Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Sanwa CD772 True RMS Instruction Manual

leave a comment »

Written by sunupradana

October 11, 2015 at 5:28 pm

Posted in Electrical, Electronics

Tagged with , ,

Fluke 179 True RMS DMM User Manual Supplement

leave a comment »

Written by sunupradana

October 11, 2015 at 4:23 pm

Posted in Electrical, Electronics

Tagged with , ,

Fluke 179 True RMS DMM User Manual [2015]

leave a comment »

Written by sunupradana

October 11, 2015 at 4:17 pm

Posted in Electrical, Electronics

Tagged with , ,

Uji coba TINA-TI untuk simulasi pengatur tegangan LM7805

leave a comment »

Berikut ini screenshot dari uji coba penggunaan TINA-TI sebagai simulator untuk rangkaian pengendali tegangan LM7805.

Written by sunupradana

October 4, 2015 at 10:18 am

Solusi untuk beberapa masalah pada sistem komputasi untuk kuliah elektronika daya

leave a comment »

Di zaman yang sudah bergerak jauh meninggalkan zaman batu ini (dan tampaknya belum akan segera kembali), perangkat komputasi sudah menjadi bagian hidup dari banyak orang di perkotaan. Pun begitu di banyak sekolah-sekolah engineering, optimalisasi perangkat dan sistem justru menjadi tema dari banyak makalah dalam jurnal dan proceeding. Karena itu, mundur ke “belakang” menjadi pilihan yang aneh luar biasa. :-D

Meski begitu ada beberapa permasalahan yang nyata yang jelas menjadi tantangan. Misalnya faktor legalitas perangkat lunak yang dipergunakan. Membajak software itu, mungkin, kesannya remeh untuk skala pribadi. Tapi dari sisi pengguna saja ada risiko yang jelas di depan mata; soal ketergantungan. Ini terkesan remeh, tetapi orang yang sudah sangat tergantung dengan suatu software dari suatu vendor (locked in) sering sangat sulit menggantinya dengan alternatif yang lain. Meskipun sebenarnya alternatif itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kerjanya sehari-hari.

Obat alias solusi dari ketergantungan ini adalah upaya pembiasaan dari permulaan untuk mempergunakan perangkat alternatif yang secara legal bebas pakai alias gratis. Untuk aplikasi engineering, jika belum memungkinkan untuk menginstall GNU/Linux di komputer, misalnya bisa menggunakan CAELinux. Meski sudah agak lama, distro ini masih bisa dipergunakan. Untuk saya sendiri, jauh lebih cepat jika aplikasi yang dibutuhkan diinstall saja di laptop (komputer) secara penuh.

Masalah lainnya adalah masalah virus, malware dan sebangsanya. Sistem GNU/Linux, BSD dan Mac tidaklah kebal dari tantangan serupa ini, tetapi perlu diakui sistem Microsoft Windows masih terbukti paling rentan karena jumlah pengguna umumnya. Upaya solusi dari masalah ini yang bisa dengan mudah diterapkan untuk pelajar adalah dengan menginstall beberapa software untuk mengatasinya. Ini sebagai upaya pelengkat dari rangkaian usaha pengamanan lainnya yang sekalipun tidak mendekati sempurna masih cukup baik untuk mengurangi risiko. Beberapa link telah saya kumpulkan di sini, dan terus diperbaharui.

Langkah lain yang paling masuk akal untuk virus, malware dan sejenisnya adalah dengan menggunakan sistem operasi yang lain selain Microsoft Windows. Dua pilihan yang paling mungkin adalah dari garis keluarga BSD atau dari kernel Linux. Dua-duanya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tantangannya adalah bagaimana memulai dengan hambatan minimal. Pada salah satu post sebelum ini, saya telah menulis bagaimana caranya untuk mendapatkan bootable flash disk yang dibuat di sistem Windows. Kita bisa mempergunakan tool UNetbootin atau YUMI. Tetapi ada kalanya kita perlu membuat bootable GNU/Linux flash disk dari sistem GNU/Linux juga. Misalnya jika sistem Windows kita sudah “terlalu parah” atau kita ingin mencoba (atau memerlukan) file sistem lain semisal ext4 dengan pengaturan yang mudah. Untuk ini kita perlu terlebih dahulu memiliki sistem GNU/Linux yang sudah beroperasi. Bisa dari hard disk komputer atau dari flash disk lain yang sudah berisi bootable GNU/Linux. Proses bisa diawali dengan mempersiapkan partisi dalam flash disk itu. Pembahasannya sudah saya utarakan di sini. Setelah itu flash disk bisa diisi dengan satu atau lebih OS GNU/Linux dengan tool MultiBootUSB. Tool ini mudah ditemukan namanya di menu pada sistem GNU/Linux LXLE desktop. Uraiannya sudah saya sampaikan di sini.

Dengan selesainya ketiga artikel tentang pembuatan bootable flash disk yang berisi OS GNU/Linux di blog ini, saya anggap cukup untuk memulai. Kalau ada bagian yang belum jelas, di Internet ada banyak penjelasan yang lebih detail dan lebih teknis. Sesekali mungkin perlu untuk mempergunakan Google Translate. Dengan sejumlah keterangan dalam artikel yang bisa dijadikan kata kunci pencarian informasi lebih lanjut secara mandiri, mahasiswa bisa secara mandiri menyelesaikan permasalahan mengenai kelayakan penggunaan sistem bantu komputasi untuk kuliah power electronics ini.

Hasilnya nanti dengan dua upaya berdasar software ini, tidak ada lagi flash disk berisi virus, malware maupun bekas jejak-jejaknya yang beredar di hari-hari perkuliahan teori dan praktik elda.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 8:42 pm

Pengantar penggunaan GParted

with 2 comments

Entah untuk keperluan membuat partisi baru untuk sistem operasi (semisal GNU/Linux) atau bahkan sekedar untuk “membersihkan” USB flash drive aplikasi seperti GParted ini sangat membantu. Meski demikian jika kita akan melakukan perubahan pengaturan pada drive (termasuk untuk flash disk) kita perlu berhati-hati. Terutama jangan sampai salah sasaran, yaitu mengubah drive yang sebenarnya bukan menjadi tujuan operasi yang kita niatkan. Berikut beberapa rangkaian foto yang memudahkan untuk menuntun penggunaan GParted sebagai cara untuk membuat partisi bagi live GNU/Linux.


Gambar 01. Desktop live GNU/Linux flash disk

Untuk tulisan cepat ini saya memilih distro LXLE sebagai “induk”. Pertimbangannya sederhana, varian alias distribusi GNU/Linux yang ini cukup ringan untuk dijalankan di banyak mesin PC (ada juga versi 32-bit dan 64-bit), bisa boot dari USB flash drive (flash disk) dan memiliki cukup aplikasi (software) untuk keperluan pembuatan live (bootable) GNU/Linux di flash disk.

Untuk keperluan penulisan artikel ini saya melakukan boot (start up) dari flash disk Toshiba 16-GB yang di dalamnya ada beberapa OS varian dari GNU/Linux. Salah satunya adalah LXLDE desktop 32-bit yang saya pakai ini. Sekedar info tambahan versi 32-bit ini saya jalankan tanpa masalah di mesin Asus 64-bit (sebagaimana seharusnya). Menurut saya LXLE dekstop ini cukup memadai sebagai live USB Linux, di dalamnya sudah terdapat LibreOffice dan beberapa aplikasi lain yang cukup untuk memulai. Sedangkan untuk membuat bootable flash disk seperti ini, di dalamnya sudah dari awal terinstall GParted dan multibootusb.

Gambar 02. Terminal (ROXTerm) pada LXLE desktop.

Agar tidak salah dalam melakukan format drive (dalam hal ini flash disk) ada baiknya sebagai langkah pencegahan tambahan kita memeriksa drive yang terpasang dengan perintah lsblk (panduan lainnya ada di sini). Untuk bisa menjalankan perintah lsblk kita perlu membuka terminal (pada LXLE adalah ROXTerm) seperti pada Gambar 02.


Gambar 03. Perintah lsblk.

Pada Gambar 03 di bagian pertama adalah hasil dari perintah lsblk saat flash disk yang hendak dipakai untuk bootable flash disk belum dipasang pada port USB. Sedang pada bagian akhir di gambar yang sama adalah saat flash disk sudah dipasang. Terlihat jelas flash disk itu dikenali sebagai sdc1.


Gambar 04. Saat flash disk dimasukkan sebaiknya kita mount dengan perintah OK.


Gambar 05. Langkah berikutnya adalah membuka aplikasi GParted.

Gambar 06. Pertama kali terbuka GParted menunjukkan partisi lain (/dev/sda), bukan yang hendak sebenarnya dipakai.

Gambar 07. Perlu hati-hati agar tidak merusak partisi lain, pindah dengan pilih ke partisi yang benar (/dev/sdc)


Gambar 08. Setelah partisi yang benar yang hendak kita format sudah dikenali dan terpilih, lakukan Unmount.


Gambar 09. Setelah berhasil melakukan Unmount kita bisa memilih beberapa pilihan operasi dengan melakukan klik-kanan.


Gambar 10. Langkah yang kita pilih adalah menghapus partisi dengan pilihan Delete.


Gambar 11. Setelah berhasil menghapus, langkah berikutnya adalah dengan membuat partisi yang baru.

Jika kita melakukan format dari salah satu distro (varian) GNU/Linux seperti ini (misalnya pada Ubuntu, Lubuntu, Xubuntu, Fedora, SUSE, Debian) kita bisa langsung memilih file system sesuai keperluan, misalnya ada Gambar 11 adalah ext4. Sudah banyak tulisan yang menjelaskan tentang file system, misalnya; tulisan ini dan tulisan ini, silahkan dibaca.


Gambar 12. Kita bisa memberi label pada partisi baru.


Gambar 13. Selesai memilih sejumlah operasi yang akan dilakukan.


Gambar 14. Setelah memilih langkah berikutnya adalah mengeksekusi pilihan yang sudah diambil, Apply.


Gambar 15. Pilihan operasi kita sedang dikerjakan oleh komputer.


Gambar 16. Semua operasi telah berhasil, selesai dilakukan pada flash disk.


Gambar 17. Informasi akhir flash disk telah berhasil diformat ulang sesuai keinginan.

 

MultiBootUSB

Bagian berikut di bawah ini hanya bonus, akan ditulis lebih panjang di bagian lain di web log ini.

Jika kita ingin mendapatkan flash disk yang bisa dipakai untuk booting pada komputer (seolah-olah sebagai pengganti hard disk), maka kita bisa menggunakan aplikasi MultiBootUSB pada LXLE desktop. Sebenarnya ada beberapa pilihan lain yang bisa bekerja dalam sistem GNU/Linux (seperti LXLE) atau yang berkerja di Windows. Tetapi MultiBootUSB sudah tersedia secara default di LXLE, kita bisa langsung memakainya.


Gambar 18. Tampilan awal MultiBootUSB, pilihan /dev/sda1 tidak tepat perlu diganti.


Gambar 19. Pada langkah pertama (Step 1) kita memilih flash disk (drive) yang benar.

Sama seperti GParted, pada MultiBootUSB kita perlu memastikan bahwa pilihan drive (flash disk) sudah benar. Untuk itulah perintah lsblk dan label yang akan dipakai pada mount point sangat mambantu.


Gambar 20. Langkah 2 (Step 2) adalah menunjukkan dan memilih file ISO yang akan dipakai.

 

Distribusi GNU/Linux seperti Linux MINT, UBUNTU, DEBIAN, FEDORA, LXLE banyak diedarkan dalam file dengan format ISO. Ini memudahkan jika pengguna akan lansgung “membakarnya” ke CD atau (yang baru) DVD. File ISO yang sama yang kita manfaatkan untuk menjadikan flash disk kita sebagai flash disk yang bisa mem-booting (bootable) komputer. Yang sudah berisi sistem operasi GNU/Linux (salah satu distro/variannya) dan bisa di bawa ke mana-mana untuk beroperasi di banyak komputer berbeda.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 2:15 pm

Posted in Komputer

Tagged with , , ,

Membuat live GNU/Linux dengan live GNU/Linux lainnya

with 2 comments

Pada post yang lain (di sini) saya membagi dokumentasi penggunaan GParted secara sederhana untuk tujuan pembuatan partisi sebagai persiapan untuk membuat sebuah USB flash drive (flash disk) yang dapat diperhunakan seolah-olah sebagai pengganti hard disk. Sehingga kita tidak perlu menginstall OS GNU/Linux di hard disk komputer, tetapi cukup menggunakan flash disk itu saja dari booting sampai shutdown.

Pada post yang lainnya lagi saya juga telah menuliskan cara membuat flash disk seperti itu dari dalam OS Microsoft Windows [artikel di sini]. Cara itu sebenarnya paling mudah bagi calon pengguna yang sama sekali belum pernah menggunakan varian sistem operasi (OS) GNU/Linux sebelumnya seperti; Debian, Ubuntu, Fedora, Red Hat, SUSE. Tetapi kadang-kadang ada kalanya kita perlu menggunakan OS selain Windows yang kita sudah miliki, misalnya karena sudah terlalu banyak “penyakit” di dalamnya dan/atau karena kita ingin menggunakan format file system yang lain.

Berikut adalah cara membuat flash disk berisi GNU/Linux yang bootable dari flash disk GNU/Linux lainnya. Mungkin istilah non-formal yang cukup tepat adalah dengan cara beranak-pinak. Kebetulan flash disk yang akan menjadi bapak biang ini telah saya buat sebelumnya dari GNU/Linux yaitu distro Lubuntu dengan aplikasi YUMI. Di dalamnya saya isi beberapa varian (distro) GNU/Linux, salah satu di antaranya adalah LXLE desktop yang akan saya pakai untuk membuat flash-disk “turunan” yang baru.


Gambar 01. LXLE desktop memiliki banyak sediaan gambar latar yang indah, klik icon ketiga dari kiri untuk mengacak.


Gambar 02. LXLE desktop adalah salah satu varian (distro) dari GNU/Linux yang cukup ringan, bahkan untuk komputer lama.


Gambar 03. Jika mouse digerakkan ke bagian tepi kiri layar, akan ada menu pilihan cepat yang tampil.


Gambar 04. Salah satu trivia, tampilan browsernya juga menarik.


Gambar 05. Perintah lsblk pada ROXTerm.

Kita bisa menggunakan perintah lsblk pada terminal untuk mengetahui drive apa saja yang terpasang dan telah dikenali oleh sistem. Silahkan lihat ulang di sini.


Gambar 06. Perbedaan sebelum dan sesudah flash disk dipasang dan terdeteksi oleh sistem.


Gambar 07. Pertama kali MultiBootUSB tampil pilihan drive oleh sistem tidak selalu sesuai tepat.

Program (software) multibootusb dapat diakses di menu LXLE desktop, di atas program ROXTerm dan di bawah GParted. Saat MultiBootUSB pertama kali aktif, program tentu saja tidak dapat mengetahui dengan pasti apa kehendak dari pengguna. Karena itu tangggung jawab dari pengguna lah untuk memberi tahu sistem drive (flash disk) mana yang akan diisi dengan OS GNU/Linux. Pada Gambar 07 pilihan pertama sistem adalah partisi sde1, untuk contoh kasus ini perku diubah ke partisi flash disk yang memang hendak dipergunakan yaitu sdf1. Untuk tiap komputer, tiap flash disk bahkan untuk tiap kesempatan hal ini bisa saja berbeda-beda, karena itu untuk mengetahuinya bisa mempergunakan perintah lsblk pada terminal.


Gambar 08. Pilihan pada partisi /dev/sdf1


Gambar 09. Instalasi GNU/Linux yang kedua.

Dengan mempergunakan MultiBootUSB (atau bisa juga YUMI), di dalam satu flash disk kita bisa memiliki lebih dari satu sistem operasi (OS). Sekedar sebagai contoh di Gambar 09 bisa dilihat bahwa saya sudah memiliki OS GNU/LINUX LXLE desktop 32-bit. Saya kemudian hendak menambahkan OS GNU/LINUX yang kedua, kali ini adalah Linux MINT 32-bit seperti terlihat pada Gambar 10.


Gambar 10. Memilih file sumber ISO yang benar untuk instalasi Linux MINT xfce 32-bit.


Gambar 11. Error pada tampilan saat proses berlangsung.

Kadang-kadang saat proses sedang berlangsung, terdapat suatu anomali seperti yang terlihat pada Gambar 11. Ukuran antarmuka dari MultiBootUSB tiba-tiba berubah. Saat ini terjadi biasanya tampilan cursor dari mouse berubah menjadi segi empat dengan tanda silang di dalamnya. Tidak perlu panik, ini hanya gangguan tampilan saja. Untuk mengatasinya, silakan klik-kanan di mana saja di luar tampilan antarmuka MultiBootUSB. Proses akan berlangsung terus secara normal.


Gambar 12. Instalasi GNU/Linux kedua telah berhasil.

Pada Gambar 12 kita bisa lihat bahwa proses tetap berlangsung dan berhasil dengan baik walaupun sempat mengalami gangguan seperti yang terlihat pada Gambar 11. Dalam proses itu kebetulan yang dipilih adalah varian/distro LXLE dan Linux Mint xfce, kita bebas memilih varian GNU/Linux yang lain.

Sebagai catatan, walaupun keunggulan dari MultiBootUSB dalah kemampuannya untuk memberikan kita peluang untuk memiliki lebih dari satu OS di dalam drive (flash disk) seperti juga YUMI, tetapi kita bisa juga menggunakannya secara cepat untuk hanya membuat bootable flash disk dengan hanya satu OS. Mirip seperti UNetbootin, kita bisa memilih tab “ISO manager” yang terletak persis di sebelah kanan dari tab “MultiBootUSB ” di antar muka aplikasi itu.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 10:47 am

Posted in Komputer

Tagged with , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 91 other followers