Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Dua papan mikrokontroler

leave a comment »

Sebelum papan Arduino (seperti Arduino Uno atau Arduino Mega) menjadi sangat mudah untuk ditemukan dan bisa dibeli dengan harga yang cukup terjangkau, dahulu papan mikrokontroler untuk belajar dan prototyping dibuat dalam bentuk yang berbeda.

Saya memiliki dua di antaranya, saat belajar beralih dari asitektur MCS-51 ke AVR. Sekarang papan-papan itu sudah berumur cukup tua, sehingga saya merasa perlu untuk membuat post untuk mencatatnya sehingga saya bisa mengakses dokumentasi dengan lebih cepat.

Yang pertama adalah DT-COMBO AVR-51

Dulu papan ini dipakai untuk belajar memprogram Atmel AVR ATmega32. Catatan lebih lanjut saya buat di Tinker: di halaman ini.

Yang kedua adalah DST-51, juga untuk mempelajari AVR (dengan soket konverter), baik Atmel AVR ATmega16 ataupun ATmega32. Sekarang, papan ini (seperti DT-COMBO) saya progam dengan bantuan USBasp. Catatan lebih lanjut, termasuk konveri dari 6-way ICSP ke ISP linier saya buat juga di halaman lain di Tinker: yaitu di halaman ini.

 

Advertisements

Written by sunupradana

July 14, 2017 at 10:38 am

Post di situs yang baru, simulasi MOSFET & IGBT

leave a comment »

Beberapa waktu yang lalu, saya dimampukan untuk bisa mencoba membuat situs yang baru dengan domain sendiri yaitu http://sunupradana.info.
Dari domain itu saya buat beberapa sub-domain. Sayangnya karena host pada waktu itu hanya menyediakan SSL untuk satu domain utama maka semua blog saya masukkan ke dalam satu domain dan bukan dalam masing-masing sub-domain. Hanya saya beri redirect ke masing-masing blog agar lebih mudah. Masing-masing situs yang baru yang terpisah isinya satu sama lain adalah sebagai berikut.

  1. tinker.sunupradana.info
  2. elda.sunupradana.info
  3. blog.sunupradana.info
  4. sunupradana.info

Tulisan / foto / video yang baru akan saya post di salah satu situs yang baru dalam daftar di atas. Misalnya tulisan tentang simulasi penggunaan MOSFET untuk keperluan penyakelaran (switch) saya post di sini. Kumpulan screenshot tentang simulasi IGBT sebagai sakelar ada di sini. Sebelumnya saya sudah menyampaikan persamaan dan perbedaan antara AC dengan DC. Juga merangkum dan menyampaikan kembali apakah pergerakan elektron itu sebenarnya lambat ataukah cepat?

Untuk pengenalan tentang ilmu elektronika daya (power electronics) saya sampaikan di dalam page. Begitu pula tentang elektronika daya sebagai sebuah ilmu interdisiplin saya sampaikan dalam bentuk peta.

Untuk rangkuman informasi mengenai apakah yang dimaksud dengan tinkering itu, bisa dibaca di halaman ini. Begitu pula sumber-sumber belajar untuk tinkering sudah saya kumpulkan di sini.

Sebagai contoh, utak-atik untuk menggunakan Avrdude di salah satu development board untuk AVR sudah saya susun di post ini. Penggunaan Simulide sebagai salah satu alternatif untuk simulator sudah juga saya bahas di tinkering.sunupradana.info.

Written by sunupradana

March 24, 2016 at 6:42 am

Posted in Engineering, Internet

Sanwa CD772 True RMS Instruction Manual

leave a comment »

Written by sunupradana

October 11, 2015 at 5:28 pm

Posted in Electrical, Electronics

Tagged with , ,

Fluke 179 True RMS DMM User Manual Supplement

leave a comment »

Written by sunupradana

October 11, 2015 at 4:23 pm

Posted in Electrical, Electronics

Tagged with , ,

Fluke 179 True RMS DMM User Manual [2015]

leave a comment »

Written by sunupradana

October 11, 2015 at 4:17 pm

Posted in Electrical, Electronics

Tagged with , ,

Uji coba TINA-TI untuk simulasi pengatur tegangan LM7805

leave a comment »

Berikut ini screenshot dari uji coba penggunaan TINA-TI sebagai simulator untuk rangkaian pengendali tegangan LM7805.

Written by sunupradana

October 4, 2015 at 10:18 am

Solusi untuk beberapa masalah pada sistem komputasi untuk kuliah elektronika daya

leave a comment »

Di zaman yang sudah bergerak jauh meninggalkan zaman batu ini (dan tampaknya belum akan segera kembali), perangkat komputasi sudah menjadi bagian hidup dari banyak orang di perkotaan. Pun begitu di banyak sekolah-sekolah engineering, optimalisasi perangkat dan sistem justru menjadi tema dari banyak makalah dalam jurnal dan proceeding. Karena itu, mundur ke “belakang” menjadi pilihan yang aneh luar biasa. 😀

Meski begitu ada beberapa permasalahan yang nyata yang jelas menjadi tantangan. Misalnya faktor legalitas perangkat lunak yang dipergunakan. Membajak software itu, mungkin, kesannya remeh untuk skala pribadi. Tapi dari sisi pengguna saja ada risiko yang jelas di depan mata; soal ketergantungan. Ini terkesan remeh, tetapi orang yang sudah sangat tergantung dengan suatu software dari suatu vendor (locked in) sering sangat sulit menggantinya dengan alternatif yang lain. Meskipun sebenarnya alternatif itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kerjanya sehari-hari.

Obat alias solusi dari ketergantungan ini adalah upaya pembiasaan dari permulaan untuk mempergunakan perangkat alternatif yang secara legal bebas pakai alias gratis. Untuk aplikasi engineering, jika belum memungkinkan untuk menginstall GNU/Linux di komputer, misalnya bisa menggunakan CAELinux. Meski sudah agak lama, distro ini masih bisa dipergunakan. Untuk saya sendiri, jauh lebih cepat jika aplikasi yang dibutuhkan diinstall saja di laptop (komputer) secara penuh.

Masalah lainnya adalah masalah virus, malware dan sebangsanya. Sistem GNU/Linux, BSD dan Mac tidaklah kebal dari tantangan serupa ini, tetapi perlu diakui sistem Microsoft Windows masih terbukti paling rentan karena jumlah pengguna umumnya. Upaya solusi dari masalah ini yang bisa dengan mudah diterapkan untuk pelajar adalah dengan menginstall beberapa software untuk mengatasinya. Ini sebagai upaya pelengkat dari rangkaian usaha pengamanan lainnya yang sekalipun tidak mendekati sempurna masih cukup baik untuk mengurangi risiko. Beberapa link telah saya kumpulkan di sini, dan terus diperbaharui.

Langkah lain yang paling masuk akal untuk virus, malware dan sejenisnya adalah dengan menggunakan sistem operasi yang lain selain Microsoft Windows. Dua pilihan yang paling mungkin adalah dari garis keluarga BSD atau dari kernel Linux. Dua-duanya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Tantangannya adalah bagaimana memulai dengan hambatan minimal. Pada salah satu post sebelum ini, saya telah menulis bagaimana caranya untuk mendapatkan bootable flash disk yang dibuat di sistem Windows. Kita bisa mempergunakan tool UNetbootin atau YUMI. Tetapi ada kalanya kita perlu membuat bootable GNU/Linux flash disk dari sistem GNU/Linux juga. Misalnya jika sistem Windows kita sudah “terlalu parah” atau kita ingin mencoba (atau memerlukan) file sistem lain semisal ext4 dengan pengaturan yang mudah. Untuk ini kita perlu terlebih dahulu memiliki sistem GNU/Linux yang sudah beroperasi. Bisa dari hard disk komputer atau dari flash disk lain yang sudah berisi bootable GNU/Linux. Proses bisa diawali dengan mempersiapkan partisi dalam flash disk itu. Pembahasannya sudah saya utarakan di sini. Setelah itu flash disk bisa diisi dengan satu atau lebih OS GNU/Linux dengan tool MultiBootUSB. Tool ini mudah ditemukan namanya di menu pada sistem GNU/Linux LXLE desktop. Uraiannya sudah saya sampaikan di sini.

Dengan selesainya ketiga artikel tentang pembuatan bootable flash disk yang berisi OS GNU/Linux di blog ini, saya anggap cukup untuk memulai. Kalau ada bagian yang belum jelas, di Internet ada banyak penjelasan yang lebih detail dan lebih teknis. Sesekali mungkin perlu untuk mempergunakan Google Translate. Dengan sejumlah keterangan dalam artikel yang bisa dijadikan kata kunci pencarian informasi lebih lanjut secara mandiri, mahasiswa bisa secara mandiri menyelesaikan permasalahan mengenai kelayakan penggunaan sistem bantu komputasi untuk kuliah power electronics ini.

Hasilnya nanti dengan dua upaya berdasar software ini, tidak ada lagi flash disk berisi virus, malware maupun bekas jejak-jejaknya yang beredar di hari-hari perkuliahan teori dan praktik elda.

Written by sunupradana

September 25, 2015 at 8:42 pm