Pikir dan Rasa

cogito ergo sum

Salah satu mitos dalam belajar matematika, tentang berpikir lambat

leave a comment »

In hindsight, mudah untuk menjadi marah mengenai bagaimana dulu kita belajar dan diajar. Tapi barangkali yang lebih utama adalah mengakui kekurangan dan berusaha untuk tidak mewariskan kesalahan kepada generasi berikutnya. Agar mereka menjadi lebih baik dari para pendahulunya. Karena semua orang pada masing-masing zaman punya keterbatasan dan kekurangan. IMHO, kita perlu mengatasi sejumlah besar “mitos turunan” yang masih ada.~>

This is true for all levels of math. It is extremely beneficial to struggle and to make mistakes on math problems as that will create synapse firing and brain growth. The most successful students are not those who don’t mess up, they are the ones who mess up and learn from it and continue on.

Something else that is really important to know about math is that being good at math does not mean being fast at math. In fact the opposite may be true.

Mathematicians, who we could think of as the world’s top math people are some of the slowest math thinkers I have met. I don’t say that to disrespect mathematicians, I work with many mathematicians, but they are not usually fast math thinkers. They are deep mathematical thinkers.

This is Laurent Schwartz. He won the Fields Medal which is the top math prize. It’s like winning an Oscar in math. He struggled in school because his school valued speed, and he was one of the slowest math thinkers in his class. After he became very successful he wrote an auto-biography, and this is how he describes his school days.
“I was always deeply uncertain about my own intellectual capacity. I thought I was unintelligent. And it is true that I was, and still am, rather slow. I need time to seize things because I always need to understand them fully. Towards the end of the eleventh grade, I secretly thought of myself as stupid. I worried about this for a long time. I’m still just as slow. At the end of the eleventh grade, I took the measure of the situation, and came to the conclusion that rapidity doesn’t have a precise relation to intelligence. What is important is to deeply understand things and their relations to each other. This is where intelligence lies. The fact of being quick or slow isn’t really relevant.”

Many strong mathematical thinkers, like Laurent Schwartz, think deeply and slowly and like to understand things fully. If you are one of those people do not be put off by people who may be faster, that isn’t important. What is important, to repeat Laurent Schwartz, is to deeply understand things and the way they relate to each other.

It is fine — good even — to think slowly about math and it is really good to think deeply and ask questions that will allow more depth Questions like why does this work? How is this method connected to other methods? What would a drawing of this situation look like? And its important if you are a slower thinker never to think it means you cannot be a math person. It is great to think deeply and carefully, to fully understand, to ask questions, we need those thinkers in math.

Doing well at math is not about being quick or slow. It is about thinking about connections, thinking deeply Laurent Schwartz talks about deeply understanding things. But how do you do that?

In the next and last 3 sessions of the course we are going to give you learning strategies, which will help you learn deeply and well.


http://online.stanford.edu/course/how-to-learn-math-for-students-s14

Written by sunupradana

July 31, 2014 at 9:37 am

Posted in Uncategorized

Mencoba membersihkan noda Ferric Chloride

leave a comment »

Ferric chloride (Iron(III) chloride) adalah bahan kimia yang biasa dipergunakan untuk membuat jalur-jalur pada PCB (sebagai etchant). Gampangnya bisa disebut cairan fero klorid sering dipergunakan untuk “membuat PCB”. Cairan ini sangat korosif, merusak logam. Noda cairan ini susah hilang dari bekas wadah  penyimpan/pencuci PCB,  juga sulit dihilangkan jka mengotori lantai.

Catatan ini mengumpulkan beberapa percobaan sederhana untuk membersihkan noda FeCl3 di lantai tegel/ubin berwarna putih (kemungkinan keramik). Percobaan sangat sederhana tanpa dilandasi ilmu tentang reaksi kimia, jadi mohon dimaklumi dan silahkan memberi masukan.

Untuk keamanan: gunakan kacamata lab (goggle), pelindung wajah (setidaknya masker mulut), sarung tangan yang tahan terhadap asam (acid-resistant gloves).

01. Skenario pertama: bubuk Ferro Chloride tertumpah.
Segera ambil tisu untuk membersihkan bubuk, hindari cairan apapun mengenai daerah tumpahan bubuk. Baru setelah semua bubuk FeCl3 itu disingkirkan, teteskan sedikit air di bekas tumpahan bubuk untuk memastikan tidak ada noda akibat sisa bubuk. Jika ternyata ada tampak noda, ikuti langkah berikut

02. Jika cairan Ferric Chloride (FeCl3) tumpah belum lama (kurang dari dua menit).
Reaksi cairan solusi FeCl3 berbeda-beda pada tiap material, kali ini diasumsikan cairan tumpah di ubin putih. Langkah penanganan pertama adalah dengan membersihkan cairan dengan kain kering. Kain ini alan menjadi “kain korban”, sebab setelah dipergunakan untuk membersihkan cairan FeCl3, kain itu biasanya akan susah untuk dibersihkan seperti sediakala. Usahakan kalau bisa untuk menggunakan sarung tangan tahan asam yang melindungi tangan tetap kering dan terhindar dari kontak dengan cairan.

Kain yang basah oleh cairan FeCl3 diperas, lalu dicelupkan ke dalam ember berisi air bersih plus sabun. Ngepel bisa dilajutkan dan diulangi sampai lantai bersih dari sisa noda. Bisanya kalau tumpahan/bocorannya tidak banyak, cairan FeCl3 tidak sempat meninggalkan noda, tapi jika ternyata meninggalkan noda, langkah coba-coba berikut bisa dilakukan

note: Gambar di atas adalah gambar noda bekas cairan FeCl3 yang sepertinya sudah lama membekas. Bercampur dengan debu dan kotoran hingga seperti berkerak. Jika sudah seperti ini, cooba dibersihkan dulu dengan silet atau pisau cutter.

 

03. Mencoba membersihkan dengan Coca-Cola
Gambar di atas adalah gambar noda bekas tapak kaki kucing yang menginjak genangan cairan FeCl3. Noda ini walau agak samar, cukup susah dihilangkan.

 

Konon menurut berita, Coca-Cola cukup ampuh untuk membersikan noda. Sayangnya beberapa kali mencoba, tampaknya belum berhasil. Barangkali juga jenis Coca-Colanya yang berbeda, entahlah :-) .

04. Mencoba membersihkan dengan cairan pembersih toilet (mengandung HCL)

Beberapa kali mencoba membersihkan bekas tapak kaki kucing yang menginjak rembesan cairan FeCl3, hasilnya cukup lumayan selama nodanya tidak begitu “bandel”. Kadang perlu juga untuk membiarkan larutan di atas noda selama setidaknya 10 menit.

05. Mencoba membersihkan dengan cuka apel

Kekurangan paling utama dari cara ini adalah vinegar yang berupa cuka apel harganya relatif agak mahal. Hanya saja bila dibandingkan dengan cuka meja yang harganya jauh lebih murah, cuka apel yang saya beli ini sepertinya lebih pekat. Beberapa kali tanpa dicampur dengan soda kue (baking soda/sodium bicarbonate), cuka apel ini cukup mampu membersihkan noda FeCl3. Hanya saja untuk noda yang agak “bandel” cairan cuka perlu juga didiamkan beberapa saat di atas noda FeCl3 yang hendak dibersihkan.

 

06. Mencoba membersihkan dengan cuka meja dan baking soda (sodium bicarbonate)

Walaupun sesama cuka, harga cuka meja ini jauh lebih murah. Tetapi sepintas pengamatan saya memang cuka jenis ini tidak sepekat vinegar dari cuka apel. Cara penggunaannya sama, tuang di atas noda Ferric Chloride (FeCl3) pada lantai dan bila perlu bisa ditambahi baking soda.

07. Campuran

Pilihan lain adalah dengan menggunakan campuran bahan-bahan pembersih. Sebagai catatan penting, ada bahan cairan pembersih yang jelas-jelas mencantumkan larangan untuk mencampur cairannya dengan bahan lain. Kalau tidak salah misalnya Forstex. Juga penting untuk berhati-hati terhadap uap jika bahan-bahan itu bereaksi. Gunakan goggle atau setidaknya kaca mata. Hati-hati juga dengan pernapasan, dan jaga jarak aman.

Bagian akhir.

Untuk semua solusi dengan cairan di atas, penting untuk tidak hanya menuangkan cairan tetapi juga perlu menggosok noda misalnya dengan kain. Kadang perlu juga dengan bahan yang permukaannya agak kasar. Kalau tidak ada sikat logam, bisa dengan amplas. Bahkan saya pernah dengan busa PE (polyetheline foam) sisa packing barang.

 

Selamat mencoba disertai dengan kehati-hatian.
Kata kunci: Ferric Chloride, FeCl3, spill, leak, hazard, wipe, mop, baking soda, vinegar

Bacaan Lanjut:
[01] http://en.wikipedia.org/wiki/Iron%28III%29_chloride
[02] http://www.instructables.com/id/Stop-using-Ferric-Chloride-etchant!–A-better-etc/?ALLSTEPS
[03] http://blogs.eciad.ca/printmedia/files/2008/03/working-with-ferric-chloride.pdf
[04] http://www.neu.aeroweb.net/download/kostasSafetyandcleanroomprotocol.pdf
[05] http://cleanroom.ien.gatech.edu/media/uploads/msds/327.pdf

 

[06] http://www.seenox.com/2014/05/06/why-coca-cola-doesnt-belong-to-the-human-body-50-example-of-use-in-your-household/

[07] http://www.laminateflooringmanufacturers.com/cleaning-laminate-flooring.htm

[08] http://www.ehow.com/how_8063744_use-cocacola-clean-concrete.html

[09] http://www.businessinsider.com.au/51-alternative-uses-for-coca-cola-2013-6

 

[10] http://www.huffingtonpost.com/amanda-greene/baking-soda-vs-baking-powder_b_3443120.html
[11] http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_bikarbonat

[12] http://www.thekitchn.com/pantry-basics-whats-the-differ-40514

[13] chemistry.about.com/cs/foodchemistry/f/blbaking.htm

[14] http://culinaryarts.about.com/od/bakingdesserts/a/Baking-Soda-And-Baking-Powder.htm

[15] http://food.detik.com/read/2013/11/19/173441/2417528/297/soda-kue-dan-baking-powder-apa-bedanya

[16] http://ala-rinarinso.blogspot.com/2011/07/perbedaan-dan-persamaan-baking-soda.html

 

[17] http://limbahrumahbersih.org/2013/02/09/20-alasan-untuk-selalu-sedia-baking-soda/

[18] http://www.kaskus.co.id/thread/51f199807b1243ab3e000003/20-manfaat-lain-dari-soda-kue-aka-baking-soda

Written by sunupradana

May 17, 2014 at 8:07 pm

Menunggu, memilih yang lebih sesuai

leave a comment »

Waktu sekolah di Malang saya pernah menemani bapak yang berkunjung untuk pergi ke kebun anggrek. Kebun itu dipergunakan juga sebagai tempat persilangan varietas anggrek, dilengkapi dengan semacam laboratorium kecil untuk kultur jaringan (seingat saya). Kebun yang ditengahnya rumah huni itu dimiliki oleh seorang pria yang berhenti dari pekerjaannya (lagi, seingat saya) untuk mengembangkan bisnis anggreknya.

Bapak dan pemilik kebun bercerita panjang lebar, yang detailnya tentu tidak saya ingat lagi karena waktu itu pun saya tak sepenuhnya paham. Intinya tentang budi daya anggrek, beliau berdua “orang pertanian” sedangkan saya sebagai pendengar yang sopan. Selang waktu berlalu, si bapak pemilik kebun beralih kepada saya untuk bercakap-cakap sejenak, barangkali sebagai selingan, sekedar bersopan santun. Dia bertanya bidang yang saya pelajari di Malang. Saya bercerita apa adanya bahwa saya belajar tentang elektronika. Rupanya si bapak dulunya berada di bidang yang kurang labih sama. Beliau menanyakan mengapa saya memilih bidang itu. Menurutnya elektronika itu bidang yang melelahkan, Karena orang dituntut untuk up-to-date, terus menerus belajar dan belajar sesuatu yang baru untuk menggantikan apa yang telah sebelumnya dipelajari. Saya paham maksudnya, di elektronika sulit untuk bertahan hanya dengan apa yang sudah dipelajari sepuluh tahun yang lalu. Tentu saja persisnya akan bervariasi dari satu bidang kerja ke bidang kerja lain, tapi pola umumnya sama.

Bapak pemilik kebun bercerita mengapa dia memilih bidang pertanian dan menyarankan saya untuk beralih ke bidang biologi.Sebagai refleksi, sekarang, saya memahami bahwa pertanian dan biologi juga adalah bidang yang dinamis. Ada banyak penemuan, perkembangan dan perubahan dalam bidang pertanian, apalagi biologi. Barangkali maksud bapak pemilik kebun adalah bagaimanapun kedua bidang tersebut di tataran praktik lokal masih lebih ajek daripada elektronika. 

 

MICROPROCESSOR, MICROCONTROLLER, CPLD & FPGA

Sewaktu mendekati tugas akhir ada beberapa teknologi yang relatif baru di lingkup lokal yang sedang boom. Waktu itu, pak Soetikno gencar memperkenalkan dan mengajarkan beberapa teknologi baru kepada para mahasiswa. Beberapa tampaknya tertarik untuk menekuni lebih lanjut. Seperti segala sesuatu yang masih hot tampaknya mudah untuk tertarik segera jump in. Yang baru, yang lebih modern tampaknya akan pasti segera menjadi the next big thing. Kenyataannya tidak selalu :-).

Filosofi dasar engineering yang kadang tertutup nafsu dan karenanya diabaikan adalah bahwa engineering tidak hanya selalu tentang apa-apa yang paling canggih. Tapi merupakan trade-off setidaknya dari segi waktu, biaya, manusia, dan ketersediaan.

Sewaktu CPLD dan FPGA sedang menjadi idola untuk didalami, saya pun sempat tergoda. Saat itu minimum system berbasis microprocessor 8088 sudah usang.  Teknologi yang stabil dan banyak dipergunakan umumnya berbasis mikrokontroler. CPLD dan FPGA tampaknya akan segera menggantikan microcontroller. Kalau tidak ingin “ketinggalan kereta” tampaknya segera mendalami adalah pilihan satu-satunya. Tapi tunggu sebentar…

Dari dulu saya tidak meragunakan kecanggihan dan potensi solusi yang ditawarkan oleh CPLD & FPGA, khususnya FPGA. Sampai sekarang masih terbukti bahwa FPGA banyak dipergunakan di industri. Juga banyak dipergunakan di perguruan tinggi (khususnya di perguruan tinggi besar) sebagai sarana atau alat bantu penelitian. Sebagai penelitian, CPLD & FPGA juga membuka peluang baru karena penelitian di berbagai arsitektur mikrokontroler klasik sudah jenuh, terlalu banyak laporan penelitian yang membahas pokok bahasan yang sama :-D.

Tapi seperti yang saya ungkapkan pada beberapa paragraf sebelumnya, engineering tidak hanya tentang kecanggihan dan kebaruan. Waktu itu saya mencari sebanyak informasi yang saya bisa untuk saya cerna. Seperti seseorang pernah menulis di sebuah forum (tentang sebuah program EDA/CAE yang gratis), bahkan jika suatu program komputer adalah program gratis…sumber daya (terutama waktu) yang anda pergunakan untuk mempelajarinya, tidaklah gratis. Sebelum saya menghabiskan sumber daya saya untuk sesuatu, setidaknya saya mencoba memastikan…is it worth it?

Saat itu saya melihat teknologi CPLD & FPGA memang hebat, canggih tapi tidak layak buat saya. Mengapa? Saya selalu tertarik dengan banyak hal, saya selalu ingin belajar banyak hal. Tetapi menguasai banyak hal teknis jelaslah tidak mungkin, saya harus memilih. Komponen, perangkat dan sistem CPLD/FPGA harganya sangat mahal susah dicari di pasaran lokal. Perkiraan saya waktu itu, untuk sesuatu yang sifatnya niche market harga mahal itu tidak akan segera turun di waktu beberapa tahun ke depan, perkiraan saya tidak meleset. Sekarang anda masih bisa menemui mikrokontroler berarsitektur MCS51, AVR atau bahkan PIC di toko komponen elektronika yang cukup lengkap di beberapa kota. Tapi seberapa banyak tersedia chip FPGA di sana? Mungkin harus pergi ke Bandung atau ngubek Glodok Jakarta :-). Seberapa banyak tersedia di toko online di Indonesia?

 

GAIB

Elektronika, sebatas sedikit pemahaman saya, adalah “ilmu gaib” :-D. Gaib dalam hal bahwa  elektron sendiri, selama berpuluh-puluh tahun tidak terlihat mata manusia. Belakangan para ilmuwan konon berhasil membuat film menangkap elektron yang sedang bergerak. Selama ini manusia belajar mengendalikan efek dari keberadaan dan pergerakannya.

Yang gaib di electronics engineering bukan cuma tentang keberadaan elektronnya itu sendiri. Memperkirakaan teknologi yang bakal thriving beberapa tahun ke depan juga kadang menjadi semacam ilmu gaib. Pencarian informasi, analisis, untuk dapat memprediksi sudah dikenali lebih sebagai seni. Dan kadang lebih dari seni, upaya memprediksi apa yang mungkin unggul apa yang bakal tenggelam sudah seperti “perdukunan”. Banyak noise di kumpulan informasi, semua pihak yang perkepentingan pada suksesnya produk atau teknologi akan berupaya berpromosi mati-matian, kadang mengaburkan fakta dengan iklan.

 

SUMBER DAYA

Selain seni dan “perdukunan” upaya untuk memprediksi teknologi tepat guna adalah perjudian yang rutin. Perusahaan, apalagi perusahaan modal cekak atau yang kasnya sedang mepet, pelit untuk memberikan alat kerja…kecuali sangat terpaksa. Apalagi untuk melakukan upgrade pada peralatan yang sudah ada. Kawan yang bekerja di pabrik produk pangan dengan penanaman modal asing bercerita lain lagi, selama proposal yang diajukan bisa meyakinkan sebagai perbaikan produksi, biasanya pengadaan akan berjalan lancar.

Bagaimana di institusi pemerintah? Sulit dibantah ada pengakuan bahwa sekalipun anggaran terbatas, tetap saja instasi pemerintah dianggap lebih longgar dalam pengadaan barang bila dibandingkan dengan perusahaan yang hidupnya jelas diatur untuk profit. Sungguh pun begitu yang sering dilupakan, anggaran itu diperebutkan banyak pihak. Ada yang mau dapat laptop baru, ada yang perlu layar monitor baru…dan seterusnya. Akhirnya sama saja, teknologi baru belum tentu dapat diikuti.

Yang paling mengenaskan, setidaknya bagi beberapa, adalah untuk pribadi. Kalau tidak punya penghasilan tetap yang besar (dengan pengeluaran kecil, hehehe) atau bisnis sampingan sumber daya keuangan bisa jadi amat terbatas. Memilih yang paling cocok dari sekian banyak produk dan teknologi bisa jadi seni, “perdukunan”. dan perjudian tersendiri yang menyita waktu.

Teknologi elektronika terus berkembang sangat cepat, sementara sumber daya yang saya miliki tidak berkembang secepat itu. Saat teknologi CPLD dan FPGA booming di kampus, saya mengkaji den menilai bahwa untuk konfigurasi sumber daya saya (termasuk lingkungan) kedua teknologi itu tidak layak saya pelajari. Saya berjudi, bertaruh bahwa teknologi berbasis mikrokontroler jauh lebih layak untuk saya pelajari saat itu. Pertaruhan saya terbukti benar. Bahkan bertahun-tahun kemudian, teknologi mikrokontroler masih lebih berdaya guna. Bukan karena teknologinya yang paling canggih tapi karena trade-off dari berbagai faktor. Arsitektur, kehandalan, ketersediaan, harga dan kemudahan, semuanya menentukan.

 

ARDUINO, RASPBERRY PI, BEAGLEBONE, INTEL GALILEO

Setelah Arduino, beberapa board untuk sistem elektronik bermunculan. Ini tipikal untuk electronics engineeing, selalu berubah dan berkembang cepat seperti apa kata bapak pemilik kebun anggrek pada awal tulisan ini. Sama pula seperti saat heboh CPLD & FPGA di kampus dulu, sumber daya yang terbatas menuntut untuk saya melakukan “perdukunan” dan “perjudian”, mencari informasi…menganalisa…dan mengira-ngira apa yang bakal terjadi di depan.

Saat heboh Raspberry Pi, banyak reviewer dan analis yang mengungkapkan plus minus sistem ini. Sedari awal tujuan utama sistem ini dirancang sebagai sarana untuk belajar pemrograman sistem komputer. Tidak dirancang untuk sistem kendali seperti Arduino, keduanya memang dirancang dari awal untuk tujuan yang berbeda. Hanya saja karena harganya yang relatif murah, pendobrak pasar dan publikasi, banyak orang yang tertarik dan membelinya. Setelah memilikinya tentu banyak penghobi yang melakukan otak atik bahkan di luar tujuan penggunaan yang sesungguhnya.

Begitu pula BeagleBone Black, sistem ini satu rumpun dengan Raspberry Pi, berharga lebih murah dari BeagleBone terdahulu dan memiliki lebih  banyak GPIO (input/output) dari Raspberry Pi. Sistem ini adalah SBC masih berbeda peruntukan dengan Arduino.

Dulu saya menduga suatu hari nanti ada sistem yang merupakan pertemuan dari sistem semacam Raspberry Pi yang memiliki kemampuan komputasi yang cukup besar dengan sistem berbasis mikrokontroler seperti Arduino (Uno/Leaonardo/Mega/Due/Yun). Bukan hal yang unik, banyak orang lain juga memprediksi hal serupa, ini trend dan pola yang logis. Hanya perlu bersabar untuk membuktikan apakah spekulasi itu benar. Dan terbukti benar :-D

Intel bekerjasama dengan Arduino merilis Arduino/Intel Galileo dan TRE. Saya tidak menduga sistem hibrid itu benar-benar datang langsung dari Intel dan Arduino. Tadinya saya mengira akan ada pihak ketiga yang melihat peluang dan memproduksi sistem impian saya itu. Sekarang saya bertaruh dengan Intel Galileo (sambil menunggu TRE). Apakah pertaruhan kali ini masih berhasil seperti yang terdahulu? Entahlah, masih harus dicoba untuk dibuktikan.

 

galileo

 

Moral sederhana dari cerita yang lumayan panjang ini adalah kadang-kadang (atau sering) dengan sumber daya yang terbatas saya harus benar-benar memeras otak. Tidak semua atau sebagian besar kemajuan teknologi bisa diikuti dengan menggunakan atau bahkan mengorbankan seumber daya. Memilih teknologi yang tepat guna, layak (feasible) sekaligus punya masa depan yang cerah adalah seni, “perdukunan” dan perjudian. Kadang perjudian besar :-). Di dunia elektronika sistem dan teknologi kadang muncul, bersinar dan tenggelam tidak sampai satu dekade. Tidak semua teknologi canggih berdaya guna untuk konfigurasi yang ada. Beda tempat, beda orang, beda kebutuhan, beda sumber daya maka beda pula kelayakan aplikasi suatu teknologi.

Salah satu tugas engineer adalah mencermati perkembangan teknologi untuk organisasinya. Mana teknologi yang mengancam dan mana yang berpotensi untuk memperkuat dan menguntungkan di masa depan. Sangatlah tidak mudah untuk dilakukan, para futurist dari perusahaan besar saja masih sering salah, meleset dalam memprediksi. Sungguh pun begitu memprediksi adalah kegiatan yang penting, menentukan masa depan.

Tugas para pelatih dan pendidik adalah untuk memperkenalkan dan membiasakan para engineer masa depan untuk melakukan kegiatan ini. Sebagian murid akan mampu melakukannya lebih baik dari yang lain bahkan dari gurunya. Masing-masing orang punya konfigurasi yang berbeda, sebagian lebih tepat untuk bidang-bidang tertentu dan sebagian untuk bidang lainnya. Tiga unsur utama konfigurasi adalah rasa ingin tahu (curiosity), tidak mudah percaya (skepticism), dan pikiran terbuka (open-mindedness).

Tiga unsur di atas penting bagi para engineer dan pendidik. Sebenarnya tiga sikap itu bisa menjadi ciri dari sifat mereka yang bergelut dan menghayati engineering.

Tanpa rasa ingin tahu (curiosity) bisa diduga orang akan abai, bahasa gaulnya cuek-bebek terhadap perkembangan teknologi, enggan untuk belajar dan merasa sudah pintar dan ahli. Tanpa sikap tidak mudah percaya (skepticism) seseorang akan mudah untuk mem-beo. Meng-amini, mengiyakan apa saja yang dipublikasikan oleh para produsen tanpa mau memeriksa bahwa sesungguhnya yang diduga informasi adalah iklan dan promosi semata. Sikap skeptis menuntun orang pada pertanyaan seperti,”Apa benar?” Sikap berpikiran terbuka membuat orang tidak hanya mendasarkan analisanya pada satu sumber saja. Orang yang berpikiran terbuka akan mencari sebanyak mungkin informasi yang bisa diperoleh mengenai teknologi yang sedang dikaji. Jumlah dan lama pencarian tentu berdasarkan tingkat resiko dan kompleksitas. Semakin besar potensi bahaya (resiko) semakin banyak informasi perlu dicari. Mereka yang terbiasa hanya mengandalkan satu sumber akan mudah terjebak, tanpa perbandingan. Produsen biasa memasukkan promosi halus dalam balutan berupa informasi yang menarik, seringkali dikeluarkan oleh pihak lain sehingga tidak mudah dideteksi.

 

Bacaan lanjut:

[1] “Complex programmable logic device,” Wikipedia, the free encyclopedia. 08-Apr-2014 [Online]. Available: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Complex_programmable_logic_device&oldid=594877046. [Accessed: 10-Apr-2014]

[2] J. B. says, “How-to: Programmable logic devices (CPLD),” Hack a Day. [Online]. Available: http://hackaday.com/2008/12/11/how-to-programmable-logic-devices-cpld/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[3]“Field-programmable gate array,” Wikipedia, the free encyclopedia. 09-Apr-2014 [Online]. Available: http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Field-programmable_gate_array&oldid=603481677. [Accessed: 10-Apr-2014]
[4]“fpga4fun.com – What are FPGAs?” [Online]. Available: http://www.fpga4fun.com/FPGAinfo1.html. [Accessed: 10-Apr-2014]

[5]“When can FPGA’s be used and Microcontrollers/DSPs not?” [Online]. Available: http://electronics.stackexchange.com/questions/97277/when-can-fpgas-be-used-and-microcontrollers-dsps-not. [Accessed: 10-Apr-2014]
[6]“How to Choose the Right Platform: Raspberry Pi or BeagleBone Black?,” MAKE. [Online]. Available: http://makezine.com/magazine/how-to-choose-the-right-platform-raspberry-pi-or-beaglebone-black/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[7]“Arduino Announces Two new Boards: Galileo and TRE,” MAKE. [Online]. Available: http://makezine.com/2013/10/03/arduino-announces-two-new-linux-boards/. [Accessed: 10-Apr-2014]

[8]S. Pearson, “Arduino collaborates with Intel to create the Galileo.” [Online]. Available: http://makerflux.com/arduino-collaborates-intel-create-galileo/. [Accessed: 10-Apr-2014]
[9]T. Klosowski, “How to Pick the Right Electronics Board for Your DIY Project,” Lifehacker. [Online]. Available: http://lifehacker.com/how-to-pick-the-right-electronics-board-for-your-diy-pr-742869540. [Accessed: 10-Apr-2014]
[10], “5 Suggestions for Better STEM Education, From Students [full article]” Mashable. [Online]. Available: http://pikirsa.wordpress.com/2014/05/15/5-suggestions-for-better-stem-education-from-students-2/

Written by sunupradana

May 17, 2014 at 7:44 pm

Packing instrumen ala kadarnya

leave a comment »

Transit Case

 

Transit case

Beberapa kali mengunjungi Ace Hardware, saya selalu tertarik pada transit case. Tas kotak itu dirancang khusus untuk agar keselamatan peralatan yang dibawa di dalamnya tetap terjaga. Sayangnya harga transit case, buat saya, amat mahal…tidak terjangkau. Padahal saya perlu kotak semacam itu untuk membawa instrumen seperti oscilloscope dan multimeter. Juga banyak papan sistem elektronik yang riskan retak atau patah.Ada masalah dan solusinya harus ditemukan. Cara paling masuk akal adalah dengan memperhatikan cara-cara standar yang diterapkan perusahaan pengiriman barang. Dua yang paling gampang diingat FedEx dan UPS. FedEx telah menyusun beberapa dokumen dalam format pdf, dilengkapi gambar yang jelas sehingga mudah untuk diikuti atau dijadikan inpirasi.

Toko Liman di Jalan Malioboro

Solusi murah meriah ternyata bisa didapatkan dengan menggunakan kotak gabus, pembungkus gelembung udara dan busa PE. Di kota Jogja, toko Liman cukup dikenal banyak orang yang sering berurusan dengan segala hal menyangkut perlengkapan rumah dan aksesoris. Saya tahu toko ini dari tukang jahit ketika memperbaiki tas. Tadinya saya hanya mencoba-coba untuk menanyakan apakah toko ini menjual busa yang bisa dipakai sebagai ganjal peredam. Ternyata untuk keperluan semacam ini, toko ini terbilang lengkap. Saya tidak bermaksud promosi, hanya supaya yang berkepentingan nantinya bisa mudah memperoleh yang diperlukan di satu tempat, tidak perlu berkeliling kota lagi :-D.

 

 

Kotak gabus / styrofoam box / stryrofoam cooler / foam cooler box diletakkan di bagian depan toko. Kotak gabus bisa dijadikan wadah sebelum pelindung akhir berupa kotak kayu (jasa pemaketan di kantor pos), atau lebih baik lagi jika ditambahi kotak karton/kardus.

 

 

Bubble wrap berupa lembaran plastik yang padanya terdapat kantong-kantong udara kecil. Gelembung kecil udara ini berfungsing sebagai shock absorber, sebagai bantalan untuk menyerap benturan. Di toko Liman, gulungan yang bisa dibeli per meter ini ada di lantai dua.

 

 

IMG_20140330_132020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Busa PE / PE foam / Polyethylene foam ada di lantai dua toko Liman. Fungsinya hampir sama dengan bubble wrap, tetapi umumnya lebih kuat. Busa PE ini juga lebih baik dalam hal melindungi dari goresan. Busa PE dijual dengan beberapa ketebalan yang bisa dipilih.

 

 

IMG_20140330_132047

Terakhir adalah busa pelapis yang umum bisa ditemukan bahkan di toko kertas. Di toko Liman ada dua jenis, warna kuning dan warna hitam yang lebih rigid (keras). Kedua jenis punya beberapa pilihan ketebalan.Sebenarnya di toko Liman juga dijual bola-bola gabus. Ini biasanya dipakai sebagai pengisi ruang kosong (void) sehingga benturan bisa diredam lebih baik dengan cara disebar merata. Sayangnya di toko ini hanya tersedia yang ukurannya kecil, saya khawatir butiran ini bisa masuk ke dalam kotak instrumen. Selain itu takaran jualnya perkilo, ukuran bungkusnya lumayan besar untuk dibawa dengan motor. Saya memilih busa biasa yang tebal sebagai pengganti, di beberapa bagian bisa dipakai busa tipis, bubble wrap atau busa PE.

 

 

Demikian semoga bermanfaat.

[1]“battery_brochure.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/downloads/shared/packagingtips/battery_brochure.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[2]“BatteryShipments_fxcom.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/packaging/guides/BatteryShipments_fxcom.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[3]“Computer_fxcom.pdf – Computer_fxcom.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/packaging/guides/Computer_fxcom.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[4]“GrlPkgGuidelines_fxcom.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/services/pdf/packaging/GrlPkgGuidelines_fxcom.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[5]“How_To_Pack.pdf.”  [Online]. Available: http://images.fedex.com/us/services/pdf/How_To_Pack.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[6]“Microsoft Word – How To Pack Brochure_eng_15_07_2005.doc – howtopack.pdf.”  [Online]. Available: http://www.fedex.com/downloads/hk_english/packagingtips/howtopack.pdf. [Accessed: 29-Mar-2014]

[7]“Packaging Tips | How to Pack a Box | Packaging Guide – FedEx Canada.”  [Online]. Available: http://www.fedex.com/ca_english/shippingguide/preparepackage/. [Accessed: 29-Mar-2014]

[8]“UPS: Packing Materials.”  [Online]. Available: http://www.ups.com/content/us/en/resources/ship/packaging/materials/index.html?srch_pos=167&srch_phr=en. [Accessed: 29-Mar-2014]

[9]http://en.wikipedia.org/wiki/Bubble_wrap[10]http://www.wisegeek.com/what-is-polyethylene-foam.htm[11]https://www.tigerpak.com/bin/wkf?PRODUCT+page=polyethyleneFoamRolls  

Written by sunupradana

May 17, 2014 at 6:58 pm

Posted in Gadgets, Sisi ringan

Tagged with , , ,

5 Suggestions for Better STEM Education, From Students [full article]

with one comment

Although demand for workers with STEM qualifications has only grown in recent years, a minority of students elect to pursue science, technology, engineering, and mathematics in high school and college. To spark a discussion about how US schools can motivate more students to The USA Science and Engineering Festival brought together its youth advisors for a Twitter chat on April 17th. During the discussion, several themes emerged — suggestions about how to improve STEM education from the very people who stand to benefit from that training.

Schools are focusing too much on memorization and not enough on problem-solving, killing student interest in STEM topics early.

“It would be great if schools allowed kids to solve real problems, to learn by doing,” said Erik Martin. “My education did not aid interest, or work at all—huge failure there.”

In contrast, he says “making games is a great way to get into the tech space!” He knows this firsthand; in his 2013 TEDxRedmond talk, “How World of Warcraft Saved Me and My Education,” Erik described finding resilience, curiosity, and courage in gaming that he’d never had the chance to find in school.

“The most wonderful of art forms – from the resilient tardigrades to the billions of neuronal connections that we call consciousness, fascinate me. But sometimes, that beauty can disappear,” said Omar Abudayyeh, a Harvard MD/PhD student, commenting on the vast stores of information that medical school forces students to commit to memory.

To provide those opportunities for problem-solving, schools need to let students conduct science research projects—early and often.

“Student-led research is better than the current ‘bulimic’ education system which advocates rote memorization,” said cancer researcher — and high school student — Jack Andraka. Jack found his first research opportunities outside of school by contacting hundreds of university professors for lab space. Param Jaggi, founder of a green tech startup, said, “Learn by doing. Education should not be restricted to a classroom or a textbook. Some science and tech concepts only come to life in the lab.”

Grown-up teachers aren’t the only teachers in the room—peer-to-peer learning can be leveraged for incredible gains in STEM education.

This semester I took my first-ever Computer Science and Engineering class. As I squinted at seemingly incomprehensible lines of C, shook my fist when code failed to compile, wrestled with wires, and tried to learn all the curves and edges of my Arduino, my saviors weren’t my teachers or even Wikipedia—they were my classmates. Peer-to-peer learning is powerful. Yet, as Erik Martin said, “peer-to-peer is something educational technology often overlooks.”

Schools need to approach science education as more than a way to prepare future doctors and engineers; STEM is about satisfying human curiosity.

I’ve oftentimes described myself as a “humanities kid.” It was easy, convenient, and gave me the peace of mind I needed to tune out during biology lectures with the attitude “I’m not going to be a scientist, so why bother?” I realized later that STEM was about more than creating future scientists, but school rarely gave me a compelling “why care” for science that didn’t have to do with career paths.

As Jack Andraka said, “science satisfies the innate curiosity of humans—however, schools do not teach it this way.” This rings true with me. I pushed away mathematics textbooks and evaded AP science classes until my senior year. It was only innate, human curiosity that made me interested in STEM—it was asking questions, making cool things happen with code, and falling in love with the universe the nights as I watched meteor showers streak across the sky.

Failure is life’s built-in educator

“Failure is sometimes necessary and unavoidable, and most often there’s a lesson to be learned that can be applied towards achieving future success,” said Parker Liautaud, a leader of polar research expeditions. “For me, not reaching the North Pole was by far the worst failure of my life.” Despite the important role of failure in life, school and society tends to “put everything into two boxes: success or failure. But I believe there’s a third box and it’s called Not Trying,” remarked UC Berkeley University Medalist Ritankar Das, during his address to Cal’s Class of 2013 graduates. At 18, he was Berkeley’s youngest top graduating senior in a century. He went on to say, “Fundamentally, everyone harbors great ideas, yet most of us ignore them out of fear of failure.”

Although not everyone is a classroom teacher who can change the way a student learns on a day-to-day basis, anyone with access to technology can pitch in to help mentor the up-and-coming scientists and engineers of the future. Through sharing personal stories of success (and failure!) in STEM to encourage young people, and offering mentoring via email, Google Hangouts, or other mediums, adults around the world can help reimagine STEM learning and teaching, one inspired student at a time.

Adora%2520svitak-1667

Written by sunupradana

May 15, 2014 at 9:10 pm

5 Suggestions for Better STEM Education, From Students

leave a comment »

“Schools need to approach science education as more than a way to prepare future doctors and engineers; STEM is about satisfying human curiosity.”

5 Suggestions for Better STEM Education, From Students – http://pulse.me/s/1d2swd

Written by sunupradana

May 15, 2014 at 8:57 pm

Posted in Pendidikan, Science

Tagged with ,

TEDxUIUC – David E. Goldberg – 7 Missing Basics of Engineering

leave a comment »

Written by sunupradana

May 1, 2014 at 10:23 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 83 other followers