Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Semuanya berawal dari sakelar

leave a comment »

In the beginning there was a switch.

Di elektronika, AFAIK (As Far As I Know) komponen yang sering menjadi maskot adalah resistor. Dari tiga komponen pasif dasar, RLC (memristor masih belum dijumpai secara massal), R adalah rajanya. Tetapi di elektronika daya (power electronics), sering dilupakan bahwa sebenarnya sakelar justru menjadi sangat penting sebagai dasar untuk memahami komponen aktif yang lebih lebih kompleks.

Sakelar adalah dasar yang sederhana untuk memahami diode. Diode menjadi sangat penting untuk memahami DIAC maupun SCR. SCR menjadi dasar untuk memahami TRIAC. Begitulah “jalannya”, selangkah demi selangkah berurutan. Sayangnya seperti yang saya kemukakan dalam tulisan sebelumnya. Sistematis itu sering tidak diminati, dianggap bertele-tele padahal untuk banyak hal dalam sains (science) dan teknik (enginering) tidak sistematis itu sangat berbahaya dan terbukti sering mencelakakan. Kalaupun jalan pintas (short-cut) untuk sesaat tampak “menghasilkan” dengan cara yang menyenangkan, tapi jangka panjang (dan bahkan menengah) sering terbukti lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

Ini terutama penting bagi siswa dan mahasiswa, mereka yang sedang membangun dan membentuk dasar-dasar dan kerangka pemahaman yang baik dan benar. Jalan pintas itu bisa diambil terutama jika kita sudah punya dasar pemahaman. Misalnya, di sistem Android ada beberapa aplikasi elektronika yang memudahkan perhitungan.Kita tinggal memasukkan input tanpa perlu mengutak-atik persamaan secara manual. Tapi tanpa berusaha untuk memahami dasarnya, fasilitas bantuan ini sebenarnya justru mencelakakan.

Nah setelah yakin bahwa belajar dengan sistematis adalah jalan yang terbaik, setidaknya dalam pengertian urut komponen, maka kita bisa memulai bahasan mengenai sakelar.

Menurut KBBI, definisi sakelar adalah:
sa·ke·lar n penghubung dan pemutus aliran listrik (untuk menghidupkan atau mematikan lampu)

Sedangkan menurut Oxford Dictionary of English, definisi switch (sakelar) adalah:
a device for making and breaking the connection in an electric circuit.

Menurut IEEE definisi sakelar (switch) lebih diperinci sebagai berikut:
 
(4) (electric and electronics parts and equipment) A device for making, breaking, or changing the connections in an electric circuit. Note: a switch may be operated by manual, mechanical, hydraulic, thermal, barometric, or gravitational means, or by electromechanical means not falling within the definition of “relay.”

 

Sedangkan definisi relay, masih menurut IEEE adalah:

(1) (general) An electric device designed to respond to input conditions in a prescribed manner and, after specified conditions are met, to cause contact operation or similar abrupt change in associated electric control circuits.
Notes:
1. Inputs are usually electrical, but may be mechanical, thermal, or other quantities, or a combination of quantities. Limit switches and similar simple devices are not relays. 2. A relay may consist of several relay units, each responsive to a specified input, with the combination of units providing the desired overall performance characteristic(s) of the relay.

(2) (electric and electronics parts and equipment) An electrically controlled, usually two-state, device that opens and closes electrical contacts to effect the operation of other devices in the same or another electric circuit. 
Notes: 1. A relay is a device in which a portion of one or more sets of electrical contacts is moved by an armature and its associated operating coil. 2. This concept is extended to include assembled reed relays in which the armature may act as a contact. See also: switch.

 

Sakelar [sumber: Wikipedia.org]

Sakelar pushbutton [sumber: Wikipedia.org]

Dengan demikian secara sederhana sebuah saklah adalah sebuah pemutus atau penyambung. Bahkan sebuah kabel “jumper” dapat dipergunakan untuk menggantikan komponen sakelar yang sesungguhnya. Kemampuan daya hantar arus lalu bergantung pada bahan dan penampangnya.

Sebuah komponen switch ideal memiliki nilai tahanan sama dengan nol, sehingga jika dialiri arus maka tidak ada jatuh tegangan di antara kaki-kakinya. Tapi tentu saja komponen yang ideal seperti itu belumlah ada. Yang ada adalah sakelar yang nilai tahanannya amat kecil, dan untuk banyak keperluan dapat diabaikan. AFAIK, kita masih menunggu superkonduktor suhu kamar diproduksi massal dan berharga lebih terjangkau :-) .

Pada gambar berikut, diperlihatkan sebuah rangkaian sederhana dengan sebuah sumber tegangan dan dua resistor, tanpa sakelar. Sekali terhubung dengan catu daya arus akan terus mengalir melewati kedua resistor sampai catu dayanya kehabisan energi (semisal cell atau baterai) atau dilepaskan dari hubungan ke rangkaian.

no switch01

Gambar berikut di bawah ini adalah contoh sederhana rangkaian pada gambar di atas yang telah diberi sakelar (switch). Pada pembahasan ini sakelar dimaknai secara sederhana sebagai penyambung dan pemutus pada rangkaian elektronik. Dalam simulasi dengan LTspice berikut, sebagai pengganti tangan manusia atau suatu sistem mekanis lainnya maka dipergunakan sumber sinyal (signal generator). Amplitudo dan frekuensi dari generator sinyal (sumber tegangan) akan mengendalikan kerja sakelar (switch).

Sedangkan gambar di bawah ini adalah waveform (gelombang) hasil percobaan rangkaian di atas.

Catu daya untuk rangkaian ini berupa tegangan DC yang stabil sebesar 12 Volt, asumsinya untuk simulasi ini sumber tegangan merupakan sumber tegangan ideal tanpa tahanan dalam.

Sakelar “Switch01″ dikendalikan dengan menggunakan V(tegcontrol) dengan pengaturan sebagai berikut.

Sakelar “Switch01” yang dikendalikan “V(tegcontrol)” akan memutus dan menyambung rangkaian sederhana yang berisi resistor dan catu daya. Sebagai akibatnya, apakah ada arus yang mengalir untuk tiap saat (waktu) tertentu ditentukan oleh kondisi apakah pada saat itu sakelar sedang dalam kondisi tertutup (menyambung) atau terbuka (putus). Kondisi ini tergambar dalam bentuk gelombang pada I(S1) yaitu arus yang melintasi resistor dan sakelar. Juga bentuk gelombang tegangan pada V(nd1).

Bentuk gelombang I(S1) dan V(nd1) yang saling berkebalikan merupakan ciri khas dari sebuah sakelar, terutama sakelar yang mendekati karakteristik sebuah sakelar ideal. Pada kenyataannya selain adanya nilai tahanan yang lebih besar dari nol, juga diperlukan wantu gelombang dan arus untuk mencapai nilai steady-nya. Ada selang waktu yang selalu diperlukan untuk naik (rise) dan turun (fall). Tegangan dan arus tidak mungkin begitu saja untuk berpindah dari satu nilai ke nilai lain tanpa selang waktu sedikitpun. Baik dalam orde nano detik, mikro detik maupun mili detik.

Jika pada simulasi di atas menggunakan catu daya D.C. maka bagaimana untuk simulasi dengan catu daya A.C.? Bagaimanakah bentuk gelombang keluarannya?

Bisa ditebak, setiap kali sakelar menutup maka arus akan mengalir, dan tegangan di terminal akan “hilang” (kondisi hubung pendek) sebagai berikut. V(n002) adalah tegangan di node n002 yang terletak antara switch dan R2.

Tahap berikutnya adalah tahap kita mulai “meniru” bagaimana gelombang dihasilkan oleh SCR. Bedanya kali ini saklar akan terhubung (on) sebelum off, sedangkan pada aplikasi SCR di elektronika daya (power electronics), SCR biasanya akan terlebih dahulu dalam kondisi off sebelum diaktifkan (on). Waktu penyalaan ini biasanya dikaitkan dengan sudut, dan dinamakan sudut penyalaan (firing angle). Ada juga istilah conduction angle yang merupakan (180 – firing angle) atau dalam radian (π – firing angle).


karya: Harley H. Hartman (Googling: Wolfram Alpha Hartman)

Berikut adalah gambar rangkaian sakelar yang dikonfigurasikan untuk “meniru” kerja SCR. Dengan urutan hidup-mati yang berkebalikan dari kerja SCR. Waktu hidup (lebar pulsa) selama 1 mS dan dinyalakan tanpa delay dari 0 mS.

Berikut adalah gambar gelombang keluarannya.

Eksperimen berikut menggambarkan perbedaan antara simulasi switch dengan SCR. Pada SCR (juga TRIAC) sekali gate terpicu dan batas latching terlampaui maka thyristor akan terus dalam kondisi on walaupun sinyal picu di gate sudah dihilangkan (dimatikan, off), sampai principal current nilainya turun di bawah nilai ambang holding current. Sedangkan pada switch hidup-mati, sambung-putus dapat dilakukan kapanpun. Untuk menunjukkan efeknya maka dipergunakan tunda nyala (delay) sebesar 4 mS. Komutasi untuk SCR tidak semudah ini, apalagi jika sumber catu daya adalah catu daya D.C.

Gelombang hasil simulasi.

 

Simulasi berikut dilakukan untuk mendekati hasil ideal yang bisa didapatkan pada percobaan dengan SCR. Kali ini sudut penyalaan, firing angle sengaja dipilih pada sudut 90°. Melalui simulasi ini diharapkan nantinya saat melakukan simulasi dan percobaan pada SCR maka kita sudah bisa menduga/menebak apa yang seharusnya kita dapatkan. Jika hasilnya tidak sama maka kita bisa segera menduga ada yang salah atau setidaknya ada yang jauh menyimpang.

Rangkaian berikut menggunakan delay sebesar 5 mS dari 0 mS. Waktu hidup sinyal sebesar 5 mS dengan periode sebesar 20 mS.

Berikut hasil simulasi, penyulutan tepat pada sudut 90° dan off pada 180°. Dapat dilihat bahwa tegangan pada node nd1 “terpotong” pada saat sakelar menutup.

Bentuk simulasi operasi TRIAC pada sudut penyulutan 90°.

Rangkaian simulasi switch untuk menyerupai unjuk kerja TRIAC yang disakelar tepat 90°.

Hasil simulasi:

Demikianlah tulisan ini saya buat dalam semangat untuk belajar bersama, dan agar siswa/mahasiswa terinspirasi untuk belajar dengan cara yang lebih sistematis. Belajar elektronika daya dengan cara melompat-lompat memang menarik, dan terkesan efisien. Terutama jika kita belum termotivasi untuk menekuninya sebagai sebuah ilmu dan sebagai sarana untuk bertransformasi. Tetapi percayalah anda akan lebih banyak mengalami kerugian daripada keuntungan. Untuk mahasiswa ~> elektronika daya (elda, power electronics) sebenarnya lebih dari sekedar sebuah mata kuliah, tetapi bahkan dalam bentuk dan praktinya yang paling sederhana ilmu ini adalah sarana transformasi diri yang dahsyat. Saya tidak membual, silahkan dicari sebanyak mungkin informasi pembanding. Saya yakin anda akan semakin menemukan kebenarannya.

Sebelum belajar TRIAC, hendaknya meluangkan waktu untuk belajar SCR, dan sebelumnya belajar diode dan sebelumnya switch, seperti yang telah coba saya tuangkan di sini, sebagai awalan.

Written by sunupradana

December 18, 2014 at 12:31 pm

Sistematis

leave a comment »

Lama juga tidak menulis di blog … :-)

Suatu masa saat masih belajar di kota Malang, suatu kawan pernah bercerita tentang proses reparasi televisi. Suatu yang teramat biasa bagi banyak pelajar STM (SMK), tapi sesuatu yang asing untuk mantan pelajar SMA seperti saya. Apalagi tidak ada kebutuhan kerja yang memaksa, jadilah saya sebagai awam.

Intinya kawan saya itu bercerita bahwa dalam praktiknya, biasanya, tukang reparasi seperti “hafal” penyakit dari masing-masing merek dan tipe. Ada beberapa komponen yang menjadi “tersangka utama”, diurutkan berdasarkan “lekelihood”. Dimulai dari komponen mana yang paling sering menjadi sumber masalah.

Cara seperti itu sering dipakai karena “paling efisien”. Mungkin dekat-dekat prinsip Pareto, 80/20. Menghasilkan uang paling cepat.

Dengan prinsip yang sama konon untuk zaman sekarang banyak tikang reparasi yang lebih memilih untuk mengganti “mesin tv”-nya sekalian (PCB dari TV). Hemat waktu dan mendatangkan banyak untung, karena toh bayak orang bekerja dengan cara itu. Apalagi konon sistemnya pun semakin kompleks, tidak seperti dulu.

Cara serupa ini saya anggap sama dengan “patching” pada software. Konon dulu web server Apache, diolok-olok sebagai a patchey, karena memang dibangun dari kumpulan patch untuk server. Dalam bahasa lain ini solusi tambal sulam. Efektif dan menguntungkan, sampai batas tertentu. Lalu mencelakakan untuk proses tertentu.

Kalau seadainya saya yang mengerjakan perbaikan TV zaman itu, saya mungkin akan mengikuti ajaran para dosen. Dimulai dulu dari kabel listrik, ada gangguan atau tidak. Lalu bagian suplai daya di dalam TV. Begitu seterusnya, bagian-per-bagian. Ini cara yang sistematis. Dengan cara inilah iptek sesungguhnya dikembangkan.

Pertanyaannya kalau memang cara sistematis adalah cara yang lebih baik, mengapa bukan cara ini yang dipakai untuk melakukan reparasi? Jawabannya (bisa jadi) sederhana. Karena justru tidak menguntungkan. :-D

Ambil contoh pada para tukang reparasi tv. Jelas tidak masuk akal kalau mereka menghabiskan waktu dengan menggunakan cara yang sistematis, jika dengan cara patchy saja mereka sudah bisa menyelesaikan sebagian besar masalah. Perkecualiannya mungkin sangat sedikit dan itupun bisa jadi akan ditanggung oleh konsumen, entah bagaimana caranya :-D. Bisa juga “rugi sesaat” ditanggung tukang reparasi, tetapi dalam jangka panjang cara ini masih mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Nah kalau cara “tambal-sulam”, patchy, itu memang baik dan menguntungkan, buat apa mengerjakan dengan sistematis?
Mengapa sains dan teknologi (karenanya juga engineering) malah dikerjakan dengan sistematis?

Itu pertanyaan jutaan dolar :-D. Untuk singkatnya, jelas karena tidak semua proses bisa diselesaikan dengan tambal sulam. Apalagi kalau memang prosesnya perlu pembangunan dan pengembangan bertahap. Tidak semua proses adalah proses “makelaran”, dagang memindahkan barang, asal cepat uang dapat, selesai. Bahkan proses “perusahaan dagang”, makelar semacam Amazon (atau Tokopedia di Indonesia), malah prosesnya amat rumit. Itu sistem yang dibangun apik, diusahakan benar untuk tertata rapi. Sistematis, bukan sporadis.

Sains dibangun dengan sistematis, harus jelas dulu, adanya pengakuan hubungan sebab-akibat. Kalau alam semesta hanya bergantung pada mood para dewa, akan menjadi teramat sulit untuk dipelajari. Jauh lebih sulit dari tingkat kesulitan sekarang yang sudah sulit (nah lo). Untuk itu diasumsikan ada aturan dasar yang mengoperasikan alam semesta. Sebab kalau acak, sangat sedikit yang bisa dipelajari dan dirumuskan. Bayangkan misalnya, seringkali tiba-tiba tubuh manusia melayang tinggi di udara di jalan raya. Pesawat terbang sering secara acak tiba-tiba jatuh terhempas. Apa yang bisa dirumuskan? Bahkan nenek moyang saja dulu mencoba sangat keras untuk memahami pola. Ada musim melaut, musim tanam dan sebagainya.

Saat sudah mentok dan tidak punya penjelasan yang baik dan bisa teruji sebagai prediksi ke depan, mereka merasionalisasikan dengan dewa-dewa yang murka atau “penunggu” yang usil atau marah. Bagaimana pun mereka sadar akan adanya suatu pola. Jika tidak mengikuti pola, maka pasti ada penyebabnya.

PENDIDIKAN

Mengikuti sains, IMHO pendidikan juga begitu. Tidaklah benar kalau terus-menerus menggunakan tambal sulam. Ini berpotensi senang sesaat sengsara kemudian.

Salah satu kemudahan semua yang mau belajar saat ini adalah tersedianya sumber informasi (bahkan data mentah) secara (relatif) berlimpah. Misalnya banyak contoh program (kode bahkan dengan diagram alir) banyak tersedia di berbagai situs di Internet.
 
Di satu sisi ini adalah “fasilitas” yang mempermudah dan memperkuat proses belajar. Mengingat sedari bayi, proses alamiah belajar adalah dengan adanya fase meniru dan mencontoh. 

Tapi di sisi lain, seperti obat yang sebenarnya merupakan racun, maka tersedianya banyak sumber belajar ini malah bisa merusak proses belajar itu sendiri. Tentu yang dimaksud adalah belajar dengan benar.

Di Swedia konon ada namanya Missionary Church of Kopimism. Agama yang diakui resmi oleh negara, yang isinya adalah pengakuan dan penguagungan terhadap copy-paste. :-D. Tidaklah jelek pada sendirinya, hanya dosisnya yang perlu diperhatikan.

Copy-paste adalah salah satu bentuk dari proses meniru/mencontoh. Alamiah dan tentu bagus. Belajar pengenalan pola dapat dilakukan dengan lebih efisien dengan mempelajari kode orang lain, lalu mengutak-atiknya untuk mempelajari hubungan sebab dan akibat. Syaratnya…pertama ada dasar pemahaman yang cukup dan kedua tidak berhenti sampai di situ saja.

Yang pertama yang paling debatable, ada yang sederhananya memilih untuk menyuruh “nyemplung dulu” untuk belajar berenang. Di ekstrim sisi ini adalah swim-or-sink, berenang atau mati tenggelam. Ada juga yang memilih untuk memberikan bekal cukup terlebih dahulu baru kemudian diajar untuk praktik.

Kalau saya, ini situasional. Tergantung pada beberapa faktor. Misalnya tergantung dari tingkat bahaya, bidang, waktu, tujuan jangka panjang dst. Walaupun berdasarkan bidang dan bahkan efisiensi, saya biasanya lebih cenderung cara yang kedua. Sistematis dengan diselang-seling beberapa “fase dilepas untuk bingung” yang berguna untuk merangsang aktifitas berpikir dan inisiatif. Tapi tentu saja kebingungan itu harus punya “dosis yang terukur”, disengaja dan bukan karena berangkat dari pemikiran yang asal-asalan.

Yang benar celaka jika proses copy-paste terhenti hanya sebagai kegiatan mencontek sesaat. Sekedar untuk mengatasi masalah tugas. Ini jelas bukan proses pendidikan yang baik.

Tetapi memang keseluruhan proses ini hanya bisa baik kalau semua yang terlibat mau berproses dengan baik. Yang di satu sisi tidak memang berniat asal beri dan yang di sisi lain juga berniat asal terima. Dan penting untuk tidak melompat terlalu jauh.

Karena sy bukanlah orang yang sangat pandai, saya paham betapa sakitnya untuk terus menerus harus “melompat-lompat”. Karena itu saya biasa menyusun resep dengan sistematis, terukur dengan kemampuan siswa. Modalnya cuma kemauan untuk bekerja (belajar) dengan sangat keras.

Saya sadar benar, bahwa bagaimana siswa bisa belajar dengan sistematis jika fondasinya goyah. Tiang-tiangnya bergoyang terus menerus. Tidak akan efisien. IMHO, jika terpaksa, lebih baik memperkuat fondasi atau bahkan membongkarnya daripada membangun istana pasir.

Jadi prosos copy-paste kode program dan rangkaian yang menjadi ritual tanpa tindak lanjut upaya belajar memahami, menurut saya adalah contoh aktivitas berbahaya dari “seremoni” belajar. Kita akan menghasilkan tenaga-tenaga instan yang tidak pernah berupaya paham dasar operasi apalagi philosophy-nya.

Dan saya sangat percaya pola pikir ini tidak akan berhenti hanya pada pelajaran dan bahkan bidang ilmunya saja. Juga akan merembet ke aspek kehidupan lainnya. Jika dibiarkan terus, akan jadi kaum yang mengabaikan sebab-akibat alamiah. Mengandalkan penjelasan mood para dewa untuk segala sesuatu yang terjadi di alam.

BELANDA BELUM MATI
Salah satu ungkapan yang paling saya senangi adalah: “God created the earth, but the Dutch created the Netherlands.” Ungkapan yang konyol tetapi punya makna dan pelajaran yang baik.

Belanda itu negeri yang sebagian wilayahnya amat rendah, bahkan konon di bawah permukaan laut. Mungkin itu salah satu faktor pendorong londo kae, niat mencari daerah baru untuk profit lalu untuk dijajah. Mirip Jepang yang juga alamnya keras. Tapi keterbatasan itu disikapi dengan cara-cara yang sistematis. Tidak perlu sampai meminjam dewa-dewa tetangga seperti Odin atau Thor.

Dari kincir angin untuk mengeringkan lahan sampai bendungan dam pencegah banjir. Dengan kerja keras dan upaya yang sistematis, mereka sekarang menjadi salah satu yang paling ahili di dunia. Dari sekumpulan masalah besar, banjir dan ancaman tenggelam, menjadi keunggulan. Dengan kepala, tangan dan kaki mereka sendiri. Kesalahan berulang kali yang diperhatikan dan menjadi pelajaran kolektif

AFAIK, berawal dari kesediaan menerima sebab-akibat di alam semesta. Asumsi adanya aturan yang menjadi program dasar semesta. Keterbukaan pikiran, meminta bukti dan tidak mudah percaya. Senang mencoba, bereksperimen dan bersedia menerima akan ada terjadinya sejumlah besar kesalahan bahkan ketersesatan. Dari situ upaya sistematis bisa dilakukan.

Jika tidak, maka pola tambal-sulam, patchy, yang akan selalu menjadi andalan. Semata karena candu nikmat sesaat. Mungkin tidak adakan segera terasa, tapi kita akan semakin jauh tertinggal. Sampai suatu hari kita hanya bisa kaget dan kagum, bagimana mereka bisa melakukannya? Padahal seperti kita (kalau mau), mereka melakukannya sedikit-demi-sedikit, sistematis.

Saya merasakan benar sakitnya “hanya bisa kagum”, dan sengsaranya mengejar ketinggalan. Semoga generasi baru bisa mengambil pelajaran pentingnya berproses dengan sistematis. Jual cepat tidak selalu solusi. Dan memang kita perlu napas panjang untuk bisa begitu. Itulah salah satunya fungsi suatu admnistrasi di suatu daerah dan negara. Tapi kalau mereka terus memilih untuk memampukan yang salah…ya sudahlah. Selamatkan diri kalian masing-masing, persiapkan diri sebaik-baiknya selagi muda. Lalu pergilah ke tanah yang menjanjikan perjuangan amat keras yang memberi hasil sepadan. Kalau percaya bahwa hidup hanya satu kali.

Sistematis adalah segala usaha untuk meguraikan dan merumuskan sesuatu dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut obyeknya [1]

Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistematis

v01

Written by sunupradana

December 4, 2014 at 1:02 pm

Weekend Projects – PIR Sensor Arduino Alarm

leave a comment »

Complete instructions for this episode of Weekend Projects can be found at
http://makeprojects.com/Project/PIR+Sensor+Arduino+Alarm/72/1

This project is great for those beginning to build with …

Source: makezine.com

See on Scoop.itInspirasi_ProyekAkhir

Written by sunupradana

November 27, 2014 at 1:05 pm

Posted in Uncategorized

Pengenalan sekilas perangkat lunak online untuk perancangan dan simulasi rangkaian elektronik.

leave a comment »

 

[Perangkat bantu perancangan simulasi rangkaian secara online]

Pengenalan beberapa alternatif perangkat lunak berbasis web, gratis, yang cukup memadai sebagai sarana belajar rangkaian dasar di kuliah elektronika daya. Mulai dari perancangan, simulasi sampai pembuatan PCB.

Written by sunupradana

October 5, 2014 at 12:52 am

Software gratis untuk perancangan PCB

leave a comment »

Perangkat lunak (software) bebas pakai yang legal dipergunakan untuk pelajar dan mahasiswa. Beroperasi di sistem berbasis MS Windows dan GNU/Linux (dengan Wine). Cukup untuk banyak keperluan di lingkungan akademis. Mari menggunakan perangkat lunak yang legal sedapat mungkin.

sunu@sunu-Xxxx:~$ uname -a
Linux sunu-Xxxx 3.13.0-36-generic #63-Ubuntu SMP Wed Sep 3 21:30:07 UTC 2014 x86_64 x86_64 x86_64 GNU/Linux

sunu@sunu-Xxxx:~$ lsb_release -a
No LSB modules are available.
Distributor ID:    Ubuntu
Description:    Ubuntu 14.04.1 LTS
Release:    14.04
Codename:    trusty

sunu@sunu-Xxxx:~$ wine –version
wine-1.7.27

ExpressPCB, PCB Artist, DesignSpark PCB.

Written by sunupradana

October 4, 2014 at 6:21 pm

Instalasi Oracle Java di Lubuntu (Ubuntu) 14.04 / Ubuntu 14.04.1 LTS

leave a comment »

Ini adalah dokumentasi proses instalasi Oracle Java (dulu Sun Java) secara manual di sistem operasi GNU/Linux Ubuntu. Sekedar catatan supaya mudah ditemukan kembali, siapa tahu juga berguna buat orang lain.
<<ini versi September 2014>>
 
Melihat versi Ubuntu yang terinstall di komputer >>
namauser@pcku-desktop:~$ sudo lsb_release -a
[sudo] password for namauser:
No LSB modules are available.
Distributor ID: Ubuntu
Description: Ubuntu 14.04.1 LTS
Release: 14.04
Codename: trusty
 
Melihat versi kernel Ubuntu yang terinstall di komputer >>
namauser@pcku-desktop:~$ sudo uname -a
Linux pcku-desktop 3.13.0-36-generic #63-Ubuntu SMP Wed Sep 3 21:30:07 UTC 2014 x86_64 x86_64 x86_64 GNU/Linux
 
Mencari versi Java dari situs Oracle >>
http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/index.html
 
Misalnya didapat link berikut:
JRE >> http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/jre7-downloads-1880261.html
JDK >> http://www.oracle.com/technetwork/java/javase/downloads/jdk7-downloads-1880260.html
 
Instalasi Oracle Java, JRE >>
Misalnya file yang didapatkan dari download adalah jre-7u67-linux-x64.tar.gz. Lihat apakah anda sudah memiliki direktori /usr/java/. Jika belum memiliki direktori tersebut maka perlu dibuat dengan menggunakan terminal seperti gnome-terminal atau LXTerminal.
Gunakan perintah >> sudo mkdir /usr/java
Misalnya >> namauser@pcku-desktop:~$ sudo mkdir /usr/java
Lalu masuk ke direktori tersebut >> namauser@pcku-desktop:~$ cd /usr/java/
 
Kopi atau pindahkan file hasil jre download, misalnya jre-7u67-linux-x64.tar.gz ke direktori /usr/java.
 
Lakukan instalasi dengan melakukan unpakcing, gunakan perintah >>
tar zxvf jre-7u67-linux-x64.tar.gz
 
Untuk menghemat ruang hardisk kita bisa menghapus file .tar.gz di direktori /usr/java atau memindahkannya ke tempat lain.
Kita akan mendapatkan: /usr/java/jre1.7.0_67/
 
Proses dasar instalasi Java sederhana, hanya mengekstrak file. Namun untuk dapat terintegrasi dengan sistem, kita perlu melakukan beberapa langkah lanjutan.
 
Untuk memberitahu sistem bahwa Java telah terinstall dengan baik, lakukan perintah berikut >>
$ sudo update-alternatives --install “/usr/bin/java” “java” “/usr/java/jre1.<versi jre> /bin/java” 1
 
Misal >>
namauser@pcku-desktop:~$ sudo update-alternatives --install “/usr/bin/java” “java” “/usr/java/jre1.7.0_67/bin/java” 1
 
Jika kita mendapatkan pesan kesalahan saat pertama melakukannya, ulangi sekali lagi.
 
Setelah memberitahu sistem bahwa Java telah terinstall, berikutnya membuat versi Java dari Oracle ini menjadi default pada sistem (pilihan utama).
 
Perintah >>
$ sudo update-alternatives --set java /usr/java/latest/jre1.7.0_<version>/bin/java
 
Misalnya >>
namauser@pcku-desktop:~$ sudo update-alternatives --set java /usr/java/jre1.7.0_67/bin/java
 
Untuk memeriksa hasil pengaturan >>
$ java -version
 
Contoh hasil >>
namauser@pcku-desktop:/usr/java/jre1.7.0_45/lib$ java -version
java version “1.7.0_67″
Java(TM) SE Runtime Environment (build 1.7.0_67-b01)
Java HotSpot(TM) 64-Bit Server VM (build 24.65-b04, mixed mode)
Kita bisa selalu mengulang pilihan dengan perintah >>
sudo update-alternatives --config java
 
Berikutnya jika diperlukan untuk memberikan link simbolis ke web browser Firefox dan Chrome
 
Jika belum ada, buat direktori plugins >>
mkdir -v ~/.mozilla/plugins
 
Saya menggunakan prosessor AMD64, buat sym link >>
ln -s /usr/java/jre1.7.0_67/lib/amd64/libnpjp2.so ~/.mozilla/plugins/
 
Cara lain, buat direktori lalu buat sym link >>
namauser@pcku-desktop:/usr/lib/firefox/browser/plugins$ sudo ln -s /usr/java/jre1.7.0_67/lib/amd64/libnpjp2.so ./libnpjp2.so
 
Untuk browser Google Chrome buat sym link >>
$sudo ln -s /usr/java/jre1.7.0_67/lib/amd64/libnpjp2.so /opt/google/chrome/plugins/
 
Cek apa sudah terinstall >>
https://java.com/en/download/installed.jsp
 
 
Instalasi Oracle JDK >>
 
Jika belum ada, buat direktori /usr/lib/jvm/ >>
$ sudo mkdir /usr/lib/jvm/
 
Silahkan ekstrak file jdk (misalnya jdk-7u67-linux-x64.tar.gz) hingga mendapatkan /usr/lib/jvm/jdk1.7.0_67 .
 
Beritahu sistem bahwa jdk telah terinstall >>
sudo update-alternatives --install “/usr/bin/javac” “javac” “/usr/lib/jvm/jdk1.7.0_67/bin/javac” 1
sudo update-alternatives --install “/usr/bin/javaws” “javaws” “/usr/lib/jvm/jdk1.7.0_67/bin/javaws” 1
 
Kalau kita menginginkan selain jre >>
sudo update-alternatives --install “/usr/bin/java” “java” “/usr/lib/jvm/jdk1.7.0_67/bin/java” 1
 
Mengatur ulang izin file-file yang dapat dieksekusi >>
sudo chmod a+x /usr/bin/java
sudo chmod a+x /usr/bin/javac
sudo chmod a+x /usr/bin/javaws
 
Jadikan satu baris >>
sudo chmod a+x /usr/bin/java ; sudo chmod a+x /usr/bin/javac ; sudo chmod a+x /usr/bin/javaws
 
Mengatur ulang kepemilikan >>
sudo chown -R root:root /usr/lib/jvm/jdk1.7.0_67
 
Konfigurasi manual >>
sudo update-alternatives --config java
sudo update-alternatives --config javac
sudo update-alternatives --config javaws
 
Periksa lagi >>
java -version
 
 
*Dari berbagai sumber di Internet.
 

Written by sunupradana

September 27, 2014 at 3:13 pm

Posted in Komputer

Tagged with , , , , , ,

Digital Literacy, Part I (search engine)

leave a comment »

Written by sunupradana

September 26, 2014 at 6:33 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers