Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Bapak, anak dan keledai

leave a comment »

Ada seorang bapak yang sedang berjalan bersama anak lelakinya, bersama mereka turut serta pula seekor keledai ketika mereka melewati sekelompok orang terdengar oleh mereka ada yang berkata, “sungguh bodoh bapak itu mempunyai keledai tapi tidak di tunggangi” mendengar komentar itu, sang bapak lantas menyuruh anaknya untuk menaiki keledai tersebut,sedangkan sang bapak berjalaan di sampingnya.

Mereka pun berjalan kembali,ketika tiba di tengah sekelompok orang mereka pun mendengar salah satu dari orang tersebut berkata ”anak tidak punya sopan santun,dia naik keledai sementara sang bapak berjalan” mendengar hal itu sang bapak meminta agar sang anak turun dari keledai,dan berkata pada anaknya “nak sekarang yang naik keledai bapak ya, kamu yang berjalan.”

Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan, hingga tiba di tengah sekelompok orang dan mendengar komentar yang di ucapkan oleh salah satu dari orang tersebut ”wah. … sungguh bapak tidak punya rasa kasihan dia menaiki keledai sementara sang anak di suruhnya berjalan”. Demi mendengar hal tersebut sang bapak turun, dan berunding dengan anaknya “ya sudah sekarang mari kita naiki saja keledai ini bersama-sama.”

Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dengan menaiki keledai tersebut bersama-sama, tentu saja keledai itu berjalan terseok-seok demi menahan beban yang demikian berat.

Sampailah mereka di sebuah pasar,mereka terkejut karena menyaksikan orang-orang di sana menatap dengan rasa heran pada mereka,terdengar oleh mereka ada yang berbisik “sungguh bapak dan anak yang tidak punya rasa belas kasihan keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang!” terkejut oleh komentar seperti itu mereka lalu memutuskan untuk memikul si keledai dan “ha…ha…ha. ..keledai masih hidup…dan sehat kok di pikul? seperti kurang kerjaan”, timpal orang yang lain.

Kisah masyhur ini sebenarnya inspirasi untuk latihan menulis saya yang akan datang, tapi baiklah diajukan sebagai pembuka blog yang baru ini🙂. Kalau tulisan yang akan datang bisa terwujud, rencananya akan membahas tentang negative feedback, positive feedback dan noise. Tentang bagaimana umpan balik itu penting tetapi jika berisi sejumlah besar noise maka umumnya harus ditapis (filtered) terlebih dahulu.

Kisah orang dan keledai ini adalah contoh klasik dari umpan balik (feedback) yang tergolong derau (noise).😀

Sumber kopi :
http://epphyarista.wordpress.com/2010/08/16/kisah-seekor-keledai-dan-pemiliknya/

Written by sunupradana

June 8, 2011 at 11:33 pm

Posted in Filsafat, Life, Sisi ringan, Sosial

Tagged with , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: