hancur bahkan setelah direndam di dalam air. Padahal mudahnya suatu media transfer yang berupa kertas untuk dapat hancur dalam air menentukan baik tidaknya hasil cetak toner pada PCB.

 

Di beberapa situs Internet saya dulu pernah membaca penggunaan kertas dari majalah yang glossy sebagai media transfer. Setelah saya coba ternyata memang berhasil. Berikut adalah hasil dokumentasinya.

 

Jalur dicetak pada kertas majalah yang glossy:

 

 

Papan PCB berukuran 10 cm X 7 cm yang sudah dibungkus dengan kertas majalah berisi cetakan jalur sinyal:

 

 

 

Hasil PCB yang sudah disetrika dan dicuci, pengelupasan belum sempurna:

 

 

PCB yang sudah selesai dicuci untuk dibersihkan dari kertas majalah yang menempel. PCB yang di bawah sudah dibersihkan lapisan toner-nya, sedang toner pada PCB yang di bagian atas gambar belum dibersihkan:

 

 

Kesimpulannya terdapat dua kualitas utama yang perlu dimiliki oleh kertas yang akan dipergunakan sebagai media transfer dari toner:

  1. Mampu menahan sementara cetakan toner. Artinya toner tidak mudah rusak atau terkelupas sebelum dipindahkan dengan cara disetrika.
  2. Gampang hancur bila direndam dalam air. Hal ini penting karena setelah disetrika kertas perlu dilepaskan dan dihilangkan dari PCB. Kertas yang gampang hancur akan membuat jalur sinyal dari toner yang telah dipindahkan ke PCB tidak mudah ikut terkelupas.

 

Kesimpulan yang lebih sempit adalah bahwa memang ternyata kertas majalah glossy terbitan dari dalam negeri terbukti ada yang telah saya buktikan bisa dipergunakan sebagai media transer. Tentu saya tidak bisa memastikan bahwa semua majalah pasti menggunakan kertas yang bisa dipergunakan sebagai media transfer. Tetapi setidaknya ini sudah menjadi indikasi bagus🙂

 

Tips yang saya peroleh dari mencoba sendiri ini adalah;

  1. Gunakan untuk jalur sinyal yang memang berukuran lebih besar dari 10 mil (agar aman). Silahkan coba yang lebih kecil kalau sanggup bekerja dengan ekstra hati-hati dan ekstra sabar dalam mencoba😀 .
  2. Gunakan air panas dalam merendam PCB+kertas majalah yang baru selesai disetrika.
  3. Tambahkan cairan sabun agar kertas mudah terkelupas. Saya mempergunakan (maaf menyebut merk) Sunlight, tetapi silahkan coba produk lain. Dan kalau hasilnya lebih bagus, mohon kebaikannya untuk berbagi informasi.

 

 

Demikian selamat mencoba. 

#PassItOn

Written by sunupradana

November 30, 2011 at 10:57 am

Posted in Circuits, Electronics, Technology

Tagged with , ,

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. pakai kertas bekas stiker, bagian yang licin nya, hasil nya bagus bisa detail. Tidak perlu setrika terlalu panas.

    Jati Anggoro

    July 20, 2014 at 7:52 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: